Bisnis.com, INDRAMAYU- Kabupaten Indramayu kembali menegaskan posisinya sebagai penopang utama sektor perikanan di Jawa Barat.
Pada 2025, kontribusi produksi perikanan Indramayu terhadap total capaian provinsi tercatat mencapai 32,9% atau hampir sepertiga dari keseluruhan produksi perikanan Jabar.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Indramayu, Edi Umaedi mengatakan, struktur produksi perikanan daerahnya ditopang oleh kelengkapan rantai usaha, mulai dari penangkapan di laut, budidaya tambak, hingga pengolahan hasil.
“Potensi kita sangat lengkap. Kontribusi 32,9% ini menunjukkan Indramayu menjadi tulang punggung pasokan ikan di Jawa Barat,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Secara struktur, perikanan tangkap masih menjadi penyumbang dominan. Armada nelayan Indramayu tidak hanya beroperasi di perairan Laut Jawa, tetapi juga menjangkau wilayah tangkap yang lebih jauh.
Diskanla mencatat, sebagian kapal berukuran besar bahkan mampu melaut hingga perairan timur Indonesia, termasuk kawasan Papua, guna menjaga kesinambungan pasokan saat musim paceklik di Pantura.
Baca Juga
- Kerja Lama di Luar Negeri, Mengapa PMI Indramayu Masih Miskin?
- Kinerja Pelabuhan Indramayu Anjlok, Tekan Logistik Jabar di 2025
- Indramayu Terpuruk, Lama Menginap Wisatawan Paling Rendah di Jabar
Di sisi lain, subsektor budidaya memperkuat stabilitas produksi melalui tambak air payau dan air tawar. Komoditas unggulan meliputi udang dan bandeng, dengan sistem budidaya semi-intensif hingga intensif. Dukungan laboratorium kesehatan ikan dan uji kualitas air disediakan pemerintah daerah untuk menekan risiko penyakit dan kematian massal yang dapat menggerus produktivitas.
Edi mengatakan, kontribusi hampir sepertiga terhadap produksi provinsi juga mencerminkan besarnya skala ekonomi sektor ini di Indramayu. Ribuan nelayan dan pembudidaya menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan, yang sekaligus berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di tingkat kabupaten.
Namun, kinerja tersebut tidak lepas dari tantangan. Anomali iklim dan perubahan cuaca ekstrem menjadi risiko utama yang berdampak pada keselamatan melaut serta fluktuasi hasil tangkapan. Untuk meredam dampak ekonomi, Pemkab Indramayu memperluas cakupan perlindungan sosial melalui program asuransi nelayan dan fasilitasi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi nelayan kecil secara bertahap.
"Kami rutin memperbarui informasi fishing ground berbasis data kondisi cuaca dan potensi sebaran ikan. Informasi ini disampaikan setiap hari guna membantu nelayan menentukan lokasi tangkap yang lebih efisien, menekan biaya operasional bahan bakar, serta meminimalkan risiko kecelakaan laut," kata Edi.
Selain itu, penguatan akses pasar juga menjadi fokus. Pemerintah daerah mendorong peningkatan kualitas pengolahan hasil perikanan, termasuk produk beku dan olahan bernilai tambah, agar tidak semata bergantung pada penjualan ikan segar. Strategi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat nelayan sekaligus memperluas pasar antardaerah.
Edi menegaskan, arah kebijakan perikanan Indramayu tidak hanya mengejar peningkatan volume produksi, tetapi juga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Menurutnya, keberlanjutan sumber daya laut menjadi prasyarat agar kontribusi 32,9% terhadap Jawa Barat dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
"Dengan struktur usaha yang relatif lengkap, dukungan perlindungan sosial, serta pemanfaatan teknologi informasi perikanan, Indramayu optimistis sektor ini tetap menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Di tengah kebutuhan protein hewani yang terus meningkat, peran Indramayu sebagai penyedia utama pasokan ikan bagi Jawa Barat diperkirakan akan semakin strategis dalam beberapa tahun ke depan," katanya.





