Layanan Kesehatan Mental Digital di Indonesia Diminati

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Kesehatan mental kian menjadi perhatian serius seiring meningkatnya angka kasus gangguan kesehatan jiwa seperti depresi, kecemasan, hingga bunuh diri, terutama di kalangan anak muda. Problem kesehatan itu tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi hingga ke pelosok negeri.

Namun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental profesional masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Hal ini disebabkan keterbatasan jumlah tenaga ahli, hambatan geografis, maupun stigma yang masih melekat di masyarakat.

Dukungan yang aksesibel bagi masyarakat segala usia untuk mendapatkan layanan kesehatan mental profesional ini mendesak karena masalah kesehatan mental terjadi di segala usia. Namun angka kasus gangguan kesehatan mental lebih  tinggi di kalangan anak dan remaja.

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Imran Pambudi seperti dikutip dari Kompas.id akhir Januari 2026, mengatakan dari hasil cek kesehatan gratis  (CKG) terhadap setidaknya 70 juta penduduk Indonesia, gejala depresi ditemukan paling banyak pada usia sekolah dan remaja. Jumlahnya jauh lebih besar daripada persentase yang ditemukan pada usia dewasa dan lansia.

Baca JugaKesehatan Mental, Kunci Hadapi Ketidakpastian Global

Hasil kajian Pusat Studi Intervensi Digital dan Kesejahteraan Mental Indonesia (PSIDAMAI) Fakultas Psikologi Universitas Yarsi yang berkolaborasi dengan Australia sejak 2024 menyebutkan, upaya mengatasi keterbatasan akses layanan kesehatan mental di Indonesia bisa dilakukan melalui layanan digital.

Agar berdampak optimal dan masif, pengembangan layanan kesehatan mental digital harus kontekstual, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta berkelanjutan dalam sistem layanan yang ada saat ini.

“Tantangan utama di Indonesia bukan lagi pada penerimaan awal terhadap layanan digital. Kini tantangannya yakni kesiapan sistem dan keberlanjutan implementasinya jangka panjang,” kata dosen dan peneliti kesehatan mental Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Ratih Arruum Listiyandini.

Ratih memaparkan hal itu dalam pertemuan pemangku kepentingan dan diseminasi riset bertajuk “Menuju Layanan Kesehatan Mental Digital yang Inklusif:  Dari Riset hingga Terapannya, Pembelajaran dari Kerjasama Indonesia – Australia” di Jakarta, pada Kamis (12/2/2026).

Tim peneliti PSIDAMAI mengembangkan program intervensi kesehatan mental secara digital yang teruji ilmiah. Program ini didukung hibah Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KONEKSI) dalam mengembangkan  dan mengevaluasi program kesehatan mental berbasis web untuk dewasa muda di Indonesia.

Selain itu pengembangan program tersebut mendapat hibah pendukung dari Australia-Indonesia Institute (AII). Hal ini bertujuan untuk menilai keberterimaan dan kelayakan model layanan kesehatan mental dari platform intervensi berbasis web yang diadaptasi dari THIS WAY UP di Australia.

Survei daring pada Desember 2025 oleh tim PSIDAMAI tersebut melibatkan sekitar 960 responden warga Indonesia ataupun diaspora Indonesia di Australia. Dari hasil survei terungkap calon pengguna dewasa muda Indonesia (end-users) sekitar 88 persen, sisanya profesional dan praktisi.

Sementara hampir 65 persen end-users atau pengguna akhir pernah mengakses layanan profesional kesehatan mental, sedangkan 35 persennya belum pernah mengakses layanan kesehatan mental.

Sekitar 97 persen end-users memakai internet untuk mencari informasi kesehatan mental. Selain mencari referensi di internet, mereka yang butuh pertolongan berkonsultasi kepada psikolog dan psikiater, keluarga, teman, pemuka agama, dan komunitas. Hal ini menunjukkan pencarian bantuan bersifat plural dan tak terbatas pada sistem layanan formal.

Menurut Ratih, dalam konteks digital, kanal yang paling sering diakses yakni web browsing, media sosial, dan menjalin percakapan dengan chatbot generative AI (ChatGPT, Gemini, dll). “Namun, pendekatan yang paling membantu tetap mengarah pada telecounseling dan sumber informasi berbasis web yang terstruktur,” tuturnya.

Para profesional dan praktisi kesehatan mental sudah banyak (87,8 persen dari responden) yang pernah merekomendasikan layanan kesehatan mental digital pada klien. Layanan digital itu terutama berbentuk telecounseling, layanan chat berbasis teks, aplikasi mobile, serta modul daring berbasis bukti.

Meski demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, termasuk keterbatasan infrastruktur internet, kurangnya tenaga terlatih, variasi minat pengguna, isu privasi data, serta regulasi dan perizinan.

Praktik di Australia

Peneliti PSIDAMAI Dilfa Juniar mengatakan, dalam rangka memperkaya informasi, tim peneliti berkunjung dan berdiskusi langsung dengan pengembang layanan kesehatan mental digital terkemuka berbasis di Sydney, Australia, yaitu Clinical Research Unit for Anxiety and Depression (CRufAD) St. Vincent's Hospital dan Black Dog Institute.

Kunjungan pada akhir Januari 2026 lalu memberikan beberapa wawasan dan pemahaman penting terkait riset dan penerapan layanan kesehatan mental digital di Australia.

Layanan digital kesehatan mental dapat diakses masyarakat di laman https://thiswayup.org.au, untuk mereka yang mengalami kondisi ringan ke sedang. Layanan digital ini lazim direkomendasikan profesional, praktisi, maupun relawan kesehatan mental di negeri kangguru ini kepada masyarakat.

