BEKASI, KOMPAS.com – Sejumlah mitos masih kerap dipercaya sebagian masyarakat Tionghoa menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Yayasan Pancaran Tridharma Kota Bekasi, Ronny Hermawan saat ditemui Kompas.com di Kelenteng Hok Lay Kiong, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (16/2/2026).
"Biasanya enggak boleh cukur rambut, potong kuku, dan nyapu. Mitosnya katanya membuang rezeki," ujar Ronny, Senin.
Meski demikian, Ronny mengaku, pada era modern saat ini ia tidak lagi terlalu percaya mitos-mitos tersebut. Namun, ia tetap menghargai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi Bersolek Sambut Imlek, Dihiasi Ribuan Lampion
Menurut Ronny, esensi perayaan Imlek terletak pada kebersamaan keluarga dan doa bersama dalam menyambut tahun baru.
"Selain sembahyang, tradisinya ya kumpul keluarga, makan malam bersama. Kemudian ada doa bersama di malam tahun barunya. Pagi-pagi langsung ke rumah orangtua," kata Ronny.
Ia menambahkan, tradisi menghormati orangtua atau yang lebih tua juga tetap dijaga, termasuk melalui ritual Pai-pai dan pemberian angpau kepada anak-anak.
"Pagi-pagi biasanya yang lebih muda disuruh yang namanya Pai-pai untuk menghormati yang lebih tua. Habis itu akan dikasih angpau. Ini salah satu tradisi yang baik," ujarnya.
Ronny juga menyoroti fenomena sebagian generasi muda yang mulai meninggalkan sejumlah tradisi menjelang perayaan Imlek karena dianggap sudah kuno.
Dia menjelaskan, Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili merupakan Tahun Kuda dengan unsur api. Ronny berharap energi besar yang dilambangkan kuda dan api membawa semangat positif bagi masyarakat.
"Harapannya tentu yang baik-baik. Besok Tahun Kuda, unsurnya kuda api. Kuda energinya besar dan berlari cepat. Mudah-mudahan juga semangat masyarakat lebih kuat," kata Ronny.
Namun, ia juga mengingatkan agar semangat tersebut tidak digunakan berlebihan.
"Tapi jangan juga terlalu arogan. Kita harus banyak bersabar, dan bijak. Karena takutnya akselerasi begitu cepat, semangat begitu tinggi, akhirnya malah lebih kacau," ucap Ronny.
Baca juga: Tahun Baru Imlek, Menag: Semoga Membawa Kedamaian dan Kesejahteraan
Ia menjelaskan, persiapan Imlek umumnya dilakukan baik di lingkungan keluarga maupun tempat ibadah.
"Biasanya menjelang pergantian Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa mempersiapkan diri di keluarga maupun di tempat ibadah. Karena Imlek ini bukan hanya perayaan agama," ujar Ronny.
Menurut dia, Imlek bukan hari besar agama tertentu, melainkan hari besar suku Tionghoa yang dirayakan berdasarkan kalender lunar.
"Imlek ini hari besar suku Tionghoa yang ada di seluruh dunia berdasarkan perputaran kalender bulan atau Lunar Calendar 2577," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




