Bencana tanah bergerak terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Desa Padasari, Jatinegara, Tegal, pada Senin (2/2). Kartono (62), seorang warga terdampak bencana, menceritakan kepanikan yang terjadi saat peristiwa itu berlangsung.
Fokus utamanya kala itu adalah menyelamatkan keluarga serta barang dan dokumen penting sebelum kondisi semakin memburuk.
“Saat itu pada pertama, pada malam Senin, terus malam Selasa, kita terus mengevakuasi barang-barang berharga seperti sertifikat, KK (Kartu Keluarga), terus BPKB motor saya larikan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin (16/2).
Kartono menjelaskan, kondisi tanah terus bergerak dan retak sehingga memilih meninggalkan rumah demi keselamatan keluarga.
“Terus akhirnya tanah itu makin jalan makin retak, kita selamatin semua keluarga pindah ke Desa Jati Laba,” kata Kartono.
Ia juga menggambarkan detik-detik awal saat menyadari adanya pergerakan tanah ketika berada di rumah saudaranya di wilayah yang sama.
“Pada saat itu kita ke rumah saudara yang sebelah timur, di RT 15 juga. Itu kan masih jalan air masih ngalir. Saya udah ngomong sama kakak saya, ‘kak, kok itu udah mulai bergeretak-geretak?’” tutur Kartono.
“‘Enggak tahu’, pokoknya Kakak siap lari untuk mengevakuasi diri, dan anak-anak yang kecil cucu-cucu dibawa semua. Daripada nanti ini berjalan masih di sini akhirnya jadi repot. Saya bilang gitu,” lanjutnya.
Kartono mengatakan, peristiwa tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu dan berdampak luas ke permukiman warga.
“Semua ada 13 RT yang terdampak,” ungkap dia.
Ketua MPR Ahmad Muzani, hari ini meninjau langsung lokasi bencana di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara. Ia menyampaikan jumlah kerusakan dan pengungsi akibat bencana tersebut.
“Di Kabupaten Tegal, di Padasari, Jatinegara, Jawa Tengah ada musibah tanah bergerak yang menyebabkan kurang lebih 900 rumah roboh, hancur, termasuk sekolah, tempat ibadah, masjid, pondok pesantren, dan banyak fasilitas-fasilitas umum lainnya rata dengan tanah,” jelas Muzani.
Muzani menambahkan, jumlah warga yang mengungsi akibat bencana tanah bergerak ini mencapai ribuan orang.
“Jumlah pengungsi yang dilaporkan oleh Bupati adalah 2.500 sampai 2.800 orang. Tentu ini sebuah musibah yang sangat memilukan kita. Karena itu kami hari ini hadir dengan sejumlah pejabat pemerintah yang memiliki kompetensi untuk menangani itu,” kata dia.





