REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS— Suriah, pada Senin (17/2/2026) ini, menurut Kantor Berita Sanaa meluncurkan Piagam Persatuan Wacana Islam untuk menyatukan pendapat para ulama dan dai dari berbagai mazhab dalam masalah-masalah agama umum.
Menteri Agama Suriah, Muhammad Abu al-Khair Shukri, dikutip dari Aljazeera, Selasa (17/2/2026) menekankan pentingnya memulihkan kesatuan wacana Islam di Suriah melalui piagam yang mencakup berbagai spektrum identitas Islam yang mengatur arah kerja agama dalam menghadapi tantangan saat ini.
- Hilal tak Penuhi Kriteria MABIMS, Awal Ramadhan 2026 Diperkirakan Kamis
- Blak-blakan ke Media Inggris, Wamenlu Iran: Perang Berikutnya akan Traumatis
- Media AS Ini Ungkap Kesepakatan Hasil Pertemuan Dua Sejoli Trump dan Netanyahu Terkait Iran
Menteri tersebut menegaskan selama konferensi yang dihadiri Presiden Ahmad al-Shara itu, tentang pentingnya mengadopsi wacana moderat yang menanamkan keramahan dan cinta, serta menjauhi wacana kebencian yang memicu perselisihan, sekte, dan doktrin, menurut penjelasannya.
Shukri menggambarkan piagam tersebut sebagai perjanjian nasional yang bertujuan untuk mengubah hubungan antara warga Suriah dari keadaan terpecah belah menjadi tingkat koordinasi dan kerja sama kelembagaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dia menambahkan, sejak hari pertama upaya untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad, Kementerian telah berupaya untuk menyatukan suara para ulama pada Desember 2024 dan mengadopsi retorika yang menyatukan, bukan memecah belah.
وزير الأوقاف محمد أبو الخير شكري يتحدث خلال مؤتمر وحدة الخطاب الإسلامي عن خطط الوزارة لتكون المساجد منارة تستنير منها الأجيال بمحاسن الأخلاق ومكارم الخصال
رابط الكلمة الكاملة على يوتيوبhttps://t.co/mu49TES032#الإخبارية_السورية pic.twitter.com/yE19ei08IV — الإخبارية السورية (@AlekhbariahSY) February 16, 2026Shukri menganggap piagam tersebut sebagai dokumen yang bertanggung jawab untuk mengatur keragaman fiqih, pemikiran, dan mazhab, sehingga memastikan perbedaan pendapat tetap berada dalam lingkup kasih sayang dan menjaga stabilitas ilmu pengetahuan serta kesatuan agama, menurutnya.
Dia menambahkan, Kementerian telah menyusun rencana dan sasaran strategis agar masjid-masjid di Suriah menjadi "menara yang menerangi generasi dengan akhlak yang baik, dan dari mana dunia belajar makna moderasi, keseimbangan, dan keaslian".




