Depok, ERANASIONAL.COM — Keberadaan aplikasi periklanan digital bernama MBA yang kini diduga Penipuan mulai terungkap kronologi awal mulanya muncul di wilayah Depok. Berdasarkan keterangan salah satu member berinisial DN (55) yang terlibat sejak awal, MBA mulai masuk ke Kota Depok sekitar Maret 2025 lalu.
Menurut pengakuannya, MBA di Depok diprakarsai oleh dua orang, yakni Hendra yang disebut sebagai Manager Office dan Rahmat Budianto yang berperan sebagai Manager Perekrutan. DN mengaku dirinya diajak langsung oleh salah satu dari keduanya untuk bergabung.
Sebelum memutuskan bergabung, DN menuturkan sempat mempertanyakan legalitas aplikasi tersebut. Ia mengaku mendapatkan jaminan bahwa MBA merupakan aplikasi legal.
“Saya sempat bertanya apakah ini legal atau ilegal. Mereka menjawab ini legal dan bahkan menjamin kalau akun ini ilegal, mereka siap mengganti 10 kali lipat,” ungkap DN saat ditemui Eranasional, Senin (16/7/2026).
MBA diperkenalkan sebagai perusahaan periklanan yang diklaim telah merekrut karyawan di 74 negara dan memiliki banyak permintaan pemasangan iklan. Dengan alasan kebutuhan tenaga kerja yang tinggi, masyarakat ditawari peluang untuk bergabung.
Sistem kerja yang ditawarkan berupa penyelesaian tugas harian, seperti mengklik atau mengunggah foto yang dikirim oleh pihak MBA. Selain itu, member dijanjikan bonus tambahan apabila berhasil merekrut anggota baru.
Adapun skema deposit dan keuntungan yang ditawarkan antara lain:
- Level E1: Deposit Rp500 ribu, mengerjakan 15 tugas per hari, pendapatan Rp15 ribu per hari.
- Level E2: Deposit Rp1,4 juta, pendapatan Rp43.500 per hari.
- Level E3: Deposit Rp4,5 juta, pendapatan Rp150 ribu per hari.
Selanjutnya tersedia level yang lebih tinggi seperti A1, A2, hingga A3 dengan nominal deposit yang lebih besar.
DN mengaku sempat meningkatkan level keanggotaan dengan mengumpulkan dana dari keuntungan sebelumnya serta menambahkan dana pribadi.
Faktor Bergabung ke MBA
DN menuturkan, keputusan bergabung didorong oleh faktor ekonomi serta keterbatasan pemahaman terhadap sistem aplikasi digital.
“Selain dijanjikan keuntungan besar secara instan, bahasa mereka sangat meyakinkan bahwa ini aman dan uang dijamin kembali. Karena kondisi dan ketidakpahaman saya, akhirnya saya percaya dan bergabung,” ujarnya.
Ia juga mengakui sempat menerima sejumlah keuntungan dari MBA. Namun, uang tersebut digunakan untuk membantu mendaftarkan anggota keluarga dan teman dekat agar ikut bergabung.
“Uang yang saya dapat justru, Malah saya pakai membantu keluarga dan teman untuk daftar lagi. Pada akhirnya, ya tetap rugi juga,” katanya.
DN mengaku sempat mengajak beberapa anggota keluarga dan kerabat dekat, meski tidak dalam jumlah banyak. Hingga saat ini, menurutnya, belum ada tuntutan besar dari pihak keluarga. Meski demikian, ia mengaku tetap merasa memiliki tanggung jawab moral atas keterlibatan orang-orang terdekatnya.
Soal Pertanggungjawaban
Terkait pihak yang dinilai paling bertanggung jawab atas persoalan ini di wilayah Depok, DN menyebut dua nama yang sejak awal memprakarsai dan melakukan perekrutan, yakni Hendra dan Rahmat Budianto sesuai dengan peran yang dijalankan.
Namun demikian, ia menegaskan siap bersikap kooperatif apabila kasus ini berlanjut ke ranah hukum.
“Apabila ada pelaporan resmi ke kepolisian, saya siap menjadi saksi dan memberikan keterangan sesuai apa yang saya alami saat menjadi bagian dari MBA,” tegasnya.
Hingga kini, dugaan praktik penipuan berkedok periklanan digital tersebut masih menjadi perhatian sejumlah pihak. Para korban diharapkan dapat menempuh jalur hukum guna mendapatkan kejelasan serta pertanggungjawaban atas kerugian yang terjadi.
Sebelumnya, Aplikasi investasi bernama MBA atau MBA7.com tengah menjadi sorotan disejumlah daerah, setelah banyak anggotanya mengaku tidak lagi bisa menarik dana dari platform tersebut. Fitur penarikan (withdraw) dilaporkan macet, sementara saldo di dalam aplikasi disebut terus berkurang atau berstatus “diproses” tanpa pernah masuk ke rekening pengguna.
Kondisi ini memicu kekhawatiran luas dan memperkuat dugaan bahwa platform tersebut merupakan investasi bodong. Ribuan anggota dilaporkan mengalami kerugian capai ratusan Juta hingga Miliaran, karena dana yang telah disetorkan tidak dapat dicairkan.
Sampai berita ini diturunkan, ERANASIONAL mencoba menghubungi salah satu dari pencetus MBA di Depok tersesbut, namun nomor ponsel yang dihubungi tidak tersambungkan.





