Puasa sebagai Gerakan Sosial

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Ramadan selalu datang dengan gegap gempita, spanduk, bazar, diskon, hingga ragam konten media sosial bertebaran menyambut bulan suci. Namun di tengah kemeriahan simbolik itu, sering kali esensi Ramadan justru terpinggirkan.

Dalam konteks inilah, buku Puasa sebagai Gerakan Sosial, karya Prof. Dr. Abdul Mu’ti, terbit Februari 2026 oleh Semesta Insani Mandiri (138 halaman)—hadir tepat pada waktunya. Buku ini bukan sekadar bacaan munggahan, melainkan juga sebuah undangan reflektif untuk menjadikan puasa sebagai energi transformasi batiniah dan sosial.

Sejak pengantar, Prof. Mu’ti mengajukan pertanyaan fundamental: Bisakah puasa melahirkan transformasi batin yang selanjutnya menjelma menjadi transformasi sosial? Pertanyaan ini relevan di tengah kecenderungan umat yang lebih menekankan kuantitas ibadah daripada kualitasnya.

Membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an tentu penting, tetapi memahami dan mengamalkannya jauh lebih mendesak. Puasa—dalam perspektif Mu’ti—adalah perisai yang membentengi manusia dari riya, pamer, dan pencarian validasi sosial. Ia mengembalikan kebaikan pada fitrahnya yang sunyi tanpa publikasi, tetapi nyata dan berdampak.

Buku dibuka dengan bagian “Puasa dengan Gembira” yang mengajak pembaca melihat puasa bukan sebagai beban, melainkan panggilan istimewa. Orang yang berpuasa adalah mereka yang dipilih untuk menempuh kawah candradimuka pengendalian diri.

Dari sini, pesan besar mulai mengerucut: banyak persoalan sosial bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya pengendalian diri. Korupsi, ketidakadilan, konsumtivisme, hingga konflik sosial sering kali berakar pada ketidakmampuan menahan diri.

Bagian berikutnya, “Just Do It”, menawarkan kesederhanaan beribadah: rileks, tidak ribet, tidak canggung. Ada nuansa percaya diri dengan jalani dan hadapi, jangan takut. Ramadan tidak perlu dibingkai dengan kecemasan berlebihan karena yang diperlukan adalah konsistensi dan ketulusan.

Kritik Prof. Mu’ti dibingkai dalam paradoks Ramadan, yang secara teologis mencerminkan bahwa puasa mengajarkan hidup hemat dan memperkuat solidaritas. Namun secara sosiologis, justru terjadi lonjakan konsumsi. Pengeluaran rumah tangga membengkak, kebutuhan pangan meningkat, bahkan berat badan tak jarang bertambah.

Pesan pengendalian diri seolah hanya memindahkan jadwal makan, bukan mengubah pola hidup. Di sinilah Prof. Mu’ti menawarkan gagasan “saving for sharing”, sebuah gerakan hidup hemat dan berbagi.

Menariknya, buku ini tidak berhenti pada seruan moral, sehingga puasa sebagai gerakan sosial tidak boleh bersifat emosional sesaat, tetapi membutuhkan sistem, tata kelola, dan keberlanjutan. Cara keluarga membangun pola hidup, komunitas mengelola solidaritas, lembaga menyalurkan amanah, dan masyarakat memaknai keadilan menjadi bagian ekosistem perubahan.

Sedekah tidak sekadar memberi, tetapi juga memastikan keberdayaan dengan memberi pendidikan, keterampilan, modal, dan akses, sehingga kaum duafa dapat makan dengan ilmu dan kesempatan kerja.

Buku ini juga menyoroti fenomena flexing yang marak, termasuk saat Ramadan. Pamer ibadah, pamer donasi, hingga pamer gaya hidup religius sering kali berakar pada rasa insecure dan kebutuhan pengakuan.

Puasa justru mengajarkan kesunyian integritas yang mendidik manusia untuk sabar ketika berjaya sehingga hati-hati dan tidak melampaui batas saat memiliki harta, pangkat, dan jabatan. Kekuasaan—dalam bingkai puasa sebagai sarana kebajikan—bukan legitimasi keserakahan.

