Badan Hisab Rukyat Sulawesi Selatan memperkirakan 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada Kamis (19/2).
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Bidang Hisab Rukyat Badan Hisab Rukyat Provinsi Sulawesi Selatan, Abbas Padil saat pemantauan hilal di Makassar, Selasa (17/2) tadi sore.
"Insyaallah, 1 Ramadan jatuh pada hari Kamis," kata Abbas.
Menurutnya, Ijtima akhir Syakban 1447 Hijriah itu, bertepatan dengan tanggal 17 Februari 2026, yaitu pada pukul 20.01 WITA, dengan posisi lintang tempat di Makassar berada pada 5° 08’ 59” LS dan bujur 119° 23’ 39” BT, dengan bujur daerah 120° WITA.
Ia melanjutkan, adapun deklinasi matahari tercatat -11° 54’ 39”, sedangkan deklinasi bulan -13° 08’ 10,27”.
"Parameter astronomi lainnya turut menjadi dasar perhitungan," sambungnya.
Dari data yang diperoleh tersebut, kata dia, disinkronkan dengan data pengamatan hilal yang dilakukan pada Selasa (17/2) sore tadi. Di mana, hari ini matahari di Kota Makassar, terbenam pada pukul 18.24 WITA.
Sementara tinggi hilal adalah minus 1 derajat 4 menit 55 detik. Sehingga, kata Abbas, hal ini terjadi istikmal, bulan Syakban harinya 30 hari.
"Karena terjadi istikmal, jadi tanggal 1 Ramadan insyaallah akan jatuh pada tanggal 19 Februari hari Kamis," jelasnya.
Kendati demikian, untuk memastikan awal 1 Ramadan akan ditentukan melalui sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Jakarta.
"Kita tetap akan menunggu dari Kementerian Agama, mengenai (putusan) sidang isbatnya," pungkasnya.
Sementara itu, Kakanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menegaskan Sidang Isbat tetap akan menjadi mekanisme resmi pemerintah dalam menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah.
“Kementerian Agama sebagai perwakilan pemerintah tentunya perlu konfirmasi secara langsung dengan melihat posisi hilal dan diputuskan melalui sidang isbat,” katanya.
Ia mengatakan, bahwa pemantauan di Makassar pada Selasa (17/2) sore, belum nampak hilal.
"Untuk pengamatan hilal itu memang banyak kendala atau tantangannya. Bisa saja karena cuaca mendung, atau ketinggian hilal dan juga sudut elongasinya rendah. Semua itu kita pertimbangkan secara cermat,” katanya.
Ali mengimbau, apabila terdapat perbedaan penentuan 1 Ramadan nantinya, agar tetap saling menghargai atau menghormati.
"Masyarakat Indonesia dan khususnya Sulsel telah berpengalaman dan tetap rukun dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan pada tahun sebelumnya. Kita berpengalaman menyatu di tengah perbedaan,” harapnya.




