JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta melakukan pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Hasyim Asy'ari, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026).
Ketua Lembaga Falakiyah PWNU DKI Jakarta, KH Abdul Kholiq, mengatakan dalam pemantauan tersebut, pihaknya menggunakan dua teleskop yang berbeda, yakni teleskop robotik dan alat tradisional rubbu’ mujayyab.
Dua teleskop itu dilakukan dengan cara yang berbeda.
Baca juga: Pantauan Hilal Sementara di Kemenag Jakarta: Posisi Jauh di Bawah Ufuk
Pertama Teleskop Robotik yang telah dilengkapi kamera sehingga hasil pengamatan dapat langsung terekam dalam bentuk citra hilal.
“Dari teleskop itu kemudian disambungkan ke kamera. Dari kamera itulah kita bisa melihat hilal nampak atau tidak. Jadi kami tidak manual lagi harus pakai ngintip-ngintip, cukup lihat dari hasilnya di kamera,” kata dia.
Kemudian kedua, PWNU DKI Jakarta juga menggunakan alat teodolit untuk mengukur posisi dan sudut ketinggian benda langit, serta rubbu’ mujayyab sebagai teleskop manual.
"Ditambah dengan alat manual yaitu rubbu mujayyab. Yang secanggih dan yang sesederhana kami siapkan, kami hadirkan di kegiatan Rukyatul Hilal Pada kesempatan sore ini," jelas dia.
Menurut Abdul Kholiq, pengkolaborasian dengan dua jenis teleskop tersebut dilakukan sebagai antisipasi jika salah satu alat tidak dapat menangkap hilal.
“Secanggih alat apa pun, titik error kadang-kadang suka ada saja. Kalau dengan alat canggih tidak terlihat, siapa tahu bisa terlihat dengan menggunakan mata telanjang. Ini sifatnya untuk saling menunjang,” jelas dia.
Berdasarkan perhitungan, hilal diprediksi muncul pada pukul 18.16 WIB atau bertepatan dengan waktu Maghrib.
Baca juga: Pemantauan Hilal Ramadhan Dimulai 30 Menit Sebelum Matahari Terbenam
Namun, secara astronomi ketinggian hilal pada sore hari ini berada di posisi minus 1 derajat.
“Dalam bahasa NU, hilal itu bisa terlihat apabila sudah sampai di ketinggian minimal 3 derajat. Kondisi hilal pada kesempatan sore ini minus 1 derajat. Artinya secara ilmiah akan sulit terlihat,” kata Abdul Kholiq.
Meski demikian, ia menegaskan pihaknya tetap melakukan pemantauan hingga waktu yang ditentukan.
Hasil rukyatul hilal selanjutnya akan dilaporkan kepada Pengurus Besar NU dan Kementerian Agama sebagai bahan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