Baca JugaPlatform Digital untuk yang ”Kena Mental” Bermunculan

Publik dapat mengetahui kondisi mentalnya lewat tes wellbeing yang memakan waktu sekitar lima menit. Kemudian mereka dapat mengakses program yang relevan dengan kondisi kesehatan mental.

Ada pilihan bagi mereka yang menghadapi masalah depresi, cemas, sulit tidur, stres, hingga mengatur masalaah Obsessive-Compulsive Disorder. Selain itu bisa juga mendapatkan program untuk praktik mindfulness.

Hasil kunjungan tim peneliti PSIDAMAI memperoleh informasi bahwa keberhasilan layanan kesehatan mental digital tak hanya ditentukan efektivitas klinis, tapi juga oleh kemampuan layanan untuk diterapkan, diadopsi, dan dipertahankan dalam sistem layanan nyata sesuai karakteristik masyarakatnya.

“Banyak intervensi berbasis bukti tidak memberikan dampak luas bukan karena tidak efektif, melainkan karena tidak terintegrasi dengan layanan yang sudah ada atau tidak digunakan secara konsisten oleh masyarakat,” kata Dilfa.

Keberhasilan layanan digital kesehatan mental di Australia dibangun melalui ekosistem implementasi jangka panjang yang mengintegrasikan riset dan praktik klinis. Faktor kuncinya meliputi peran clinical champions, kepemimpinan visioner dan konsisten, serta kemampuan menghadapi tantangan regulasi, birokrasi, dan resistensi sistem layanan.

Banyak intervensi berbasis bukti tidak memberikan dampak luas bukan karena tidak efektif, melainkan karena tidak terintegrasi dengan layanan yang sudah ada atau tidak digunakan secara konsisten oleh masyarakat.

Pendekatan bertahap dan adaptif ini jadi pembelajaran penting bagi pengembangan layanan serupa di Indonesia. Adaptasi terhadap model layanan paling tepat juga perlu dilakukan secara mendalam, melalui pendekatan perancangan bersama (co-design), bukan sekadar penerjemahan bahasa.

Lebih lanjut, Dilfa mengatakan, adaptasi perlu mencakup narasi terapeutik, desain antarmuka, strategi komunikasi, serta cara layanan diperkenalkan kepada komunitas.

Pengalaman CRUfAD dalam mengembangkan dan menerapkan This Way Up bagi warga Australia juga menunjukkan, dukungan manusia tetap berperan penting dalam menjaga keterlibatan pengguna.

Melalui pendanaan dari KONEKSI, kata Dilfa, tim PSIDAMAI mengembangkan program intervensi kesehatan mental digital memakai pendekatan mindfulness, khusus untuk dewasa muda Indonesia. Mindfulness merupakan kemampuan menyadari berbagai pengalaman saat ini secara penuh dengan penerimaan, dan tanpa menghakimi.

Pendekatan mindfulness telah banyak digunakan dalam intervensi psikologis untuk membantu individu mengelola stres, kecemasan, dan tekanan emosional, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

Seiring dengan perkembangan teknologi digital, intervensi berbasis mindfulness kini dapat diintegrasikan melalui platform digital, sehingga membuka peluang untuk menjangkau lebih banyak individu secara lebih luas, fleksibel, dan terjangkau.

Penyempurnaan

Peneliti PSIDAMAI Raina Nurintisar mengatakan, pengembangan Program Mindfulness Berbasis Web untuk Dewasa Muda Indonesia berangkat dari hasil riset awal adaptasi budaya program Introduction to Mindfulness dari This Way Up oleh Ketua Peneliti PSIDAMAI, Ratih Arruum Listiyandini.

“Penelitian terbaru yang sedang berjalan ini ingin menyempurnakan program dan memperluas target ke dewasa muda,” kata Raina. Tim peneliti merancang bersama di lima kota (Jakarta, Medan, Bali, Banjarmasin, dan Kupang).

Adapun riset tersebut melibatkan 50 orang dengan pengalaman langsung terkait isu kesehatan mental (lived experience) serta 15 praktisi/ahli kesehatan mental. Dari proses ini, banyak penyempurnaan dilakukan agar program benar-benar relevan untuk dewasa muda Indonesia.

Baca JugaMengapa Anak Muda Rentan terhadap Gangguan Kesehatan Mental?

Tim peneliti kemudian membuat karakter dalam modul yang lebih representatif, terdiri dari tokoh laki-laki dan perempuan yang menggambarkan mahasiswa dan pekerja muda, dengan cerita lebih dekat dengan realitas seperti masalah finansial, stigma, dan tekanan sosial.

Bahasa modul juga disederhanakan menjadi lebih ringan dan komunikatif, termasuk mengganti istilah asing dengan padanan Bahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami.

Dari sisi kemudahan penggunaan, kata Raina, para ahli menilai sistem ini sudah baik dan layak digunakan.  Adapun calon pengguna menilai program ini cukup mudah dipakai meski masih perlu sedikit penyesuaian.

“Menariknya, kedua kelompok sama-sama menunjukkan minat tinggi menggunakan program mindfulness berbasis web ini pada masa depan. Dari uji coba awal juga didapati hasil positif, dengan adanya penurunan tingkat tekanan psikologis setelah mengikuti program,” kata Raina.

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alasan Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1477 H Jatuh pada Kamis 19 Februari
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Truk Tangki Terbakar di KM 185 Tol Cipali, Arus ke Cirebon Dialihkan
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis 19 Februari 2026
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ini 10 Rekomendasi Tempat Bukber di Garut yang Wajib Kamu Coba
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Antisipasi Karhutla 2026 dengan Andalkan Teknologi ARFINA
• 17 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.