Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad membuka rapat penanganan bencana Aceh dengan penegasan keras: bantuan diaspora Aceh di Malaysia tidak boleh dipersulit dan tidak perlu diuangkan sebagaimana diusulkan Menteri Pertanian.
“Barang bantuan ini sudah keburu dibeli, tinggal dikirim dari Port Klang. Ini cuma satu kali pengiriman dan jumlahnya tidak besar. Tidak perlu dipersulit,” tegas Dasco dalam rapat di Gedung DPR, Rabu (18/2/2026).
Bantuan tersebut berupa minyak goreng dan gula pasir, dikumpulkan langsung oleh warga Aceh di Malaysia untuk korban banjir dan longsor di kampung halaman mereka.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta agar bantuan itu diuangkan saja, dengan alasan pengawasan lebih mudah dan komoditas beras sensitif.
“Usul kami, kalau bisa beras ini sangat sensitif. Baiknya diuangkan,” kata Amran.
Namun Dasco langsung mengoreksi pernyataan dari Mentan. Dasco dengan tegas mengungkapkan bahwa mengubah bentuk bantuan justru membuat proses semakin rumit.
“Enggak ada beras, Pak. Hanya minyak goreng dan sedikit gula pasir,” tegas Dasco mengoreksi.
“Kalau diuangkan, ya repot lagi. Diuangkan dulu, baru beli lagi. Sementara barangnya sudah siap,” lanjutnya.
Meski begitu, Amran menyampaikan bahwa jika bantuan tetap harus masuk, maka kontrol di lapangan harus ketat.
“Kalau harus masuk, pengawasan harus sangat ketat supaya barang untuk pengungsi tidak dijual,” ujar Amran.
Dasco kemudian meminta kementerian terkait, termasuk Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Keuangan, dan Dirjen Bea Cukai, untuk memberikan dispensasi agar bantuan tidak menumpuk di Malaysia.
“Ini sumbangan satu kali dan jumlahnya kecil. Pak Mensesneg dan Menkeu bisa koordinasi dengan Bea Cukai. Realisasikan cepat, supaya langsung disalurkan ke pengungsian menjelang Ramadan dan Lebaran,” tegasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





