Bisnis.com, CIREBON - Sejumlah komoditas konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Cirebon menjelang periode Ramadan 2026. Badan Pusat Statistik Kota Cirebon menunjukkan rokok, makanan olahan, hingga daging sapi mendominasi andil kenaikan harga.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Kota Cirebon Ujang Mauludin menyampaikan bahwa komoditas dengan andil inflasi tertinggi adalah Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,0372%. Disusul roti bakar 0,0198% dan daging sapi 0,0177%.
"Secara y-to-d (year-to-date) Januari 2026, rokok masih menjadi penyumbang inflasi terbesar. Namun jika dikaitkan dengan momentum Ramadan, kenaikan pada komoditas makanan seperti roti bakar dan daging sapi perlu menjadi perhatian," kata Ujang, Senin (16/2/2026).
Selain 3 komoditas tersebut, tarif rumah sakit tercatat memberi andil 0,0125%, diikuti kue kering berminyak 0,0122%, vitamin 0,0092%, Sigaret Kretek Tangan (SKT) 0,0086%, emas perhiasan 0,0078%, bawang putih 0,0073%, serta tisu 0,0061%.
Ujang menjelaskan, pola konsumsi masyarakat selama Ramadan cenderung mendorong kenaikan harga pada kelompok makanan dan minuman jadi. Produk berbasis tepung dan minyak seperti roti bakar dan kue kering berminyak biasanya mengalami peningkatan permintaan untuk kebutuhan berbuka puasa.
"Permintaan makanan siap saji dan camilan meningkat signifikan saat Ramadan. Itu tercermin dari andil inflasi roti bakar dan kue kering berminyak yang relatif tinggi pada awal tahun," katanya.
Baca Juga
- KAI Daop 3 Cirebon Siapkan 29.945 Kursi untuk Libur Imlek 2026
- Libur Imlek, 18.394 Penumpang Tiba di Daop 3 Cirebon
- H-3 Ramadan, Harga Daging Ayam di Kabupaten Cirebon Naik 10%
Daging sapi juga mulai menunjukkan tekanan harga meski belum melonjak tajam. Menurut Ujang, komoditas ini hampir selalu mengalami kenaikan menjelang Ramadan hingga Idulfitri seiring meningkatnya konsumsi rumah tangga.
"Daging sapi menjadi salah satu komoditas yang sensitif terhadap momentum keagamaan. Walaupun andilnya saat ini 0,0177%, tren kenaikan biasanya berlanjut mendekati puncak Ramadan," tutur dia.
Sementara itu, bawang putih yang mencatat andil 0,0073% juga berkaitan dengan kebutuhan bumbu dapur. Kenaikan harga bawang putih berpotensi memberi tekanan lanjutan apabila distribusi terganggu atau pasokan menurun.
Di luar kelompok pangan, inflasi juga didorong kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,0078%. Ujang, menyebut peningkatan pembelian emas lazim terjadi menjelang hari besar keagamaan, baik untuk kebutuhan investasi maupun konsumsi perhiasan.
Tarif rumah sakit dan vitamin yang masing-masing memberi andil 0,0125% dan 0,0092% turut mencerminkan kenaikan belanja kesehatan masyarakat. "Menjelang Ramadan, biasanya masyarakat mulai menjaga kondisi tubuh, sehingga permintaan vitamin meningkat," katanya.
Meski demikian, Ujang menegaskan inflasi Kota Cirebon secara umum masih dalam kategori terkendali pada awal 2026. Pihaknya terus memantau perkembangan harga terutama pada komoditas pangan strategis yang berisiko mengalami lonjakan lebih tinggi saat memasuki Ramadan.
"Yang perlu diwaspadai adalah potensi kenaikan lanjutan pada daging sapi, makanan olahan, serta komoditas pendukung konsumsi Ramadan. Jika permintaan meningkat tajam tanpa diimbangi pasokan, tekanan inflasi bisa lebih besar," ujarnya.





