HARIAN FAJAR, MAKASSAR – Ritual adat Maggawe Samampa yang telah berlangsung selama lebih dari empat abad di Desa Pattimang, Kabupaten Luwu Utara, kembali menjadi momentum penting dalam melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya leluhur sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat menyambut bulan suci Ramadan.
Ritual adat ini sudah dimulai sejak tahun 1603 Masehi dan awalnya dikenal dengan nama Makkasiwiang atau Maseddi-seddi, yang merupakan tradisi menyambut Ramadan yang dibawa oleh ulama Minangkabau, Dato’ Sulaiman, yang kemudian dikenal sebagai Datuk Pattimang. Seiring waktu, selama dua dekade terakhir, kegiatan ini dikenal dengan nama Maggawe Samampa dan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan puncak perayaan yang meriah.
Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, hadir langsung dalam pelaksanaan ritual yang digelar di Kompleks Makam Datuk Pattimang, Malangke, pada Senin (16/2/2026). Kehadirannya disambut antusias oleh warga setempat yang menilai komitmen pemerintah daerah sangat tinggi dalam melestarikan warisan budaya dan adat istiadat.
Dalam sambutannya, Bupati Andi Rahim menegaskan bahwa kegiatan Maggawe Samampa merupakan warisan leluhur yang wajib dijaga dan dijadikan kekuatan dalam masyarakat. Ia berharap seluruh masyarakat dapat terus menjaga nilai-nilai luhur serta kebiasaan baik yang berkembang di tengah-tengah komunitas.
“Ini merupakan warisan leluhur kita yang sudah harus kita jaga dan kita jadikan sebagai sebuah kekuatan dalam masyarakat kita. Kita berharap, semua kita ini dapat menjaga nilai-nilai luhur dan kebiasaan-kebiasaan baik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa adat dan agama tidak boleh saling melemahkan, melainkan harus saling menguatkan. Ia mencontohkan dalam Islam terdapat kebiasaan yang diambil dari tradisi baik masyarakat.
“Dalam Islam, ada yang namanya kebiasaan yang diambil dari kebiasaan-kebiasaan baik yang berkembang di dalam masyarakat kita,” katanya.
Bupati Andi Rahim menerangkan bahwa ritual ini membuktikan kekuatan dan kebersamaan warga, khususnya yang beragama Islam, dalam menyambut Ramadan yang penuh berkah dan ampunan Allah SWT.
“Hari ini, kita melihat warga bersama-sama, berkumpul, bersilaturahmi, dan saling berbagi. Ini membuktikan bahwa kita ini adalah bagian yang kuat dari sisi kebersamaan dan kekompakan dalam menyambut bulan suci Ramadan yang sudah dekat,” pungkasnya.
Tak hanya sebagai tradisi, Maggawe Samampa juga menjadi momentum bagi masyarakat Luwu Utara untuk mengenang sejarah masuknya Islam di wilayah Tana Luwu yang telah membawa banyak kebaikan tidak hanya di daerah tersebut, tetapi juga di Sulawesi Selatan, Kalimantan, bahkan sampai negara tetangga.
“Kegiatan ini juga sebagai momentum bagi kita semua untuk kembali mengingat sejarah dan kejayaan Islam di Tana Luwu ini, yang telah memberikan banyak kebaikan di seluruh wilayah. Bukan hanya di Tana Luwu, tetapi juga di jazirah Sulawesi Selatan. Bahkan sampai di Kalimantan dan negara tetangga kita,” terang Bupati Andi Rahim, yang juga alumnus Universitas Hasanuddin ini. (shd/*)




