VIVA – Tradisi menyajikan kue kering saat Lebaran masih terus bertahan di tengah perubahan selera generasi baru. Bedanya, tren 2026 disebut menunjukkan pergeseran yang cukup signifikan.
Jika sebelumnya nastar, kastengel, dan putri salju mendominasi, kini pilihan semakin beragam. Kukis dengan campuran cokelat, keju, hingga pistachio mulai dilirik karena menawarkan pengalaman rasa berbeda, terutama bagi generasi muda yang ingin sajian Lebaran terasa lebih modern.
Perubahan ini juga dibaca pelaku industri sebagai peluang inovasi. Beberapa produsen menghadirkan varian baru untuk menjangkau selera konsumen yang lebih luas, tanpa meninggalkan produk legendaris yang sudah melekat dengan tradisi Lebaran.
Misalnya produsen kue kering asal Bandung, J&C Cookies merilis tiga varian baru untuk Idul Fitri 2026, yaitu Almond Choco Cheese, Caramel Pistachio, dan Button Cookies.
Business & Development Manager J&C Cookies, Farhan Basyir, mengatakan pengembangan rasa baru dilakukan melalui proses yang tidak singkat agar tetap sesuai dengan preferensi pasar.
“Kita harus melalui riset panjang untuk mengeluarkan varian baru, supaya bisa menjangkau lebih banyak selera konsumen,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 17 Februari 2026.
Inovasi tersebut dinilai penting karena konsumen kini tak hanya mempertimbangkan rasa, tetapi juga kualitas bahan. Penggunaan butter premium, cokelat berkualitas, hingga bahan alternatif yang lebih ramah diet mulai menjadi perhatian.
Selain rasa, tren hampers eksklusif ikut mendorong perubahan pasar. Kemasan elegan dan desain modern membuat kue kering Lebaran kini juga berfungsi sebagai hadiah relasi maupun kolega.
Meski tren terus berkembang, fungsi utamanya tetap sama: menjadi simbol kebersamaan saat hari raya. Hanya saja, kini kue Lebaran hadir dengan wajah yang lebih modern, mengikuti gaya hidup dan selera generasi baru.





