VIVA – Mantan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Ukraina, Kurt Volker, menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain kunci dalam dinamika geopolitik global, khususnya terkait perang Rusia dan Ukraina.
Hal itu disampaikannya dalam wawancara eksklusif bersama VIVA Media di sela agenda Munich Security Conference 2026, Senin 16 Februari 2026.
Volker menyoroti momentum strategis Indonesia menjelang agenda global tahun ini, terutama saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah KTT G20 Miami. Ia menilai Indonesia berpeluang mengambil peran sebagai pengarah agenda (agenda setter).
“Jika saya berada di Indonesia, saya akan fokus pada peluang menjadi agenda setter di KTT G20 Miami. Indonesia dapat bekerja erat dengan AS untuk menemukan isu bersama yang menguntungkan kedua negara,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 17 Februari 2026.
- Carscoops
Menurut Volker, posisi Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara memberi nilai strategis dalam membangun konsensus global, termasuk dalam merespons konflik yang berdampak luas terhadap stabilitas internasional.
Ia juga menilai Indonesia dapat memainkan peran sebagai jembatan antara negara Barat dan kawasan Global South. Dalam pandangannya, negara berkembang perlu melihat konflik Rusia–Ukraina dalam perspektif kolonialisme modern.
“Ini pada dasarnya adalah perang kolonial. Rusia berusaha menguasai kembali bekas wilayah kekaisarannya. Indonesia dapat membantu menjelaskan realitas ini dalam konteks global south maupun G20,” katanya.
Selain narasi politik, Volker menyoroti aspek ekonomi energi. Ia menegaskan pembelian minyak dan gas dari Rusia berpotensi memperpanjang konflik.
“Jika Anda membeli minyak dan gas Rusia, Anda memberi dana bagi mereka untuk melanjutkan perang. Ini bertentangan dengan tujuan perdamaian,” tegasnya.
Isu tersebut dinilai dapat menjadi salah satu poin konkret yang dibawa Indonesia dalam forum dialog internasional, mengingat dampaknya terhadap stabilitas global dan keamanan energi.
Terkait posisi politik luar negeri Indonesia, Volker menilai strategi otonomi strategis tetap penting, namun tidak bisa diartikan sebagai netralitas mutlak.
“Indonesia memiliki banyak keselarasan kepentingan dengan AS. Namun situasinya berbeda dengan China atau Rusia,” ujarnya, sembari mengingatkan potensi tantangan keamanan jika pengaruh Rusia kembali menguat di kawasan Pasifik.





