Penulis: Wahyu Hidayat
TVRINews, Surabaya
Warga Kampung Pecinan Tambak Bayan, Surabaya, merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Tahun Kuda Api dengan penuh kesederhanaan namun tetap meriah. Perayaan dimulai sejak malam pergantian tahun dengan berbagai rangkaian acara, termasuk pertunjukan barongsai dan tari tradisional Tionghoa.
Perayaan Tahun Baru Imlek kali ini tetap mempertahankan tradisi tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah barongsai dengan warna-warni yang mencolok tampak lincah menyusuri gang-gang sempit di Kampung Tambak Bayan, salah satu kampung pecinan bersejarah di Surabaya.
Barongsai-barongsai ini mengunjungi rumah-rumah warga untuk mendapatkan angpau. Suasana semarak dan penuh keakraban terlihat saat warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, keluar rumah untuk menyaksikan pertunjukan seni tersebut dari dekat.
Setiap berhenti di depan rumah, barongsai menari dan memberikan gerakan khas sebagai simbol doa serta perlindungan. Atraksi saat barongsai berusaha mengambil angpau yang digantung tinggi menjadi hiburan tersendiri yang disambut tepuk tangan meriah dari warga sekitar.
Bagi masyarakat Tionghoa di Tambak Bayan, kehadiran barongsai diyakini membawa berkah, menolak bala, serta mendatangkan rezeki. Tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat tali persaudaraan antarwarga.
"Ini adalah moment silaturahmi kita di Kampung Pecinan setiap tahun dan mempererat kebersamaan dalam merayakan Imlek. Senang dan ramai jadinya," ujar Lee Ayune, warga Tionghoa Kampung Pecinan, Selasa 17 Februari.
Hal senada juga disampaikan oleh warga lainnya yang percaya bahwa membagikan angpau saat momen Imlek akan mendatangkan kebaikan bagi pemberinya.
"Semoga terus diberikan keberkahan, kebahagiaan serta kelancaran dalam menjalankan kehidupan dengan saling berbagi," kata Lim Swie Ing.
Perayaan ini menjadi bukti bahwa tradisi budaya tetap terjaga dengan baik di tengah perkembangan kota yang pesat. Barongsai blusukan bukan sekadar hiburan, melainkan simbol harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik.
Perayaan Imlek di Kampung Tambak Bayan kini telah menjadi bagian dari kalender wisata Kota Surabaya, mengingat statusnya sebagai salah satu pecinan terbesar di Pulau Jawa. Surabaya sendiri merupakan rumah bagi etnis keturunan Tionghoa yang telah lama berbaur dalam harmoni bersama warga kota lainnya yang multi-etnis.
Editor: Redaksi TVRINews





