Setelah Ampuh di Yogyakarta, Uji Coba  Wolbachia di Singapura Tekan Risiko Demam Berdarah 70 Persen

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS-Penggunaan Wolbachia, bakteri alami yang ditemukan di banyak serangga, dinilai sukses menurunkan demam berdarah. Eksperimen skala besar selama dua tahun di seluruh Kota Singapura menunjukkan, penggunaan Wolbachia bisa menurunkan risiko demam berdarah hingga 70 persen. Sekitar lima tahun lalu, uji coba serupa juga di Yogyakarta juga ampuh mengatasi demem bedarah.

            Para peneliti membagi lingkungan perkotaan di Singapura menjadi beberapa kelompok. Pada kelompok pertama, mereka melepaskan nyamuk jantan Aedes aegypti steril yang terinfeksi Wolbachia di beberapa daerah. Kelompok kedua dibiarkan tanpa perlakuan untuk menguji apakah pendekatan biologis ini dapat mengurangi penularan penyakit di kota yang padat penduduk.

            Pelepasan nyamuk terbukti cukup efektif. Di daerah tempat intervensi digunakan, jumlah nyamuk menurun tajam, dan orang-orang yang tinggal di lingkungan yang diberi perlakuan memiliki kemungkinan sekitar 70 persen lebih kecil untuk mengembangkan gejala demam berdarah setelah beberapa bulan terpapar.

Baca Juga"Wolbachia", Kunci Kemenangan Yogyakarta Melawan DBD

            Temuan ini dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada Rabu (11/2/2026). Jue Tao Lim dari Lee Kong Chian School of Medicine, Nanyang Technological University, menjadi penulis pertama laporan.

            Sebelumnya, uji coba pelepasliaran nyamuk Wolbachia juga pernah dilakukan di Yogyakarta, Indonesia. Laporan di BMJ Global Health pada 2023 menunjukkan, pelepasliaran nyamuk dengan Wolbachia dalam studi di Indonesia telah menurunkan infeksi demam berdarah sebesar 77 persen.

            Direktur Regional World Mosquito Program (WMP) Asia Claudia Surjadjaja, dalam laporan Kompas.id pada 2020 mengatakan, keberhasilan uji coba Wolbachia di Yogyakarta diharapkan tidak hanya digunakan dalam skala nasional, tetapi juga global. ”Riset ini bukan hanya bukti keberhasilan inovasi, tetapi juga karena kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan sektor swasta. Secara khusus, saya mengapresiasi dukungan masyarakat Yogyakarta. Ini akan berkontribusi global," katanya.

Mengubah masalah menjadi solusi

            Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah menemukan bahwa menginfeksi nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri Wolbachia dapat menjadi alternatif yang ampuh untuk metode pengendalian demam berdarah. Wolbachia mencegah virus demam berdarah bereplikasi di dalam nyamuk ini, sehingga membuat mereka jauh lebih kecil kemampuannya untuk menyebarkan penyakit.

            Proyek Wolbachia bekerja dengan melepaskan nyamuk Aedes jantan yang membawa Wolbachia. Meskipun nyamuk jantan tidak menggigit manusia, mereka memainkan peran penting dalam mengurangi populasi nyamuk penggigit yang menularkan demam berdarah.

            Ketika nyamuk jantan yang terinfeksi ini dilepaskan untuk kawin dengan nyamuk betina liar yang tidak membawa Wolbachia, telur yang mereka hasilkan tidak menetas. Seiring waktu, pelepasan berulang mengakibatkan berkurangnya jumlah nyamuk yang bertahan hidup di kota. Strategi khusus ini dikenal sebagai teknik serangga tidak kompatibel yang dimediasi Wolbachia, teknik serangga steril (IIT-SIT).

            Meskipun metode IIT-SIT telah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan dalam mengurangi populasi nyamuk, masih kurang data uji coba terkontrol secara acak untuk mengkonfirmasi efektivitasnya dalam mengurangi infeksi demam berdarah pada manusia.

Melacak dampak pencegahan demam berdarah

            Dalam penelitian ini, para peneliti membiakkan nyamuk Aedes aegypti jantan steril yang terinfeksi Wolbachia di laboratorium. Kemudian mereka memilih 15 area perumahan besar di Singapura dan secara acak membaginya menjadi dua kelompok. Delapan kelompok menerima pelepasan nyamuk jantan steril yang terinfeksi Wolbachia dua kali seminggu, sementara tujuh kelompok berfungsi sebagai kontrol dan tidak menerima pelepasan nyamuk. Ini berlanjut selama 24 bulan, dari pertengahan 2022 hingga akhir 2024.

            "Sebanyak 393.236 penduduk tinggal di klaster intervensi, dan 331.192 penduduk tinggal di klaster kontrol," sebut Jue Tao Lim, dalam laporannya.

Baca JugaWolbachia, Senjata Baru di Tengah Meluasnya Penyebaran Demam Berdarah

            Untuk menilai apakah pelepasan tersebut memiliki efek, para peneliti melacak dua hasil: populasi nyamuk dan jumlah diagnosis demam berdarah.

            Pertama, mereka menggunakan perangkat khusus untuk menangkap dan menghitung nyamuk betina liar, sehingga memungkinkan mereka untuk melacak perubahan populasi nyamuk. Kedua, mereka menganalisis basis data kesehatan nasional untuk mengidentifikasi penduduk yang mengunjungi dokter dan dinyatakan positif terkena demam berdarah, dan membandingkan tingkat infeksi demam berdarah di daerah dengan pelepasan nyamuk dengan daerah tanpa pelepasan.

            Di daerah tempat nyamuk dilepaskan, jumlah nyamuk betina liar menurun sekitar 77 persen dari 0,18 menjadi 0,041 nyamuk per perangkap. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya infeksi demam berdarah, di mana setelah enam bulan atau lebih, hanya 6 persen orang di daerah intervensi yang dinyatakan positif, dibandingkan dengan 21 persen di daerah kontrol.

Pelepasan nyamuk jantan A. aegypti steril yang terinfeksi Wolbachia mengurangi populasi vektor dan risiko infeksi demam berdarah di Singapura.

            Secara keseluruhan, paparan nyamuk pembawa Wolbachia mengurangi risiko demam berdarah sekitar 71–72 persen selama tiga hingga 12 bulan. "Pelepasan nyamuk jantan A. aegypti steril yang terinfeksi Wolbachia mengurangi populasi vektor dan risiko infeksi demam berdarah di Singapura," demikian kesimpulan uji coba skala besar ini.

            Hasil penelitian ini dinilai menggembirakan, dan para peneliti percaya bahwa teknologi ini dapat melengkapi metode pengendalian nyamuk tradisional dan vaksin untuk lebih mengendalikan penularan demam berdarah dan penyakit lain yang dibawa oleh nyamuk Aedes.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tangani Karhutla, Riau Terima Kiriman Pesawat Modifikasi Cuaca
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Ini Gambaran Jakarta Light Festival yang Bakal Hadirkan Pertunjukan Spektakuler di Kota Tua
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Viral Pencuri Sepatu di Bandung Tertangkap Anak Kos Disuapi Makan dan Diikat
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Vertigo Tanda Serangan Stroke yang Kerap Diabaikan
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Hadiri KTT BoP di AS Jadi Momentum Strategis Jaga Stabilitas dan Perdamaian Dunia
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.