Pemerintah Kota Medan bersama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melakukan persiapan dalam penetapan awal bulan suci Ramadan 1447 H.
Pantauan kumparan pada hari Selasa (17/2) sekitar pukul 17.19 WIB, terlihat para petugas dari Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU sedang mempersiapkan alat-alat berupa teleskop untuk melihat hilal secara langsung.
Terdapat 3 teleskop yang dipasang untuk melihat hilal dengan kejauhan.
Kepala OIF UMSU, Arwin Juli Rakhmadi Butarbutar mengatakan bahwa kegiatan pemantauan hilal ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya bersama Pemerintah Kota Medan.
Ia mengatakan, pemantauan hilal akan dilaksanakan sekitar pukul 18.40 WIB. Namun, Arwin menilai pemantauan hilal nanti tidak akan berhasil.
"Pengamatan hilal yang kita lakukan nanti, itu tidak akan berhasil. Karena hilalnya masih berada di bawah ufuk," ucap Arwin di lokasi.
Ia menjelaskan, berdasarkan data astronomis menjelang awal Ramadan dan pascaterbenamnya matahari bahwa hilal sudah di bawah ufuk.
"Untuk awal Ramadan kali ini, kita tahu data astronomis menjelang Ramadan ini dan pascaterbenam matahari nanti, itu hilalnya sudah di bawah ufuk atau negatif atau minus. Bahkan, ijtima sendiri atau konjungsi itu baru terjadi pukul 19.00 WIB," ujar Arwin.
Arwin menuturkan, metode yang digunakan Muhammadiyah untuk penetapan awal Ramadan dengan KHGT atau Kalender Hijriah Global Tunggal. Sebelumnya, metode yang digunakan dengan Wujudul Hilal.
"Artinya, keterlihatan hilal atau posisi hilal ketika sudah memenuhi 5 derajat. Karena angka ini yang disepakati, maka itu sudah menjadi panduan bahwa tanggal 1 Ramadan sudah masuk," imbuh Arwin.
"Nah, untuk awal Ramadan kali ini ketinggian hilal 5 derajat itu sudah terpenuhi di Alaska, Amerika. Sehingga dalam hal ini, Muhammadiyah merujuk kepada posisi hilal tersebut," sambung Arwin.
Sehingga Muhammadiyah menetapkan awal bulan Ramadan pada malam hari ini. Arwin mengatakan, untuk awal Ramadan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama atau Pemerintah Indonesia akan berbeda.
"Muhammadiyah menetapkan hari ini atau malam nanti itu sudah masuk tanggal 1 Ramadan yang tentu ini akan berbeda dengan di Indonesia. Yang bisa diprediksi bahwa pemerintah atau Kementerian Agama akan menetapkan lusa. Sehingga tanggal 1 Ramadannya itu menjadi tanggal 19 Februari nanti," ucap Arwin.
Arwin mengatakan, saat matahari terbenam pada pukul 18.40 WIB nanti, dipastikan tidak akan terlihat hilal dengan minus 1 derajat.
"Nanti ketika matahari terbenam pukul 18.40 WIB, di situlah waktu kita melakukan pengamatan hilal. Di jam itu, posisi hilalnya minus 1 derajat. Jadi, dia di bawah ufuk itu sudah 1 derajat. Sehingga dipastikan tidak akan mungkin bisa terlihat dengan menggunakan alat apa saja begitu," pungkas Arwin.





