Liputan6.com, Jakarta - Fenomena triple planetary crisis atau tiga krisis utama global kini tengah melanda Indonesia, yang meliputi krisis iklim, krisis pencemaran, serta krisis keanekaragaman hayati.
Pernyataan tersebut dipaparkan oleh Menteri Lingkungan Hidup (Menteri LH) Hanif Faisol Nurofiq dalam kegiatan Aksi Bersih Sungai dan penanaman pohon di aliran Sungai Cikeas, Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar).
Advertisement
"Kita benar-benar berada di dalam pusaran triple planetary crisis. Ini bukan lagi isu dunia, ini sudah menjadi tantangan nyata yang kita hadapi dari hari ke hari," kata Hanif, melansir Antara, Senin 16 Februari 2026.
Menurut Hanif, merujuk pada data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mencatat suhu global pada 2024 menjadi yang terpanas sepanjang sejarah, dengan kenaikan mencapai 1,4 derajat Celsius dibanding masa pra-industri.
"Kenaikan suhu 1,4 derajat ini sangat berdampak bagi negara tropis seperti Indonesia. Curah hujan ekstrem, hidrometeorologi, banjir, dan kenaikan muka air laut sudah menjadi pola baru, bukan lagi anomali," papar dia.
Berdasarkan data dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM), lanjut Hanif, ketiga krisis tersebut disebabkan oleh berbagai faktor.
"Pertama, masalah krisis iklim disebabkan oleh aktivitas manusia yang melakukan pelepasan emisi melalui penggunaan energi, industri, transportasi, bangunan, dan pertanian," ucap dia.
Konsekuensinya, lanjut Hanif, saat ini sudah terwujud melalui peningkatan intensitas dan parahnya kekeringan, naiknya permukaan laut, banjir, hingga penurunan keanekaragaman hayati.
"Kedua, krisis pencemaran disebabkan oleh berbagai bentuk pencemaran, seperti pencemaran air, udara dan tanah serta sampah," papar dia.
Udara adalah penyumbang polusi terbesar. Bahkan, sembilan dari sepuluh orang di seluruh dunia menghirup udara yang mengandung tingkat polutan yang melebihi pedoman WHO. Hal ini menyebabkan meningkatnya penyakit dan kematian dini di dunia.
"Ketiga, krisis keanekaragaman hayati akibat kegiatan seperti penangkapan ikan yang berlebihan hingga hilangnya habitat, misalnya penggundulan hutan untuk membuka jalan bagi pembangunan," terang Hanif.




