Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini membeberkan data bunuh diri anak dari tahun 2023-2026. Jumlah kasus terbanyak terjadi pada tahun 2023, yakni 46 anak.
Sedangkan, pada tahun 2024, ada 43 anak yang tercatat melakukan bunuh diri dan pada tahun 2025, ada 27 anak.
“Tahun 2026 sudah 5 kasus,” ucap Diyah saat dihubungi, Senin (16/2).
“Paling banyak di Bali dan NTT,” tambahnya.
Beragam faktor menjadi penyebab anak nekat mengakhiri hidupnya. Paling banyak, menurut Diyah, adalah bullying.
“Faktor: bullying, pengasuhan, ekonomi, asmara, game online,” tutur Diyah.
“Sudah saya urutkan berdasarkan paling banyak,” lanjutnya.
Rentang usia anak yang melakukan bunuh diri pun beragam, namun paling banyak ada di rentang 13-17 tahun. Dari data Diyah, disebutkan 30 persen anak mengakhiri hidupnya di satuan pendidikan.
Cara mereka mengakhiri hidup juga beragam. Diyah menyebut, kebanyakan anak melakukan gantung diri, menenggelamkan diri di sungai, dan menabrakkan diri ke kereta api.
Diyah melanjutkan, angka anak bunuh diri di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara pada tahun 2023-2024.
“Ya (tertinggi di Asia Tenggara) tapi di tahun 2023 dan 2024,” tegas Diyah.
“Walau tahun 2025 juga masih tergolong tinggi,” tambahnya.
Rekomendasi KPAI
Atas maraknya kasus bunuh diri anak ini, KPAI mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah, utamanya untuk Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga Kementerian PPPA.
KPAI meminta, pemerintah dapat menguatkan psikologi anak, melakukan pencegahan di berbagai lingkungan, hingga menguatkan pengawasan di sekolah.
“Pencegahan kami lakukan mengajak kemenkes, KPPPA, Kemenag dan Kemendikdasmen serta Kemensos dan semua OPD dibawahnya, namun sepertinya belum optimal, sementara KPAI hanya memiliki kewenangan dalam pengawasan saja bukan pencegahan,” ucap Diyah.
Selain kepada pemerintah, KPAI juga memberikan sejumlah rekomendasi pencegahan untuk orang tua. Berikut adalah sejumlah langkah yang bisa diambil orang tua menurut KPAI:
Perbanyak aktivitas di luar ruangan, seperti bertamasya, camping, studi wisata, praktik lapangan.
Membuat aktivitas rutin dengan kegiatan olahraga.
Memperbanyak interaksi dengan teman di dunia nyata.
Mengalihkan aktivitas mengembangkan bakat dan potensi anak.
Meminta anak untuk berkarya dan berikan apresiasi.
Dukungan dan kedekatan dengan keluarga sangat penting.
Pendekatan spiritual dan ajak anak dalam kegiatan keagamaan.