Dalam membangun relevansi kekinian, Prof. Mu’ti mengaitkan refleksinya dengan buku Right Thing, Right Now besutan Ryan Holiday, yang mengajak pembaca berbuat benar saat ini juga. Semangatnya sejalan bahwa integritas bukan konsep abstrak, melainkan tindakan konkret keseharian.

Ramadan menjadi momentum muhasabah, proses evaluasi diri yang atau self-observed learning outcome (SOLO)—yang bukan sekadar introspeksi emosional, melainkan juga pembelajaran sadar yang mengubah perilaku.

Dimensi literasi digital juga mendapat perhatian karena puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan “jempol”. Banyak kekacauan sosial lahir dari klik impulsif dengan menyebarkan hoaks, memotong video tanpa konteks, membuat judul provokatif, atau sekadar memberikan komentar bercanda yang melukai.

Buku ini mengingatkan pentingnya meninggalkan al-zur alias perkataan dan kabar bohong dalam ragam bentuknya, termasuk berita palsu dan disinformasi. Ramadan harus menjadi bulan literasi, dengan kajian yang sistematis dan narasumber yang selektif.

Lebih jauh, Ramadan digambarkan sebagai bulan pendidikan karakter yang melatih disiplin secara konsisten, pengendalian diri dalam kekuasaan, empati yang mampu memupuk solidaritas, dan akhlak sebagai ukuran keberhasilan.

Kemewahan Ramadan bukan diukur dari hidangan berbuka atau dekorasi masjid, melainkan dari ketenangan jiwa, keringanan memaafkan, dan ketertiban sosial yang tercipta. Kemewahan paling lestari adalah kebermaknaan yang membuat manusia lebih sederhana tanpa kehilangan martabat, lebih teguh tanpa kehilangan kelembutan.

Konsep “Healing Ramadan” yang ditawarkan Prof. Mu’ti pun menarik karena bukan romantisasi kesedihan atau pelarian dari realitas, melainkan kerja sunyi untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya.

Konsistensi menjadi kunci karena tidak mungkin berharap ketenangan sambil memelihara permusuhan, atau meminta kelapangan rezeki sembari menutup mata terhadap hak orang lain. Perubahan karakter untuk lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli merupakan indikator keberhasilan puasa.

Secara struktur, ada beberapa loncatan gagasan yang terasa cepat, tapi di situlah daya pikatnya karena buku ini ringan, reflektif, dan mudah dicerna. Setiap bagian seperti percikan ide yang memancing pembaca untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apakah Ramadan tahun ini akan sama seperti tahun lalu?

Puasa sebagai Gerakan Sosial merupakan ajakan menggeser paradigma: dari ritual menuju karakter, dari simbol menuju substansi, dan dari kesalehan individual menuju kebajikan publik. Puasa relevan bukan hanya bagi individu, melainkan juga bagi keluarga, komunitas, bahkan pengambil kebijakan yang ingin menjadikan Ramadan sebagai energi perubahan sosial.

Membaca buku ini menjelang Ramadan serasa menata ulang niat karena mengingatkan bahwa setelah sebulan berpuasa, kita seharusnya tidak kembali menjadi pribadi yang sama, tetapi berubah menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih peka, dan lebih siap menjadi pintu rahmat bagi sesama. Jika Ramadan benar-benar menjadi gerakan sosial, empati akan melahirkan keadilan dan keadilan akan menghadirkan rasa aman.

Ala kulli hal, buku ini layak dinikmati untuk mengoptimalkan puasa tahun ini agar lebih baik dari tahun kemarin sehingga lebih bermakna, lebih berdampak, dan lebih membumi. Pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan, melainkan juga tentang menata—bukan sekadar menunggu magrib, tetapi membangun peradaban.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Zodiak Siap Menjemput Takdir Cinta Terindah: Taurus Harmonis, Pisces Cerah
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
Kapan Tarawih Pertama 2026 Dimulai? Cek Estimasinya
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Gap Literasi dan Inklusi Asuransi Masih Menganga, Gini Cara OJK Tutup Gap Asuransi
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sidang Isbat 1 Ramadan Bakal Digelar, Begini Prakiraan Posisi Hilal Hari Ini
• 10 jam laludetik.com
thumb
Libur Imlek, KCIC Hibur Penumpang dengan Atraksi Barongsai
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.