Bisnis.com, JAKARTA – Surat utang ritel terbitan pemerintah (SBN) Ritel seri ORI029 baru ditawar Rp12,78 triliun dari target Rp25 triliun yang dijajakan sehari jelang penutupan.
Berdasarkan data PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) pukul 12.43 WIB, penjualan ORI029 secara total masih tersisa Rp12,22 triliun. Diperinci, ORI029-T3 masih tersisa sekitar 35,4% atau setara dengan Rp5,31 triliun dan ORI029-T6 masih tersisa 69,1% atau Rp6,91 triliun.
Dengan kata lain, dari total Rp25 triliun target dana terhimpun dari penerbitan ORI029, produk ini baru terjual 51,12% dari target.
Sebelumnya, kalangan analis telah angkat suara ihwal realisasi penjualan ORI029. Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana, menilai salah satu sentimen datang dari penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s Ratings. Hanya saja, sentimen ini bukan satu-satunya.
”Apalagi kondisi sekarang tidak hanya dari Moody’s, tapi ada beberapa risiko geopolitik yang juga meningkat, yang biasanya mendorong risk premi yang lebih tinggi,” katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.
Selain itu, sentimen juga datang dari dalam negeri. ketakutan investor dinilai datang dari defisit APBN yang belakangan sempat meningkat. Terlebih, di tengah rencana belanja fiskal yang masih agresif pada tahun ini.
Baca Juga
- Hitung Mundur Penjualan ORI029, Kesempatan Terakhir bagi Investor
- Berkshire Warren Buffett Lepas Saham Amazon, Tambah Portofolio di Media Hingga Asuransi
- Bank Prima Master Bangkrut, LPS Tetapkan Kenzi Mario jadi Ketua Tim Likuidasi
Sementara itu, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, cenderung menekankan sentimen datang dari kondisi geopolitik yang tidak stabil. Ketegangan antara AS dan Iran yang telah menciptakan ketidakpastian terhadap pasar, turut membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi.
Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menunjukkan bahwa yield obligasi bertenor 10 tahun telah berada di level 6,39%. Terhadap tenor tiga tahun, investor meminta yield sebesar 5,41% dan 5,97% terhadap tenor enam tahun. Sementara ORI029 menawarkan imbal hasil yang berkisar pada 5,45—5,80%.
”Ketegangan geopolitik ini kan menyebabkan ketidakpastian meningkat. Kalau saya lihat juga, ritel akhirnya wait and see untuk masuk,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.
Hanya saja, peluang terserapnya produk perdana SBN Ritel ini masih terbuka, terutama dari aksi reinvestasi investor atas obligasi jatuh tempo. Data BRI Danareksa Sekuritas, mencatat sedikitnya terdapat empat SUN yang jatuh tempo pada Februari 2026, dengan total Rp46,85 triliun.
Hanya saja, peluang terserap penuh ORI029 dinilai kecil, meskipun kondisi makroekonomi dalam negeri dinilai tengah dalam fase yang solid. Ramdhan memprediksi penawaran ORI029 masih akan tersisa 10% di bawah target.





