Pengamat pasar modal, Hendra Wardana menilai, pelaku pasar tengah menanti realisasi dari janji perbaikan pasar modal.
IDXChannel - Paparan Presiden Prabowo Subianto dan para menterinya dalam forum Indonesia Economic Outlook dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pasar modal mulai ditempatkan sebagai instrumen strategis pembangunan ekonomi, bukan sekadar pelengkap.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana mengatakan, ketika Presiden menyinggung percepatan demutualisasi bursa, reformasi tata kelola, hingga rencana roadshow internasional menunjukkan bahwa pemerintah sadar bahwa kunci menarik arus modal global bukan hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi pada kepercayaan, transparansi, dan kredibilitas institusi pasar modal.
Namun, Hendra mewanti-wanti bahwa pelaku pasar tidak hanya berhenti pada retorika. Investor, terutama asing, akan menilai dari eksekusi. Demutualisasi bursa misalnya, secara teori akan memperkuat independensi, meningkatkan profesionalisme, dan mendorong efisiensi karena struktur kepemilikan dan pengawasan menjadi lebih modern.
"Tapi pasar akan menunggu kejelasan timeline, regulasi turunan, serta bagaimana implementasinya benar-benar memperkuat governance, bukan sekadar perubahan struktur administratif. Reformasi tata kelola juga harus menyentuh isu konkret seperti transparansi transaksi, perlindungan investor minoritas, konsistensi penegakan hukum, dan kepastian regulasi," ujarnya kepada IDX Channel, Senin (16/2/2026).
Hendra menuturkan soal rencana roadshow internasional yang melibatkan Danantara dan pemangku kepentingan juga menjadi poin penting. Di tengah kompetisi ketat antar emerging markets, Indonesia perlu aktif menjelaskan narasi ekonominya secara langsung kepada investor global.
Dia menilai, roadshow ini bukan hanya soal promosi, tetapi tentang membangun kredibilitas fiskal, stabilitas makro, dan arah kebijakan jangka panjang. Jika komunikasi ini konsisten dan didukung data yang solid, maka risk premium Indonesia bisa turun, cost of fund lebih kompetitif, dan valuasi saham berpotensi mengalami re-rating.
"Ke depan, saya melihat sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh konsistensi antara janji dan realisasi. Pasar akan memberikan apresiasi jika ada langkah konkret, misalnya percepatan reformasi regulasi, penguatan lembaga pengawas, dan perbaikan transparansi yang bisa diukur," tutur Hendra.
Sebaliknya, jika hanya berhenti pada wacana, maka dampaknya hanya bersifat jangka pendek dan mudah terkoreksi. Jadi secara fundamental, arah kebijakan yang disampaikan Presiden sudah berada di jalur yang benar.
"Tantangannya ada pada implementasi. Di pasar modal, kredibilitas dibangun bukan oleh pidato, tetapi oleh konsistensi kebijakan dan bukti nyata di lapangan," ujarnya.
Pemerintah kini tengah mengarahkan agar proses perubahan bentuk badan hukum atau demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaksanakan secara bertingkat. Persisnya, pemerintah mendorong skema demutualisasi melalui skema private placement sebelum beranjak ke tahap penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menjelaskan,, strategi bertahap ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya memastikan proses demutualisasi berjalan secara terukur dan tidak dilakukan secara gegabah dalam satu waktu. Dengan kata lain, private placement dipersiapkan sebagai gerbang pembuka sebelum opsi IPO diambil.
“Jadi (demutualisasi dilakukan) bertahap mulai dengan private placement dan yang kedua opsi untuk IPO. Ya biasanya kan bertahap, sesudah private placement baru IPO,” kata Airlangga.
(Rahmat Fiansyah)





