Kasus Kanker Anak Melonjak, Padahal Kuncinya di Nutrisi yang Tepat

viva.co.id
17 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Peringatan Hari Kanker Anak Sedunia kembali menjadi momentum untuk menyoroti tantangan besar dalam penanganan kanker pada anak. Data dari Indonesian Pediatric Cancer Registry mencatat, sepanjang 2021–2022 terjadi lonjakan kasus baru kanker anak hingga 3.834 kasus. Angka ini mengingatkan bahwa kanker bukan hanya ancaman bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak.

Medical General Manager PT Kalbe Farma Tbk, dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi, AIFO-K, menjelaskan bahwa penyebab kanker pada anak berbeda dengan orang dewasa. Lalu, apa penyebabnya? Scroll untuk mengetahui jawabannya, yuk!

Baca Juga :
MBG Dinilai Bantu Ringankan Ekonomi Ortu Siswa, Evaluasi & Pemantauan Harus Diperkuat
Dokter Ungkap Upaya Menurunkan Stadium Kanker dan Meningkatkan Harapan Hidup Pasien di Indonesia

“Kanker yang dialami oleh anak terjadi bukan karena apa yang mereka makan tidak sehat, walau ini bisa menjadi pencetus kanker ketika mereka dewasa, tapi penyebab utama kanker pada anak adalah perubahan genetik atau mutasi pada DNA. Kedua, bisa juga karena polutan yang dapat menjadi penyebabnya. Ketiga, pertumbuhan sel-sel abnormal yang tidak mampu dimatikan oleh tubuh, dan dapat dikatakan bahwa nutrisi merupakan terapi pondasi keberhasilan suatu terapi kanker pada anak usia dini,” ujar dr. Dedyanto, dalam keterangannya, dikutip Rabu 18 Februari 2026. 

Menurutnya, dalam konteks kanker anak, nutrisi bukan sekadar soal makan cukup. Asupan gizi yang tepat menjadi fondasi penting agar tubuh mampu menghadapi efek samping terapi seperti kemoterapi, sekaligus mempercepat proses pemulihan.

Masalahnya, banyak anak yang menjalani terapi kanker mengalami gangguan makan. Mual, muntah, hingga sariawan kerap membuat nafsu makan menurun drastis. Jika kondisi ini tidak ditangani, anak berisiko mengalami malnutrisi.

“Malnutrisi adalah gejala awal dimulainya kondisi anoreksia, yang artinya hilangnya nafsu makan. Jika kebutuhan nutrisi tubuh yang tidak tercukupi tidak ditangani, kondisi yang tadinya malnutrisi dalam stadium ringan akan berubah menjadi kondisi yang berat, yaitu cachexia,” jelas dr. Dedyanto.

Cachexia tidak hanya ditandai dengan penurunan berat badan, tetapi juga hilangnya massa otot secara progresif yang disertai gangguan metabolik. Dalam tahap lanjut, kondisi ini dapat berkembang menjadi sarcopenia, yakni penurunan massa dan kekuatan otot yang semakin memperburuk daya tahan tubuh anak.

Baca Juga :
Anak 6 Sampai 59 Bulan Bakal Dapat MBG
Mengatasi Fenomena ‘Gunung Es’ Kekerasan Online
Heboh! Dua Anak SD di Garut Ngaku Jadi Korban Penculikan, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Bertemu Trump, Pengusaha RI Beri Pesan Begini
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hasil Lengkap Liga Champions: Juventus Dipermak Galatasaray, Dortmund Tekuk Atalanta
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
5 Mobil Listrik Paling Laris di Awal Tahun, BYD Mendominasi
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Kemarin, dari film Ghost in Cell hingga kerja sama teknologi Vietnam
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Ketua KPK: Pemberantasan Korupsi Harus Lebih Baik, Orang Lebih Suka Penindakan
• 1 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.