Menjelang magrib, kelotok (istilah suku Banjar untuk perahu bermesin) bergerak pelan di Sungai Martapura-Banjarmasin. Beberapa orang duduk berhadapan di atas perahu. Ada yang baru saling kenal, ada yang datang bersama keluarga. Kotak-kotak takjil dibuka. Air minum dibagi. Ketika azan berkumandang, mereka berbuka dalam ruang yang sama.
Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni. Hanya orang-orang yang menunggu waktu yang sama.
Ramadan seringkali dibicarakan dalam angka: inflasi pangan, lonjakan konsumsi, perputaran ekonomi musiman. Semua itu penting. Tapi di ruang-ruang kecil seperti ini, Ramadan bekerja dengan cara yang lebih sunyi. Ia menghadirkan solidaritas yang tidak direncanakan.
Takjil bukan sekadar makanan pembuka. Di banyak sudut kota, ia menjadi alasan orang berkumpul. Di lapak sederhana, orang antre tanpa saling mendahului. Di trotoar, mereka berbagi tempat duduk. Di pinggir jalan, ada yang membagikan air minum tanpa bertanya siapa penerimanya.
Di Banjarmasin, suasana itu terasa di Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair). Wadai berarti kue, tetapi yang hadir bukan hanya makanan tradisional. Ada lauk-pauk sungai, ayam panggang, minuman manis, hingga menu kekinian. Orang datang untuk membeli, tetapi sering kali juga untuk bertemu.
Sebagian membawa pulang belanjaannya. Sebagian lain memilih berbuka di sekitar lokasi. Ada yang lesehan di siring sungai, ada yang naik kelotok sambil menunggu matahari turun. Dalam ruang yang sempit itu, percakapan muncul dengan sendirinya. Orang saling memberi tempat, saling menawarkan makanan, saling menyesuaikan diri.
Solidaritas kecil seperti ini sering luput dari perhatian. Nilainya mungkin tidak besar secara ekonomi, tetapi dampaknya terasa secara sosial. Orang belajar menahan diri untuk tidak mengambil lebih. Mereka menunggu giliran. Mereka berbagi ruang.
Di tengah dunia yang serba cepat, kebiasaan sederhana itu menjadi penting. Promo kilat dan diskon terbatas mendorong orang untuk bergerak cepat. Tapi puasa justru mengajarkan jeda. Menahan lapar bukan sekadar ritual, melainkan latihan kendali.
Saat berbuka bersama, kendali itu diuji. Apakah kita mau mendahului, atau mau berbagi?. Apakah ruang publik kita perlakukan sebagai arena rebutan, atau sebagai ruang bersama?
Ramadan menyediakan kesempatan untuk melihat kembali kebiasaan kecil ini. Di lapak takjil, di atas perahu, atau di pinggir jalan, orang-orang dengan latar belakang berbeda duduk dalam jarak yang sama. Ketika azan terdengar, tidak ada status yang lebih tinggi. Semua menunggu.
Mungkin inilah wajah Ramadan yang paling tenang: bukan yang paling ramai atau paling meriah, tetapi yang paling manusiawi. Dari sepotong gorengan, dari segelas air, dari senja yang ditunggu bersama, tumbuh kebersamaan yang jarang dibicarakan, tetapi nyata dirasakan.
Solidaritas besar sering lahir dari kebijakan. Tetapi solidaritas kecil lahir dari kebiasaan. Dan Ramadan, setiap tahun, memberi kita ruang untuk melatihnya kembali.





