EtIndonesia. Dahulu kala, ada dua orang penebang kayu yang tinggal bertetangga. Yang dimaksud bertetangga adalah: masing-masing tinggal di gunung yang saling bersebelahan.
Di antara dua gunung itu mengalir sebuah sungai kecil. Karena itu, setiap hari pada waktu yang sama, kedua penebang kayu tersebut turun gunung menuju sungai untuk menimba air. Lama-kelamaan, mereka pun menjadi sahabat baik.
Hari demi hari berlalu, dan tanpa terasa, lima tahun telah lewat begitu saja dalam rutinitas menimba air tersebut.
Suatu hari, tiba-tiba penebang kayu yang tinggal di gunung sebelah kiri tidak turun gunung untuk menimba air.
Penebang kayu dari gunung sebelah kanan berpikir: “Mungkin dia kesiangan,” lalu tidak terlalu memikirkannya.
Namun keesokan harinya, penebang kayu dari gunung sebelah kiri tetap tidak turun menimba air. Hari ketiga pun sama. Bahkan setelah satu minggu berlalu, keadaannya masih tidak berubah.
Hingga sebulan kemudian, penebang kayu dari gunung sebelah kanan akhirnya merasa tidak tenang.
Dia berpikir : “Mungkin temanku sakit. Aku harus pergi menengoknya, siapa tahu bisa membantu.”
Maka dia pun mendaki gunung sebelah kiri untuk mengunjungi sahabat lamanya.
Ketika dia sampai di lereng gunung dan melihat sahabatnya, dia sangat terkejut. Sahabatnya tampak sedang berlatih Tai Chi dengan santai di depan gubuk, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sebulan tidak minum air.
Dengan heran dia bertanya: “Kamu sudah sebulan tidak turun menimba air. Apakah kamu tidak perlu minum air?”
Penebang kayu dari gunung sebelah kiri tersenyum dan berkata: “Ayo, ikut aku. Aku perlihatkan sesuatu.”
Dia lalu membawa temannya ke halaman belakang gubuk, menunjuk ke sebuah sumur, dan berkata: “Selama lima tahun ini, setiap kali selesai menebang kayu, aku selalu menyempatkan waktu untuk menggali sumur ini. Meski kadang sibuk, sedikit demi sedikit tetap aku gali.”
“Sekarang akhirnya aku menemukan sumber air. Aku tidak perlu lagi turun gunung untuk menimba air. Aku punya lebih banyak waktu untuk berlatih Tai Chi yang aku sukai. Hahaha!”
Renungan
Ketika membaca kisah ini, pikiran pertama yang muncul adalah: Penebang kayu dari gunung sebelah kiri ini kurang setia kawan—mengapa dia tidak membagikan cara ini kepada temannya?
Namun inti cerita ini bukanlah untuk mempertanyakan mengapa dia tidak berbagi, melainkan untuk menyampaikan sebuah pesan penting:
Selain memiliki satu sumber penghasilan utama, kita juga perlu memikirkan cara untuk menciptakan sumber penghasilan tambahan—baik penghasilan sampingan, maupun penghasilan pasif (uang yang tetap masuk meski tidak bekerja langsung, seperti bunga, sewa, iklan blog atau situs web, dan sebagainya).
Jika suatu hari penghasilan pasif kita mampu menutupi kebutuhan hidup sehari-hari dan bahkan menyisakan tabungan, maka waktu akan benar-benar berada di tangan kita, dan barulah kita bisa menjalani kehidupan yang benar-benar kita inginkan.
Terlebih ketika menghadapi berbagai faktor yang tidak bisa kita kendalikan, seperti perusahaan bangkrut, pemutusan hubungan kerja, krisis finansial, kecelakaan, atau penyakit yang membuat kita kehilangan pekerjaan utama—kita tidak akan mudah terjerumus ke dalam kesulitan.
Sesungguhnya, banyak buku motivasi, pakar ekonomi, dan tokoh terkenal yang selalu menekankan pentingnya memiliki keahlian kedua, serta memanfaatkan waktu luang untuk belajar dan mengembangkan diri agar masa depan dan penghasilan menjadi lebih baik.
Namun… berapa banyak orang yang benar-benar mendengarkan nasihat ini? Bukankah kebanyakan orang justru menghabiskan waktu sepulang kerja untuk mengobrol, menonton televisi, atau bermain gim?
Setelah membaca kisah ini, mungkin ada yang sudah berhasil menggali sumurnya sendiri, ada pula yang sedang menggali. Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah menggali sumur milik Anda sendiri? (jhn/yn)




