Penelitian: Menulis Tangan Mengaktifkan Potensi Otak, Lebih Unggul daripada Mengetik di Komputer

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di sebuah ruang kuliah universitas, dua mahasiswa yang sama-sama cerdas dan memiliki minat serupa duduk berdampingan. Yang satu menggunakan kertas dan pena tradisional, sementara yang lain memakai laptop.

Jika aktivitas otak mereka dipantau dengan alat perekam gelombang otak, akan tampak perbedaan yang mencolok:

Otak mahasiswa yang menulis tangan menunjukkan aktivitas yang intens, dengan berbagai area saling terhubung dan berdenyut secara sinkron—seperti “tarian balet saraf”.

Sebaliknya, otak mahasiswa yang mengetik di komputer hanya menunjukkan aktivitas yang terpisah-pisah—area listrik yang berdiri sendiri tanpa keterhubungan yang kuat.

Ini bukan sekadar nostalgia terhadap cara lama, melainkan temuan ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2025 dalam jurnal Frontiers in Psychology. Penelitian ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti yang menunjukkan bahwa kemudahan mengetik di komputer mungkin membawa konsekuensi kognitif yang cukup besar.

Dari laboratorium ilmu saraf hingga ruang kelas, berbagai penelitian menunjukkan bahwa belajar dengan kertas dan pena tradisional lebih baik bagi otak dan lebih mampu merangsang aktivitasnya dibandingkan belajar menggunakan komputer.

“Lambat” Justru Lebih “Cepat”

Dalam penelitian terobosan tahun 2014 berjudul The Pen Is Mightier Than the Keyboard, para peneliti Mueller dan Oppenheimer menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan memperoleh nilai 12–20% lebih tinggi dalam pertanyaan pemahaman konsep dibandingkan kelompok yang mengetik.

Mereka menemukan bahwa karena mengetik terasa lebih mudah, pengguna laptop cenderung menyalin isi kuliah kata demi kata. Sementara itu, penulis tangan terpaksa memproses dan merangkum informasi.

Menurut Oppenheimer, menyalin secara verbatim tidak memerlukan pemikiran mendalam. Sebaliknya, ketika mencatat dengan pena dan kertas, kecepatan menulis yang lebih lambat—yang tampak seperti kelemahan—justru menjadi keunggulan, karena memaksa seseorang benar-benar memahami konsep sebelum menuliskannya.

Karena menulis tangan lebih lambat, seseorang menjadi lebih fokus dan berpikir lebih mendalam.

Apa yang Terjadi di Dalam Otak?

Setelah penelitian Oppenheimer dipublikasikan, pasangan peneliti saraf asal Norwegia, Van der Meer, tertarik meneliti mekanisme di balik fenomena ini.

Untuk memastikan apakah menulis tangan benar-benar memiliki keunggulan neurologis, mereka menggunakan alat EEG (electroencephalogram) beresolusi tinggi berbentuk seperti “topi mandi”, yang dilengkapi 256 elektroda untuk mengukur aktivitas otak.

Dalam eksperimen tersebut, mahasiswa diperlihatkan sebuah gambar—misalnya ikon payung—lalu diminta secara bergantian menuliskannya dengan tangan dan mengetiknya di keyboard.

Hasilnya menunjukkan perbedaan besar dalam cara kerja otak. Menulis atau menggambar dengan tangan memicu aktivitas luas dan sinkron di area otak yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran. Sebaliknya, pola aktivitas saraf saat mengetik jauh lebih lemah.

Secara lebih spesifik, mahasiswa yang menulis tangan menunjukkan osilasi gelombang θ (theta) dan α (alpha) frekuensi rendah yang saling berkorelasi. Ketika mengetik, keterkaitan ini hampir tidak terlihat.

Gelombang theta berperan dalam memproses informasi baru dan mendukung memori kerja, sedangkan gelombang alpha membantu pembentukan memori jangka panjang.

