Apakah Kamu Juga Sedang Berputar di Tempat?

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ada sebuah kisah perumpamaan tentang Tang Seng (Xuanzang) saat menempuh perjalanan mengambil kitab suci ke Barat.

Kuda putih yang ditunggangi Tang Seng sebenarnya hanyalah seekor kuda biasa milik sebuah penggilingan di Kota Chang’an.

Kuda ini tidak memiliki keistimewaan apa pun. Sejak lahir, hidupnya hanya dihabiskan di penggilingan: tubuhnya kuat, tahan banting, rajin bekerja, dan tidak pernah membuat masalah.

Tang Seng dalam hati berpikir:  Perjalanan ke Barat sangat jauh. Saat berangkat, aku membutuhkan tunggangan; saat kembali, aku harus memikul kitab suci. Ditambah lagi, kemampuan berkudaku tidak terlalu baik. Lebih baik memilih kuda yang setia dan dapat diandalkan.”

Setelah menimbang dan memilih berkali-kali, akhirnya ia memilih kuda dari penggilingan itu.

Sekali berangkat, perjalanan itu memakan waktu tujuh belas tahun.

Ketika Tang Seng kembali ke tanah Dinasti Tang, dia telah menjadi tokoh legendaris yang dikenal di seluruh negeri.

Kuda putih itu pun ikut menjadi pahlawan besar dalam perjalanan mengambil kitab suci, dan dipuji sebagai “Kuda Terbaik Dinasti Tang.”

Kuda putih itu pulang dengan penuh kehormatan, kembali ke penggilingan lamanya untuk menemui para sahabat lama.

Sekelompok keledai dan kuda tua mengerumuninya, mendengarkan kisah perjalanan ke Barat serta kejayaan yang kini diraihnya. Semua merasa kagum dan iri.

Namun kuda putih itu berkata dengan tenang:  “Saudara-saudara, aku sebenarnya tidaklah luar biasa. Aku hanya beruntung dipilih oleh Guru Xuanzang, lalu melangkah sedikit demi sedikit ke Barat dan kembali ke Timur.”

“Selama tujuh belas tahun ini, kalian juga tidak menganggur. Bedanya, kalian hanya berputar-putar di sekitar rumah.”

“Sesungguhnya, setiap kali aku melangkah satu langkah, kalian juga melangkah satu langkah. Jarak yang kita tempuh sama panjang, dan lelahnya pun sama.”

Mendengar itu, semua keledai dan kuda terdiam.

Benar juga. Mereka tidak malas, tidak berhenti bekerja. Lalu mengapa orang lain bisa berhasil dan terkenal, sementara mereka tetap seperti semula?

Kisah ini sungguh menggugah.

Jika kamu berjalan mengelilingi satu ruangan berulang-ulang, kamu bisa menempuh ratusan kilometer. Namun, seberapa lama pun kamu berjalan, kamu tidak akan pernah keluar dari ruangan itu.

Sebaliknya, jika kamu tahu di mana pintunya, maka kamu bisa keluar dengan sangat cepat.

Sepanjang hidup, kita sering kali hanya berputar-putar… satu lingkaran demi satu lingkaran. Kita seperti keledai dan kuda itu—sibuk setiap hari, tidak pernah benar-benar diam.

Masalahnya bukan karena kita tidak berusaha, melainkan karena kita tidak tahu untuk apa kita berusaha. Kita menderita sepanjang hidup, tetapi selain rasa sakit, seolah tidak memperoleh apa-apa.

Hampir semua orang terjebak di dalam lingkaran itu.

Fyodor Dostoevsky pernah berkata: “Aku hanya takut satu hal: aku takut tidak memahami penderitaan yang kualami.”

Dia benar. Jika kamu sudah menderita, yang kurang hanyalah kemampuan memahami makna di balik penderitaan itu.

Jangan sampai kamu menderita dengan sia-sia. Jika tidak, lingkaran itu pasti akan berulang kembali.

