Penulis: Fityan
TVRINews-Tokyo
Ketegangan diplomatik terkait isu Taiwan memicu penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Tokyo
Arus wisatawan asal China ke Jepang dilaporkan merosot tajam selama periode libur Tahun Baru Imlek. Fenomena ini menandai titik terendah baru dalam hubungan kedua negara, seiring meningkatnya perselisihan diplomatik antara Tokyo dan Beijing mengenai stabilitas keamanan di Selat Taiwan.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Transportasi Jepang, jumlah kunjungan wisatawan China pada Desember lalu menyusut hampir separuh dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Tren penurunan ini diprediksi akan terus berlanjut selama masa puncak perjalanan 40 hari (Chunyun), dengan perkiraan penurunan hingga 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini menempatkan Jepang keluar dari daftar 10 besar destinasi utama bagi warga Tiongkok.
Para pelancong kini lebih memilih negara-negara tetangga seperti Thailand, Singapura, Vietnam, hingga Rusia sebagai tujuan utama mereka.
Eskalasi Retorika Keamanan
Ketegangan memuncak dipicu oleh pernyataan Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Sanae Takaichi, yang menyebut keterlibatan militer sebagai opsi jika krisis di Selat Taiwan mengancam eksistensi Jepang.
Beijing merespons keras pernyataan tersebut dengan tuduhan upaya menghidupkan kembali militerisme masa lalu.
Dalam Konferensi Keamanan Munich baru-baru ini, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, memberikan peringatan tegas kepada Tokyo.
"Negara-negara pencinta damai harus memberikan peringatan jelas kepada Jepang: jika ia memilih untuk kembali ke jalur ini, ia hanya akan menuju kehancuran diri sendiri," ujar Wang Yi.
Senada dengan itu, perwakilan khusus China untuk urusan Semenanjung Korea, Liu Xiaoming, menyamakan retorika Jepang saat ini dengan ambisi kolonial masa lalu melalui pernyataan di platform X, merujuk pada peristiwa Pearl Harbor sebagai pelajaran sejarah yang tidak boleh diulang.
Respons Diplomatik dan Peringatan Perjalanan
Kementerian Luar Negeri Jepang membantah keras tuduhan tersebut. Dalam keterangan resminya, Tokyo menegaskan bahwa penguatan kapabilitas pertahanan adalah respons terhadap lingkungan keamanan yang semakin kompleks dan tidak ditujukan kepada negara tertentu.
"Upaya Jepang dalam memperkuat pertahanan adalah respons terhadap situasi keamanan yang kian berat dan bukan diarahkan pada pihak ketiga mana pun," tulis pernyata resminya yang di kutip The Guardian Selasa 17 Februari 2026.
Di sisi lain, otoritas di Beijing mulai mengeluarkan serangkaian peringatan keamanan bagi warga negaranya yang hendak berkunjung ke Jepang.
Konsulat Jenderal China di Osaka baru-baru ini mengimbau warga untuk waspada menyusul insiden kriminal di area wisata, meskipun insiden tersebut tidak melibatkan warga negara China.
Suara dari Akar Rumput
Meski tekanan politik menguat, sebagian kecil wisatawan tetap memilih untuk menyeberang ke Negeri Sakura. Mengutip laporan Kyodo News, beberapa warga China tetap melihat pentingnya hubungan antarmasyarakat di luar ranah politik.
Seorang wisatawan asal Shanghai menyatakan bahwa keputusan kunjungannya tidak terpengaruh oleh peringatan perjalanan dari pemerintah.
"Peringatan perjalanan tersebut bertujuan untuk memicu kritik terhadap Jepang. Namun, keluarga saya tidak terpengaruh oleh hal itu," ungkapnya.
Penurunan ini menjadi tantangan besar bagi industri pariwisata Jepang, mengingat wisatawan China merupakan kontributor ekonomi signifikan di tengah melemahnya nilai tukar Yen yang sebenarnya tengah memicu lonjakan turis dari negara-negara lain.
Editor: Redaksi TVRINews





