Lima Perusahaan Asal China Lolos Tender Proyek Waste to Energy Danantara

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) telah memasuki fase tender dengan partisipasi 24 perusahaan internasional berpengalaman.

Tahap pertama proyek WtE yang dikelola Danantara Indonesia difokuskan pada empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta, yang dinilai paling siap secara administratif, serta memiliki volume sampah yang mendesak untuk ditangani.

Proyek ini memasuki tahap krusial dengan rencana pengumuman pemenang tender pada akhir Februari 2026.

Danantara Indonesia melakukan peninjauan terhadap lebih dari 200 perusahaan dalam Daftar Penyedia Teknologi (DPT), di mana 24 perusahaan dari Tiongkok, Prancis, Jepang, Singapura, dan Hong Kong dinyatakan lolos seleksi.

Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menegaskan bahwa perusahaan yang mengikuti tender diwajibkan membentuk konsorsium guna mendorong transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemerintah daerah.

“Adanya konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemda, ” ujar Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, dalam keterangannya dikutip Senin (16/2).

Fadli juga menegaskan WtE ini bukan hanya sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari kebijakan publik lintas sektor.

“Kami juga ingin memastikan bahwa terjadinya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya

Berikut adalah profil lima perusahaan asal Tiongkok yang lolos fase tender tersebut:

1. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd.

Perusahaan ini merupakan spesialis WtE yang berdiri sejak 2009 dan tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Saham Shanghai. Sanfeng Environment dikenal sebagai pemegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH (Jerman) yang kemudian dilokalisasi untuk memproduksi peralatan inti secara mandiri. Hingga akhir 2023, teknologi mereka telah diterapkan di lebih dari 250 proyek WtE di berbagai negara. Selain sebagai penyedia teknologi, mereka berperan sebagai investor dan operator melalui skema BOT (build, operate, dan transfer) dan PPP (Public Private Partnership).

2. Wangneng Environment Co., Ltd

Berbasis di Zhejiang, perusahaan ini mulai beroperasi pada 2012 dengan fokus pada pemanfaatan limbah dapur, pengolahan air limbah, hingga daur ulang karet. Wangneng memiliki 98 perusahaan, termasuk 5 anak perusahaan di luar negeri. Mereka mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih setiap tahun, yang setara dengan konsumsi listrik untuk 2.530.000 rumah per tahun. Untuk proyek di Indonesia, mereka berencana membentuk konsorsium dengan mitra lokal seperti BUMN atau swasta nasional.

3. Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd

Weiming bukan pemain baru di Indonesia; melalui anak usahanya, mereka telah menyuplai peralatan insinerator untuk proyek di Qingshan Park. Bisnis utama mereka mencakup desain, investasi, pembangunan, dan operasi fasilitas WtE, serta manufaktur peralatan. Pada 2023, Weiming menghasilkan total listrik sekitar 3,85 miliar kWh. Perusahaan ini tercatat pernah menawarkan investasi sekitar USD 225 juta kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk pengelolaan sampah.

4. SUS Indonesia Holding Limited

Meskipun bernama Indonesia, perusahaan ini terdaftar di Tiongkok dan merupakan anak perusahaan dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd. Fokus bisnisnya adalah WtE dengan pengelolaan investasi jangka panjang, didorong oleh volume sampah kota yang besar di Indonesia. Di Makassar, perusahaan ini membangun fasilitas WtE yang mampu mengelola 1.300 ton sampah per hari dan menghasilkan daya listrik sebesar 35 MW.

5. PT Jinjiang Environment Indonesia

Perusahaan ini merupakan bagian dari Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd., yang telah menjadi pemain utama industri WtE di Tiongkok sejak 1998. Di Indonesia, mereka telah mengembangkan fasilitas PLTSa di Kota Palembang dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari dan output listrik 20 MW. Investasi awal untuk proyek di Palembang tersebut mencapai US$120 juta (sekitar Rp1,8 triliun) melalui kontrak konsesi selama 30 tahun. Induk perusahaannya saat ini memegang 27 fasilitas WtE di Tiongkok dengan total kapasitas pengolahan 44.000 ton limbah per hari

Prancis hingga Jepang

Fadli Rahman, turut mencatat ada tiga perusahaan berasal dari Prancis, Tiongkok, dan Jepang.

1. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)

Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd berbasis di Singapura dan berdiri pada 13 Desember 1997. Perusahaan ini merupakan bagian dari grup multinasional Veolia yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi dengan operasi di 50 negara.

Di Indonesia, perusahaan hadir melalui PT Veolia Services Indonesia yang membangun pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25.000 ton per tahun di Pasuruan Industrial Estate Rembang, Jawa Timur. Produk PET food grade dari fasilitas ini telah bersertifikasi halal MUI.

Perusahaan juga bekerja sama dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA) untuk pengurangan sampah plastik melalui pembangunan pabrik daur ulang botol PET yang diresmikan pada Juni 2021 oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

2. China Conch Venture Holding Limited (China)

China Conch Venture Holding Limited berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok dan berdiri sejak 2013. Perusahaan fokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, serta pembangunan infrastruktur, dan tercatat di Bursa Efek Hong Kong dengan kode saham 0586.

Kegiatan usaha mencakup proyek WtE, jasa logistik pelabuhan, material bangunan baru, energi baru, serta investasi strategis. Bisnis WtE jadi segmen utama, termasuk solusi insinerasi limbah untuk menghasilkan energi panas dan listrik serta produksi peralatan pembangkit energi sisa panas.

Perusahaan ini juga memiliki rekam jejak kerja sama di Indonesia melalui PT Conch South Kalimantan Cement yang berafiliasi dengan Anhui Conch Group Co., Ltd., termasuk keterlibatan kegiatan masyarakat dan penghargaan sebagai wajib pajak besar di Kalimantan Selatan.

3. Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)

Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) dikenal pemain lama di proyek lingkungan dan energi bersih global. Salah satu proyeknya adalah TuasOne Waste to Energy Plant di Singapura senilai SGD 750 juta.

Di Tiongkok, perusahaan mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai senilai 11 miliar yen yang mampu mengolah 6.000 ton sampah per hari untuk menghasilkan 144 megawatt listrik.

Sementara di Jepang, kontrak baru pada 2025 mencakup peningkatan efisiensi energi di fasilitas insinerasi di Kanazawa dan Miyazaki. Di Indonesia, teknologi perusahaan telah digunakan di TPST Bantargebang sejak 2019 dalam proyek PLTSa bersama PLN Nusantara Power, menghasilkan listrik sekitar 750 kilowatt per jam untuk penerangan area sekitar.

Metode WtE perusahaan diterapkan di lebih dari 300 pabrik di seluruh dunia dengan teknologi insinerator tingkat tinggi untuk membakar berbagai jenis limbah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fakta-Fakta Mencengangkan Pembunuhan Pelajar SMPN 26 Bandung di Kampung Gajah: Hubungan Pelaku-Korban seperti Kakak-Adik, Motif Sakit Hati Pertemanan Terputus
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemenang Waste to Energy Segera Diumumkan, Intip Profil dan Jejak Peserta Tender
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
4 Pantangan di Tahun Baru Imlek yang Masih Diyakini Orang-Orang China
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Suara Drum Jadi Pemicu, Kasus Penganiayaan Tetangga di Jakbar Berujung Saling Lapor, ini Updatenya
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Jelang Ramadan, Dedi Mulyadi Nekat Terobos Hujan Naik Motor sambil Tinjau Jalan Provinsi Jawa Barat
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.