Psikolog Viktor Frankl pernah menulis: “Hidup adalah penderitaan, dan makna hidup adalah menemukan makna dari penderitaan itu.”

Proses bertumbuh itu menyakitkan. Namun semakin kamu bertahan dalam proses transformasi batin ini, semakin kamu akan merasakan kegembiraan, ketenangan, dan kebijaksanaan menembus ke dalam dirimu—dan pada akhirnya, kamu bisa keluar dari penderitaan.

Penderitaan terbesar dalam hidup adalah pertumbuhan diri, dan kebahagiaan terbesar dalam hidup juga adalah pertumbuhan diri— selama kamu menemukan maknanya.

Ada sebuah ungkapan: Mengikuti orang yang tepat akan membawamu ke surga; mengikuti orang yang salah bisa menghancurkan hidupmu.

Alasan utama kuda putih bisa menjadi “Kuda Terbaik Dinasti Tang” adalah karena dia mengikuti orang yang tepat—dia dipilih oleh Tang Seng sebagai tunggangan, sehingga memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan perjalanan besar itu.

Namun, kesempatan itu tidak datang begitu saja.

Mengapa kuda putih bisa terpilih? Karena hakikat dirinya.

Apa itu hakikat? Kemampuan, stamina, ketahanan, kestabilan emosi, serta kesesuaian dengan kebutuhan Tang Seng. Karena kualitas dasarnya unggul, dia memiliki peluang untuk “mengikuti orang yang tepat”.

Sebaliknya, jika seseorang memiliki hakikat yang lemah, sekalipun diberi kesempatan sukses, pada akhirnya ia akan tersingkir karena ketidakmampuan.

Seperti halnya pada masa Buddha—banyak pengikut di sekelilingnya, tetapi saat Buddha mencapai pencerahan, hanya sedikit yang bertahan sampai akhir. Begitu pula rombongan yang mengikuti Tang Seng mengambil kitab suci—jumlahnya banyak, tetapi yang benar-benar menyelesaikan perjalanan itu hanya segelintir.

Mereka sebenarnya sudah mengikuti orang yang tepat, tetapi karena kualitas diri yang belum cukup, mereka menyerah di tengah jalan.

Kesuksesan bukanlah kebetulan. Dia adalah hasil dari perpaduan berbagai faktor.

Dalam kisah ini, kuda putih dengan rendah hati berkata: “Aku melangkah satu langkah, kalian juga melangkah satu langkah.”

Namun menurutku, dunia luar penuh dengan ketidakpastian—hal-hal yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang hanya hidup nyaman dengan makan, minum, dan tidur di dalam ruangan.

Kuda putih memang melangkah maju setahap demi setahap, dan kuda di penggilingan juga melangkah setahap demi setahap— tetapi yang satu maju ke depan, sementara yang lain berputar di tempat.

Di antara keduanya terdapat perbedaan besar: risiko, krisis, terpaan angin dan hujan, serta tantangan hidup nyata.

Berapa banyak orang yang benar-benar mampu melewati semua itu dari awal hingga akhir?

Maka, sebelum iri pada orang lain, lihatlah diri sendiri. Apakah kualitas dasarmu sudah cukup baik? Jika sudah… lalu, apakah kamu sudah mengikuti orang yang tepat?

Gunakan sudut pandang yang berbeda untuk membaca sebuah kisah. Bangkitkan kebijaksanaan batinmu. Jangan hanya melihat permukaan—lihatlah makna yang tersembunyi di baliknya.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Ekraf Dorong Pegiat Kreatif Lampung Naik Kelas dan Go Global
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Uang Bukan Alasan, Legenda Bayern Munchen Yakin Kane Bertahan
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Racik Petasan dari Toko Online, 2 Anak di Grobogan Terluka Akibat Ledakan | SAPA PAGI
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Pramono Janji Bikin Jakarta Jauh Lebih Meriah Sambut Ramadan dan Idul Fitri
• 23 jam laludetik.com
thumb
Empat Perumahan di Semarang Atas Dihajar Banjir Bandang Hingga Dua Meter
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.