Seorang Kakek yang Berkorban Tanpa Pamrih

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Puluhan tahun yang lalu, di sebuah desa kecil di pegunungan dekat laut di Jepang, terjadi sebuah kisah yang sangat mengharukan.

Suatu bulan Juli, sebuah kuil di kaki gunung mengadakan upacara keagamaan. Seluruh penduduk desa turun gunung untuk ikut serta. Hanya seorang kakek berusia lebih dari delapan puluh tahun dan cucunya yang tinggal di puncak gunung tidak dapat pergi jauh, sehingga tetap berada di rumah.

Menjelang senja, sang kakek keluar rumah untuk berjalan-jalan. Hembusan angin gunung terasa aneh—ketika mengenai tubuhnya terasa lengket, berbeda dari biasanya.

Tiba-tiba, dia merasakan getaran gempa. Gempa itu tidak kuat, tetapi juga tidak seperti gempa yang biasa terjadi. Getarannya muncul perlahan dan bergoyang dengan lembut. Sepanjang hidupnya, dia belum pernah mengalami gempa seperti itu.

Kakek itu teringat pada cerita almarhum kakeknya dahulu: jika di tempat yang jauh terjadi gempa besar, daerah di sekitarnya juga akan merasakan getaran.

Tanpa sengaja ia menoleh ke arah laut…:  “Eh? Mengapa air laut berubah menjadi hitam?”

Selain itu, ombak pun tampak tidak seperti biasanya. Ombak normal datang dari kejauhan, bergulung mendekat lalu surut kembali. Namun kali ini, ombak tampak seperti dinding keras yang terus mendekat!

Celaka! Ini pasti seperti yang pernah diceritakan kakeknya—tsunami besar akibat gempa dahsyat!

Sang kakek segera memanggil cucunya untuk mengambil obor. Tanpa ragu, dia menyalakan api pada tumpukan padi yang baru dipanen serta jerami kering. Api dengan cepat menyebar hingga membakar gudang penyimpanan.

Saat itu, seluruh warga desa sedang berkumpul di tepi pantai, menyaksikan perubahan warna laut. Ketika mereka melihat kebakaran di gunung, semua orang berlari naik gunung untuk memadamkan api. Namun sang kakek justru menghalangi mereka.

Penduduk desa terus berdatangan hingga seluruh warga berkumpul. Barulah kakek itu mengizinkan mereka memadamkan api.

Warga desa bertanya mengapa terjadi kebakaran dan mengapa mereka dilarang memadamkannya sejak awal.

Cucu sang kakek yang ketakutan berkata di sampingnya: “Kakek sudah gila! Terus menyalakan api!”

Sang kakek menunjuk ke arah laut dan berkata:  “Lihatlah ke sana!”

Semua orang menoleh, dan seketika mereka terperangah ketakutan…

Air laut menerjang pantai seperti ribuan pasukan kuda. Seluruh rumah di kaki gunung hanyut di atas air bagaikan kotak korek api.

Beberapa puluh menit kemudian, air laut perlahan surut, dan semua rumah pun ikut terseret kembali ke laut.

Barulah saat itu warga desa menyadari: sang kakek telah membakar seluruh hasil panen dan gudangnya sendiri demi menyelamatkan nyawa semua orang.

Renungan

Pepatah kuno mengatakan: “Mengorbankan diri demi kepentingan bersama.”

Maknanya adalah mengorbankan kepentingan pribadi demi keselamatan dan kesejahteraan banyak orang, tanpa memikirkan untung rugi diri sendiri.

Kebanyakan orang setuju dengan kalimat ini. Namun ketika yang harus dikorbankan adalah kepentingan pribadi demi orang lain—terlebih menyangkut nyawa dan harta benda—berapa banyak yang benar-benar sanggup melakukannya?

Seperti ketika pemerintah mengatakan sampah sudah terlalu banyak dan perlu dibangun insinerator atau tempat pembuangan akhir. Semua orang setuju… tetapi dengan satu syarat: jangan dibangun di dekat rumah saya.

Atau seperti pada zaman dahulu, ketika wabah penyakit tak terkendali akibat keterbatasan medis, sebuah desa terkadang harus dikarantina dan dibiarkan binasa, atau bahkan dibakar, demi melindungi wilayah lain dari penularan.

Itu pun merupakan pengorbanan sebagian orang demi keselamatan yang lebih besar. Namun jika wabah itu terjadi di desa kita sendiri, berapa banyak yang rela menerima nasib tersebut?

Mungkin pengorbanan besar seperti yang dilakukan kakek dalam kisah ini—mengorbankan hasil jerih payah seumur hidup demi menyelamatkan orang lain—adalah sesuatu yang sulit dilakukan oleh kebanyakan orang.

Namun melayani kepentingan umum tidak selalu harus dengan pengorbanan besar. Berbagi artikel dan cerita untuk memperkaya wawasan dan batin bersama, menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menimbulkan penyakit, mendidik generasi berikutnya dengan baik—meski tidak memberi sumbangan besar bagi masyarakat, setidaknya tidak menjadi beban bagi orang lain.

Bahkan sekadar berkata baik dan sering tersenyum kepada orang lain—hal yang tak memerlukan biaya apa pun—sudah dapat membawa kebahagiaan bagi sesama.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masjid Gedhe Kauman Jogja Gelar Tarawih Perdana, Jemaah Tumpah Ruah
• 21 jam laludetik.com
thumb
Emas Pegadaian Rontok Berjamaah, Galeri24 Balik ke Level Rp2,94 Juta per Gram
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Sapi bantuan dari Presiden untuk tradisi Meugang tiba di Aceh Utara
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Rayakan Imlek 2026, InJourney Hadirkan Pengalaman Liburan di Bandara hingga Candi
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Apartemen Mewah di Sunter Disulap Jadi Laboratorium Narkoba, Begini Awal Mula Terbongkarnya
• 17 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.