Bisnis.com, JAKARTA — Analisis Bloomberg Intelligence menunjukkan nilai dana berkelanjutan (sustainable fund) global menembus US$3,3 triliun pada 2025. Eropa mendominasi aset kelolaan dengan porsi lebih dari 85%, meskipun laju pertumbuhan mulai melambat.
Perlambatan tersebut dipicu penyusutan aset dari sejumlah reksa dana yang menghapus istilah keberlanjutan dan environment, social and governance (ESG) dari namanya sebagai respons atas regulasi pelabelan yang lebih ketat di kawasan tersebut. Meski demikian, Eropa diperkirakan masih mempertahankan posisinya sebagai pasar terbesar, mengungguli Amerika Utara.
“Porsi aset Amerika Utara telah menurun sejak 2021 dan kami memperkirakan tren ini berlanjut seiring reaksi negatif terhadap ESG di Amerika Serikat,” ujar Analis Senior ESG Bloomberg Intelligence, Shaheen Contractor, dikutip Rabu (18/2/2026).
Dari total dana berkelanjutan tersebut, porsi aset berkelanjutan dalam produk exchange-traded fund (ETF) melampaui 20% pada 2025, naik signifikan dari sekitar 8% pada 2019. Pertumbuhan ini didorong ekspansi pasar di Amerika Utara dan Eropa. Di Amerika Utara, ekspansi basis aset banyak ditopang ETF dengan kontribusi hampir 45% terhadap total aset berkelanjutan. Sebaliknya, pasar Eropa lebih didominasi reksa dana konvensional, dengan ETF mencakup sekitar 23% dari total aset berkelanjutan.
Bloomberg Intelligence memperkirakan pertumbuhan ETF berkelanjutan di AS akan melambat akibat risiko konsentrasi dan dinamika politik yang kurang kondusif. Ketergantungan pada sejumlah kecil investor meningkatkan risiko siklus dan potensi pelemahan lanjutan apabila investor besar mengurangi alokasi atau mengubah strategi.
Di Eropa, dana kategori Article 9 dalam kerangka Sustainable Finance Disclosure Regulation (SFDR), yang berfokus pada investasi berkelanjutan, kini hanya menyumbang 9% dari total aset berlabel berkelanjutan, turun dari 12% pada 2023. Penurunan ini diperkirakan dipicu arus keluar dana sejak 2023 serta reklasifikasi produk. Sejumlah dana Article 9 bertema iklim juga mengalami tekanan arus keluar di tengah ketidakpastian politik.
Baca Juga
- Investor Obligasi Bencana Gigit Jari, Potensi Imbal Hasil Diramal Tertekan pada 2026
- Ramalan Fitch Ratings untuk Pasar Sukuk ESG pada 2026
- Investor Lakukan Penarikan Besar-besaran dari Dana ESG pada 2025, Nilai Tembus Rp1.409 Triliun
Sebagai catatan, SFDR membagi produk ke dalam tiga kategori, yakni Article 6 yang tidak berfokus pada ESG, Article 8 yang mempromosikan karakteristik lingkungan atau sosial dan Article 9 yang menargetkan investasi berkelanjutan.
“Secara struktur pasar, dana berkelanjutan global lebih terdiversifikasi dibandingkan segmen ETF, sehingga memberikan ruang kompetisi dan fleksibilitas lebih besar,” lanjut Bloomberg Intelligence.
Dalam segmen ETF berkelanjutan, tiga penerbit terbesar menguasai hampir 65% pangsa pasar di Amerika Utara dan Eropa, sehingga cenderung membatasi ruang bagi pemain kecil. Sebaliknya, di pasar dana berkelanjutan global secara keseluruhan, tiga pemain teratas hanya menguasai sekitar 35% aset. Adapun konsentrasi di Amerika Utara lebih tinggi dibandingkan Eropa, dengan tiga pemain utama menguasai 57% pasar.
BlackRock, Vanguard, dan Dimensional Fund Advisors mendominasi pasar Amerika Utara, dengan keunggulan BlackRock terutama ditopang dominasi pada produk ETF. Di Eropa, Amundi dengan Credit Agricole sebagai pemegang saham mayoritas bersama BlackRock dan UBS menjadi pemimpin pasar.
Berdasarkan jenis aset, saham (ekuitas) menyumbang porsi terbesar dana berkelanjutan global, dengan porsi sebesar 56%. Aset pendapatan tetap (fixed income) dan pasar uang menyusul di peringkat selanjutnya.
Dana pasar uang sendiri hanya mencakup 2% dari jumlah produk, tetapi menyerap 12% total aset. Hal ini mengindikasikan ukuran dana yang relatif besar.
Sementara itu, fixed income mencakup 26% jumlah dana, tetapi hanya 20% aset. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ukuran rata-rata dana relatif lebih kecil. Adapun delapan dari 15 dana berkelanjutan dengan aset di atas US$15 miliar berasal dari kategori pasar uang.





