Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) akan ditopang oleh performa anak usahanya, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) di tengah lesunya harga minyak global yang menekan kinerja konsolidasian. Ekspektasi ini sekaligus meningkatkan rating saham MEDC.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya yang terbit 3 Februari 2026 memproyeksi MEDC pada kuartal IV/2025 tetap dapat mempertahankan ketahanan laba didukung oleh kontribusi non-migas, khususnya dari Amman Mineral setelah mengantongi persetujuan kuota ekspor konsentrat tembaga sebesar 480.000 dmt hingga April 2026.
"Kami memperkirakan hal ini akan mendorong pemulihan laba bersih kuartal IV/2025 sebesar 43% secara kuartalan (QoQ), sehingga memberikan penyeimbang yang signifikan terhadap tekanan harga di segmen hulu. Meski demikian, secara tahunan laba bersih 2025 full year masih diproyeksikan sekitar 10,3% di bawah estimasi konsensus," tulisnya dalam riset, dikutip Senin (17/2/2026).
Normalisasi ekspor Amman Mineral juga menurunkan risiko koreksi laba MEDC lebih dalam seiring dengan pelemahan harga minyak yang diprediksi akan turun ke US$65 per barel dibanding US$70 per barel di periode sebelumnya.
Dari segmen hulu, Andhika dan Naura menjelaskan bahwa manajemen MEDC menargetkan produksi migas sebesar 165-170 mboepd pada 2026, didorong peningkatan participating interest di PSC Corridor menjadi 70%. Sekuritas memperkirakan hal ini dapat menambah sekitar US$145 juta EBITDA pada harga mid-cycle, termasuk sekitar US$90 juta dari kontrak gas tetap.
Khusus PSC Corridor, Sekuritas memprediksi pada 2026 akan berkontribusi sekitar 30% dari total produksi MEDC dan menjadi tulang punggung portofolio migasnya.
Baca Juga
- Medco Jadi Operator Blok Cendramas, Ekspansi Perdana ke Malaysia
- Anak Medco (MEDC) Raih Kontrak PSC Cendramas dari Petronas
- 8 Proyek Migas Ditarget Beroperasi Tahun Ini, Ada Pertamina hingga Medco
Kemudian, di sisi kelistrikan manajemen menargetkan penjualan listrik sekitar 4.550 GWh pada 2026, didukung oleh dimulainya proyek Ijen dan Sumbawa fase 2 serta tambahan kapasitas dari Batam IPP sebesar 95 MW.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pendapatan MEDC pada 2025 mencapai US$2,10 miliar dengan laba bersih US$137 juta, lalu menjadi US$2,32 miliar dan US$270 juta pada 2026, kemudian mencapai US$2,39 miliar dan US$291 juta pada 2027.
"Kami menaikkan proyeksi laba bersih 2026-2027 sebesar 12% sampai 37%, didorong oleh asumsi output migas yang lebih tinggi sebesar 165 mboepd, dibanding 146 mboepd sebelumnya. Ini memberikan bantalan terhadap asumsi harga minyak kami yang lebih konservatif," tulis mereka.
Atas proyeksi itu, Sekuritas melakukan re-rating rekomendasi buy dari semula target harganya Rp1.320 menjadi Rp2.000. Pada penutupan Jumat (13/2), MEDC ditutup di level harga yang tak berubah, tetap di Rp1.580. Secara year to date (YtD), harga MEDC telah naik 17,47%,
Melansir Bloomberg Terminal, 20 analis (100%) merekomendasikan buy saham MEDC dengan target harga Rp1.910 dalam 12 bulan ke depan, mencerminkan potensial return 24,9% dari harga Rp1.530.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





