BANDUNG, KOMPAS- Sekitar 1,5 juta kendaraan memasuki Kota Bandung, Jawa Barat, dalam dua hari terakhir. Hal ini menandai peningkatan kendaraan yang signifikan menjelang libur Tahun Baru Imlek pada Selasa (17/2/2026).
Dari pantauan Kompas, kepadatan lalu lintas mulai terlihat di pintu Tol Pasteur di Jalan Dr Djundjunan, sejak Senin (16/2/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Peningkatan jumlah kendaraan terjadi mulai pukul 09.00 hingga 21.00. Jalur Pasteur merupakan salah satu pintu utama ke Kota Bandung dengan arus kendaraan tertinggi.
Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Hudi Arief mengatakan, ada sejumlah titik rawan terjadi kepadatan arus lalu lintas selama liburan Imlek di Kota Bandung. Salah satunya di pintu tol jalur Pasteur.
Jalur lainnya yang rawan kemacetan ialah Jalan Setiabudi yang menuju destinasi wisata. Jalur tersebut menuju ke destinasi wisata Lembang di Kabupaten Bandung Barat.
"Titik rawan kemacetan juga terdapat di sejumlah mal besar di Kota Bandung yang merupakan pusat perbelanjaan utama tujuan para wisatawan,” kata Hudi.
Hudi menuturkan, pemicu terjadinya kemacetan ialah meningkatnya volume kendaraan dan masyarakat yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan secara sembarangan.
Ia telah menyiapkan sejumlah upaya rekayasa lalu lintas di titik-titik kemacetan. Upaya ini melalui pengaturan langsung petugas di lapangan dan prioritas lampu lalu lintas.
Misalnya di kawasan Pasteur, ketika terjadi kepadatan kendaraan dari arah Jakarta yang masuk ke Kota Bandung, maka durasi lampu hijau menuju arah dalam kota diperpanjang. Hal ini juga berlaku ketika terjadi kepadatan kendaraan yang keluar dari Bandung menuju Jakarta.
Satlantas Polrestabes Bandung juga bersinergi dengan Polres Cimahi untuk rekayasa lalu lintas satu arah. Upaya ini untuk mengatasi kemacetan di jalur menuju kawasan wisata Lembang.
"Kami akan terus berpatroli untuk menertibkan kendaraan yang diparkir secara sembarangan di bahu jalan. Apabila sudah diberikan teguran namun masih melanggar, maka akan dilakukan penindakan," ucapnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, Kota Bandung dengan populasi sekitar 2,6 juta jiwa memiliki mobilitas orang yang sangat tinggi.
Adapun sepanjang 2025, tercatat sekitar 24 juta pergerakan penerbangan masuk dan keluar dari Bandung. Hal ini berarti ada sekitar 12 juta mobilitas orang dari dan ke Kota Bandung.
“Sejak 5 April 2025, setelah Lebaran, pariwisata Bandung mulai mengalami momen pemulihan. Ini jadi titik balik bagi industri hotel, restoran dan sektor pendukung lainnya,” kata Farhan.
Ia mengakui, kebijakan pengetatan anggaran kegiatan dan perjalanan dinas pemerintah sejak awal 2025 berdampak besar pada industri pariwisata Bandung. Ketergantungan hotel dan restoran pada kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) pemerintah membuat tingkat hunian anjlok drastis.
Untuk keluar dari situasi tersebut, menurut Farhan, Pemkot Bandung menggulirkan strategi menghidupkan mobilitas wisata melalui penyelenggaraan event secara masif. Sepanjang 2025, Bandung menjadi tuan rumah sekitar 260 event lokal hingga nasional.
Pemkot Bandung juga memberikan berbagai insentif kepada promotor event. Salah satunya berupa diskon pajak hiburan PB1 hingga 50 persen untuk acara yang dinilai berdampak besar pada pergerakan wisatawan.
“Mobilitas itu kunci. Ketika orang bergerak, pariwisata hidup. Maka kami dorong event sebagai mesin penggerak ekonomi,” ujar Farhan.