Van der Meer menjelaskan bahwa koordinasi gerakan halus yang dibutuhkan saat menulis tangan mengaktifkan jalur saraf multisensorik yang lebih kompleks, sehingga membentuk jejak memori yang lebih kuat. Sebaliknya, gerakan sederhana seperti mengetik, menggulir layar, atau mengklik tidak mampu mengaktifkan jaringan saraf tersebut secara optimal, sehingga memori yang terbentuk cenderung lebih lemah.

“Memang sangat menggoda untuk mencatat semua yang diucapkan dosen,” katanya. “Namun sebenarnya Anda hanya ‘mengetik buta’. Informasi masuk lewat telinga dan keluar lewat ujung jari—tanpa pernah benar-benar diproses.”

Ia juga menegaskan bahwa otak mengikuti prinsip “use it or lose it” (jika tidak digunakan, akan melemah). Jika kita tidak menggunakan otak dengan benar, dalam jangka panjang fungsi otak bisa menurun.

Ia menyarankan agar kita lebih sering menggunakan pena, serta menyediakan pensil, krayon, pena, dan kertas bagi anak-anak. Menulis sangat penting terutama bagi anak-anak yang sistem sarafnya masih berkembang.

Menulis Kaligrafi

Menariknya, bahkan cara menulis pun berpengaruh. Sebuah penelitian dalam Journal of Alzheimer’s Disease menemukan bahwa lansia dengan gangguan kognitif ringan yang berlatih kaligrafi Tiongkok selama delapan minggu mengalami peningkatan memori kerja dan kemampuan mengendalikan perhatian.

Lebih dari 30% peserta yang berlatih kaligrafi menunjukkan peningkatan dalam tugas memori kerja, sedangkan pada kelompok yang menggunakan iPad tanpa latihan kaligrafi, hanya 11,8% yang mengalami peningkatan.

Manfaat dari latihan kaligrafi bahkan masih terlihat enam bulan setelah pelatihan berakhir, menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kognitif tersebut bersifat jangka panjang.

Respons Publik

Artikel ini dipublikasikan dalam versi bahasa Inggris di The Epoch Times dan mendapat perhatian luas. Dalam kolom komentar video terkait, seorang netizen menulis:

“Saya kehilangan kemampuan berbicara dan memahami kata-kata setelah mengalami stroke. Saya mulai menyalin kata-kata dari kamus dengan tulisan sambung. Sekitar satu tahun kemudian, kemampuan berbicara dan pemahaman saya pulih sepenuhnya. Ini benar-benar luar biasa.”

Seorang guru bahasa Inggris yang telah pensiun menulis:
“Selama bertahun-tahun saya terkejut melihat dunia pendidikan secara bertahap meninggalkan tulisan tangan dan beralih ke keyboard. Padahal, sains sudah lama menyadari nilai dan manfaat tulisan tangan. Namun dunia pendidikan justru mengabaikan hasil penelitian ini—dan siswa pun menjadi korban. Kemampuan menulis dan membaca tulisan tangan akan terus menurun, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan fungsi otak. Ada hubungan yang sangat erat antara tangan dan otak.”

Seorang ahli grafologi juga berkomentar:  “Saya sepenuhnya setuju! Tips kecil: jika Anda ingin mengingat nama atau nomor telepon seseorang, tulislah dengan cara yang unik, mencolok, dan tidak biasa—lalu tatap selama satu atau dua menit. Anda akan mengingatnya dengan kuat. Begitulah dahsyatnya kekuatan tulisan tangan.”  (jhon)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Pascabencana Sumatra, Menkes: 8.850 Rumah Tenaga Kesehatan Terdampak Butuh Renovasi Segera
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Strategy (MSTR) Kembali Borong Bitcoin (BTC), Jumlahnya Segini
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sekjen Kemendagri Atensi Disiplin Pengawasan Harga Bahan Pokok demi Masyarakat
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Reaksi Suporter Ratchaburi FC Usai Dibobol Persib: Animo Suporter Buat Tim Mati Gaya
• 31 menit lalutvonenews.com
thumb
Macet dan Polusi Memburuk, Cekungan Bandung Perlu Reformasi Transportasi Terintegrasi
• 6 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.