Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan Kepala Badan Pengawas Nuklir PBB Rafael Grossi di Jenewa, Swiss, pada Senin (16/2). Pertemuan ini terjadi menjelang pembicaraan antara Washington dan Teheran yang bertujuan untuk menyelesaikan sengketa nuklir.
Pembicaraan antara AS dan Iran sejauh ini tak banyak menunjukkan tanda-tanda kompromi yang jelas dari kedua belah pihak. Ancaman aksi militer AS juga masih membayangi.
Washington, yang bergabung dengan Israel dalam gelombang serangan udara terhadap Iran pada Juni 2025, telah memerintahkan kelompok kapal induk kedua untuk bergerak ke Timur Tengah. Hal ini menyusul masih buntunya kompromi antara kedua negara. AS juga telah mengerahkan kapal perang dan pesawat.
Di sisi lain, Iran juga memulai latihan militer pada Senin (16/2) di Selat Hormuz, jalur air internasional yang vital bagi rute ekspor minyak dari negara-negara Arab Teluk. Para produsen minyak telah meminta dilaksanakannya diplomasi untuk mengakhiri sengketa tersebut.
AS dan Iran memperbarui negosiasi awal bulan ini dengan harapan untuk mengatasi perselisihan mereka yang telah berlangsung selama beberapa dekade terkait program nuklir Teheran. Washington, negara-negara Barat lainnya, dan Israel menuduh Iran membangun senjata nuklir, tetapi telah dibantah oleh negara tersebut.
Lingkup Pembicaraan Meluas ke Persediaan Rudal
Adapun Washington kini telah berupaya memperluas lingkup pembicaraan ke isu-isu non-nuklir seperti persediaan rudal Iran. Teheran mengatakan hanya bersedia membahas pembatasan program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan enggan membahas kemampuan rudalnya.
Berbicara selama kunjungan ke Hongaria pada hari Senin, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan mencapai kesepakatan dengan Teheran akan sulit.
“Saya pikir ada peluang di sini untuk mencapai kesepakatan secara diplomatis yang membahas hal-hal yang menjadi perhatian kami. Kami akan sangat terbuka, tetapi saya juga tidak ingin melebih-lebihkannya. Ini akan sulit,” kata dia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan dia berada di Jenewa untuk ,encapai kesepakatan yang adil dan merata. “Yang tidak ada dalam agenda: penyerahan diri di hadapan ancaman,” kata Araqchi di X.
Iran telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan apa pun, yang akan mencekik seperlima aliran minyak global dan menyebabkan harga minyak mentah melonjak tajam.
Jalur air ini menghubungkan produsen minyak terbesar di Teluk, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab, dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Laporan kanto berita Tasnim menyebutkan bahwa Garda Revolusi Iran telah melakukan latihan bernama "Pengendalian Cerdas Selat Hormuz", untuk menguji kesiapan unit angkatan laut Garda Revolusi dalam melindungi jalur air tersebut.
"Memanfaatkan secara cerdas keunggulan geopolitik Republik Islam di Teluk Persia dan Laut Oman adalah salah satu tujuan utama latihan ini," kata Tasnim.
Organisasi pertahanan sipil Iran mengadakan latihan pertahanan kimia di Zona Ekonomi Khusus Energi Pars pada Senin (17/2) untuk memperkuat kesiapan menghadapi potensi insiden kimia di pusat energi yang terletak di selatan Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Majid Takht-Ravanchi pada hari Minggu mengisyaratkan kesiapan Iran untuk berkompromi pada program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Ia mengatakan kepada BBC bahwa bola kini ada di tangan Amerika untuk membuktikan bahwa mereka ingin melakukan kesepakatan.
Sebelum AS bergabung dengan Israel dalam menyerang situs nuklir Iran pada Juni 2025, perundingan nuklir antara kedua negara tengah terhenti karena tuntutan Washington agar Teheran menghentikan pengayaan uranium. Pengayaan tersebut dipandang AS sebagai jalan menuju senjata nuklir Iran.
Iran mengatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil dan siap untuk meredakan kekhawatiran mengenai senjata nuklir.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Araqchi telah membahas kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), serta sudut pandang teknis Teheran mengenai perundingan nuklir dengan AS selama pertemuannya dengan kepala IAEA Rafael Grossi.
IAEA telah meminta Iran selama berbulan-bulan untuk mengatakan apa yang terjadi pada persediaan 440 kg (970 pon) uranium yang sangat diperkaya setelah serangan Israel-AS dan membiarkan inspeksi dilanjutkan sepenuhnya, termasuk di tiga lokasi utama yang dibom pada Juni tahun lalu: Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Minggu (15/2) bahwa ia telah memberi tahu Presiden AS Donald Trump bahwa setiap kesepakatan AS dengan Iran seharusnya juga mencakup pembongkaran infrastruktur nuklir Iran, bukan hanya menghentikan proses pengayaan.
Netanyahu mengatakan ia skeptis terhadap kesepakatan tersebut, tetapi kesepakatan itu harus mencakup keluarnya material yang telah diperkaya dari Iran.
"Tidak boleh ada kemampuan pengayaan - bukan menghentikan proses pengayaan, tetapi membongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan Anda untuk melakukan pengayaan sejak awal," katanya.




