Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melaksanakan pemantauan atau rukyatul hilal di kampus UINSA Surabaya, Selasa sore (17/2). Hasilnya, hilal penentu awal bulan Ramadan belum terlihat di Surabaya.
Ketua Program Studi Ilmu Falak UINSA, Siti Tatmainul Qulub, mengatakan berdasarkan pemantauan yang dilakukan, posisi hilal Ramadan tak terlihat atau masih berada di bawah ufuk.
"Hari ini kita sudah lihat ya tidak ada tanda keterlihatan hilal. Karena sejak jam 17.00 WIB tadi kita mulai memantau hilal cuaca mendung," kata Siti saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2).
"Harusnya 17.53 WIB matahari terbenam dan sampai saat ini tidak melihat hilal. Karena hilalnya terbenam terlebih dahulu, artinya hilal sudah di bawah ufuk," tambahnya.
Siti menyampaikan, berdasarkan pemantauan dan observasi di titik Surabaya menunjukkan hilal berada pada ketinggian minus 1 derajat 16 menit dengan elongasi sekitar 1 derajat 13 menit.
Hasil tersebut belum memenuhi kriteria yang ditetapkan NU, yakni minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
"Kalau berdasarkan hisab hilal di Surabaya adalah minus 1 derajat," ucapnya.





