Dua teleskop putih dan dua teleskop kecil hitam berjejer di selasar barat Masjid Al Hakim, Kota Padang, Sumatera Barat. Semuanya menghadap laut ke arah ufuk yang berawan tebal. Hingga matahari terbenam pukul 18.36 WIB, hilal tak kunjung terlihat.
”Hilal tidak terlihat, posisi minus 1 derajat,” kata Yosef Chairul, Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumbar, dalam sidang penetapan hasil rukyatul hilal Pengadilan Agama Padang, Selasa (17/2/2026) malam.
Pemantauan hilal di komplek Masjid Al Hakim itu diadakan Kanwil Kemenag Sumbar. Kegiatan ini diikuti pula oleh perwakilan Pemprov Sumbar, Stasiun Geofisika Padang Panjang BMKG, Pengadilan Agama Padang, LDII Sumbar, pengurus masjid, dan lainnya.
Secara kasatmata, kata Yosef, hilal tidak terlihat karena langit Kota Padang berawan saat matahari terbenam. Namun, berdasarkan data hasil perhitungan (hisab), memang mustahil hilal terlihat karena masih di bawah ufuk pada posisi minus 1 derajat.
Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang BMKG Suaidi Ahadi mengatakan, secara astronomi, hilal di Padang memang di bawah ufuk sehingga tidak mungkin terlihat. Kondisi itu telah dibuktikan oleh para perukyat.
”Rabu (18/2/2026), kami akan melakukan pengamatan lagi. Tinggi hilal besok di Padang sekitar 9 derajat. Kalau cuacanya cerah, mudah-mudahan bisa terlihat,” kata Suaidi.
Hilal awal Ramadhan, kata Suaidi, biasanya dipantau pada 29 Syakban. Namun, jika hilal tidak terlihat, bulan Syakban pada kalender Islam atau Hijriah digenapkan menjadi 30 hari sebelum masuk 1 Ramadhan.
Pemantauan hilal awal Ramadhan 1447 Hijriah di Indonesia oleh Kementerian Agama berlangsung di 96 lokasi pengamatan dari Papua hingga Aceh pada Selasa. Di Sumbar, selain Padang, pemantauan juga dilakukan Kemenag di 14 kabupaten/kota lainnya.
Dalam sidang isbat di Jakarta, hilal belum terpantau di 96 lokasi itu. Ketinggian hilal pada selasa sekitar minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat. Maka sesuai hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyatul hilal, 1 Ramadhan 1447 Hijriah ditetapkan pada 19 Februari 2026 (Kompas.id, 17/2/2026).
Khusus di Sumbar, tidak terlihatnya hilal mengulang hasil pemantauan tahun-tahun sebelumnya. Kepala Kanwil Kemenag Sumbar Mustafa menyebut, setiap kali rukyatul hilal diadakan Kemenag di Sumbar untuk sidang isbat Ramadhan pada 29 Syakban, hilal memang tidak pernah tampak.
“Hilal bukan jarang tampak, tetapi memang belum pernah terlihat. Jadi, walaupun belum pernah, sebagai kewajiban, kami tetap melaksanakan tugas pemantauan hilal ini untuk dilaporkan ke Kemenag RI,” kata Mustafa, Selasa sore.
Mustafa menjelaskan, hilal sulit terlihat di Sumbar karena saat dipantau sering kali posisinya di bawah ufuk ataupun kurang dari 3 derajat di atas ufuk. Hilal baru akan terlihat bila posisinya 3 derajat di atas ufuk. Selain itu, faktor cuaca juga sering mempengaruhi pandangan.
Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang BMKG Suaidi Ahadi mengatakan, hilal awal Ramadhan memang sulit terlihat di Sumbar. Salah satu faktor sulitnya mengamati hilal adalah cuaca. “Untuk wilayah Sumbar, kondisi cuaca yang paling bagus (untuk mengamati hilal) adalah bulan Juni dan Juli, awannya terbuka,” katanya.
Suaidi menjelaskan, posisi Sumbar berada di garis Khatulistiwa pada titik nol. Lokasi ini memang banyak pertumbuhan awak akibat pengaruh gaya Coriolis.
“Memang ada momen awan kosong, tetapi tidak pas saat Ramadhan. Biasanya Juni dan Juli. Kalau kita tunggu, mungkin sepuluh tahun lagi baru terjadi (hilal tampak),” katanya.
Menurut Suaidi, terakhir kali hilal Ramadhan terpantau di Sumbar oleh BMKG adalah pada tahun 2022 dalam pengamatan di Pantai Gandoriah, Kota Pariaman. Pada saat itu, hilal terlihat jelas pada posisi 9 derajat di atas ufuk.
Dari penelusuran Kompas, hilal awal Ramadhan 1443 Hijriah itu terpantau di Sumbar oleh BMKG saat pengamatan pada 2 April 2022 atau 30 Syakban. Artinya, hilal baru terlihat sehari setelah rukyatul hilal dilakukan Kemenag pada 1 April 2022 atau 29 Syakban.
Adapun hasil pengamatan hilal dari 101 titik di Indonesia pada 1 April 2022 itu, termasuk Sumbar, tak ada yang melaporkan hilal terlihat. Berdasarkan hisab, posisi hilal di Indonesia saat itu di atas ufuk tetapi masih di bawah 3 derajat (Kompas.id, 1/4/2022).
Kembali ke hari ini, tidak terlihatnya hilal membuat awal Ramadhan di Indonesia tidak berlangsung serentak. Sebagian umat Islam, terutama dari kalangan Muhammadiyah, mulai berpuasa pada Rabu (18/2/2026). Bahkan, kalangan Tarekat Naqsabandiyah, mulai berpuasa sejak Selasa (17/2/2026).
Sementara itu, Kemenag sesuai hasil sidang isbat menetapkan awal puasa pada Kamis (19/2/2026). Terkait awal puasa yang berbeda, Kepala Kanwil Kemenag Sumbar Mustafa mengatakan, perbedaan itu semestinya disikapi dengan saling menghormati.
”Semua itu tidak menjadikan kita terpecah-belah. Perbedaan justru makin menguatkan satu sama lain. Mari kita terapkan sikap moderat, sikap tasamuh, hormat-menghormati, sehingga perbedaan itu akan menjadi rahmat bagi kita dalam melaksanakan ritual-ritual agama,” katanya.





