Hati yang Penuh Toleransi

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Peristiwa ini terjadi di resor Club Med di Phuket. Saat itu, saya bekerja di sana sebagai staf hubungan masyarakat sekaligus penerjemah bahasa Mandarin dan Inggris.

Suatu hari, di lobi, saya tiba-tiba melihat seorang staf perempuan asal Jepang dengan wajah penuh rasa bersalah sedang menenangkan seorang anak kecil Barat berusia sekitar empat tahun. Anak itu tampak sangat ketakutan dan sudah menangis hingga kelelahan.

Setelah saya menanyakan penyebabnya, barulah saya tahu bahwa staf Jepang tersebut, karena hari itu jumlah anak cukup banyak, sempat lalai menghitung jumlah peserta setelah kelas tenis anak-anak selesai. Akibatnya, satu anak—seorang anak Australia—tertinggal sendirian di lapangan tenis.

Begitu dia menyadari jumlah anak tidak sesuai, dia segera berlari kembali ke lapangan tenis dan membawa anak itu kembali. Karena ditinggal sendirian di lapangan tenis yang terpencil, anak tersebut sangat ketakutan dan menangis tersedu-sedu.

Tak lama kemudian, ibu anak asal Australia itu datang dan melihat anaknya menangis dengan kondisi mengenaskan.

Jika Anda berada di posisi sang ibu, apa yang akan Anda lakukan?

Tidak satu pun dari itu. Perhatikanlah apa yang terjadi.

Saya melihat dengan mata kepala sendiri, ibu tersebut berjongkok untuk menenangkan anaknya, lalu dengan sangat tenang dan rasional berkata kepadanya:

“Tidak apa-apa, semuanya sudah baik-baik saja. Kakak perempuan Jepang itu sangat cemas dan sedih karena tidak bisa menemukanmu. Dia tidak sengaja. Sekarang kamu harus mencium pipi kakak Jepang itu untuk menghiburnya.”

Saat itu, saya melihat anak kecil berusia empat tahun tersebut berjinjit, mencium pipi staf Jepang yang sedang berjongkok di sampingnya, lalu dengan lembut berkata: “Jangan takut, sekarang sudah tidak apa-apa.”

Pendidikan seperti inilah yang dapat menumbuhkan anak yang penuh toleransi dan empati.

Memahami dan memedulikan orang lain, sejatinya juga berarti memedulikan hati kita sendiri.

Renungan

Ada ungkapan “benar dan tegas”, yang berarti jika alasan kita kuat dan benar, maka sikap kita pun akan penuh keberanian. Namun ada pula ungkapan “benar tetapi lembut”, yang berarti kita mampu menenangkan emosi, menyampaikan kebenaran dengan cara yang halus dan bijaksana, sehingga orang lain dapat menerimanya dengan lapang hati.

Bersikap benar dan keras itu mudah, tetapi bersikap benar dan lembut jauh lebih sulit.

Terlebih di era modern dengan angka kelahiran yang rendah, setiap anak adalah permata di telapak tangan orang tua. Dalam situasi seperti ini, jika tidak sampai menjadi berita besar saja sudah bisa dibilang beruntung. Berapa banyak orang tua yang mampu bersikap seperti ibu dalam kisah ini—tidak hanya tidak menyalahkan pihak lain, tetapi bahkan mengajarkan anaknya untuk menghibur orang yang bersalah?

Sungguh seorang ibu yang berhati luas. Dengan pendidikan seperti ini, dapat diyakini anak tersebut kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang berbakti, penuh toleransi, dan penuh empati. (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Fakta Heboh Rumah Jokowi Dilabeli 'Tembok Ratapan Solo' di Google Maps
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Gerakan Serang Mengaji Dipercepat untuk Sambut Ramadan
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
30++ Ucapan Selamat Ramadan 2026 untuk Keluarga dan Teman, Penuh Makna
• 1 jam laludetik.com
thumb
Rano Karno Yakin Parkir Liar di Tanah Abang Bisa Tertib Dalam 3 Hari
• 21 jam lalusuara.com
thumb
Lee Jun Hyuk dan Shin Hye Sun Pancarkan Aura Misterius di Pemotretan Drakor The Art of Sarah
• 54 menit lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.