Pasar otomotif nasional diprediksi tahun ini semakin panas, lantaran rencana masuknya merek dan juga model-model baru ke Indonesia yang terlihat belum surut. Belum lagi, mencuatnya indikasi perang harga antar pabrikan dalam berbagai wujud.
Momentum tersebut dapat diamati saat gelaran Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026 bulan ini, sejumlah nama-nama tersohor asal Jepang seperti kompak meluncurkan model baru. Sebut saja Toyota dan Honda.
Alih-alih melakukan potongan harga dari model yang sudah eksis, Toyota lebih memilih menghadirkan varian baru dari model elektrifikasi yang ada dengan banderol lebih terjangkau. Contohnya Yaris Cross G HEV dan Toyota Alphard XE HEV.
Manuver yang cukup ekstrem dilakukan oleh Honda, perusahaan meluncurkan versi penyegaran dari Honda WR-V dengan harga yang justru sedikit lebih murah dibanding sebelumnya. Segmen city car mengandalkan Brio Satya lewat varian terbawah bertransmisi CVT.
Lantas timbul pertanyaan, apakah beberapa merek Jepang mulai ikut menerapkan perang harga? Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu memandang dari aspek lain terkait fenomena tersebut.
"Langkah pabrikan Jepang yang merilis varian lebih terjangkau itu lebih pas dilihat sebagai strategi defensif untuk menjaga struktur price ladder, lewat penataan ulang varian dan rasionalisasi fitur secara terukur," buka Yannes kepada kumparan, Rabu (11/2/2026).
Yannes menambahkan, langkah pabrikan Jepang yang sudah memiliki basis konsumen kuat di Indonesia itu semata-mata untuk menjaga agar produk mereka tetap terjangkau oleh kalangan middle class tanpa harus memangkas model yang sudah eksis.
"Memang tekanan kompetitif BEV (Battery Electric Vehicle) entry-level berpotensi membuat value proposition produk mapan ini terlihat kurang menarik secara fungsional jika dibanding soal kelengkapan padatnya fitur kekinian," katanya.
"Tetapi kita tidak bisa langsung menyimpulkan ini sebagai kepanikan struktural karena nyatanya konsumen tetap masih mempertimbangkan trade off lain yang jadi kekuatan pabrikan Jepang. Seperti luasnya jaringan purna jual, hingga nilai jual kembali," tutur Yannes.
Senada dengan Yannes, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede melihat kondisi tersebut justru menguntungkan calon konsumen. Namun, praktiknya yang serampangan berpotensi menimbulkan masalah baru.
"Dampak positifnya, konsumen mendapat pilihan dan harga lebih kompetitif. Tetapi risikonya, jika perang harga terlalu agresif, margin industri tergerus, nilai jual kembali turun, dan itu bisa berbalik memperburuk kualitas pembiayaan karena cicilan tidak lagi sebanding dengan nilai aset," urainya kepada kumparan, Rabu (11/2/2026).





