Legislator PDIP: Jokowi Harus Tanggung Jawab atas Kerusakan Desain UU KPK

suara.com
3 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Wacana Presiden Jokowi mengenai kembali ke UU KPK lama menimbulkan polemik serius tentang konsistensi kebijakan legislasi nasional.
  • Anggota Komisi III DPR RI, Wayan Sudirta, khawatir perubahan hukum fleksibel merusak kepastian hukum dan tata kelola negara.
  • Wayan menilai usulan kembali ke UU lama adalah sinyal politisasi terhadap KPK, bukan solusi fundamental masalah korupsi.

Suara.com - Pernyataan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi terkait opsi untuk kembali ke Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) versi lama memicu polemik luas di masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr. I Wayan Sudirta, menilai wacana ini menghadirkan pertanyaan besar mengenai konsistensi kebijakan legislasi.

Wayan mempertanyakan apakah langkah ini patut dibaca sebagai sinyal politik atau justru pengakuan implisit atas kegagalan kebijakan di masa lalu.

Wayan menekankan bahwa revisi UU KPK tahun 2019 merupakan produk kerja sama antara eksekutif dan legislatif. Ia mengingatkan kembali sikap pemerintah saat gelombang penolakan masyarakat terjadi beberapa tahun lalu.

"Presiden Jokowi kala itu terlihat menanggapinya dengan dingin dan tetap melaksanakan apa yang menjadi amanat UU KPK yakni seperti pembentukan Dewan Pengawas atau peralihan pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara," ujar Wayan dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).

Wayan juga mengkhawatirkan pola perubahan hukum yang terlalu fleksibel demi kepentingan politik sesaat, karena hal tersebut dapat merusak tatanan negara hukum. Menurutnya, stabilitas regulasi sangat penting untuk menjaga integritas lembaga penegak hukum.

"Hari ini direvisi, esok dikembalikan, lusa mungkin diubah lagi. Pola demikian merusak kepastian hukum (legal certainty) dan menciptakan preseden buruk dalam tata kelola legislasi," tegas legislator tersebut.

Terkait desakan untuk kembali ke aturan lama, Wayan menilai hal itu bukan sekadar urusan teknis hukum, melainkan memiliki dimensi politis yang kuat. Ia berpendapat bahwa persoalan korupsi tidak akan selesai hanya dengan mengubah teks undang-undang tanpa adanya kemauan politik yang konsisten.

"Jika kini muncul wacana untuk kembali ke UU lama, maka persoalannya bukan semata-mata ‘mengoreksi norma’, melainkan sinyal politisasi terhadap KPK," ungkap Wayan.

Baca Juga: Bantah Jokowi soal Inisiatif Revisi UU KPK, Wakil Ketua DPR: Kita Tak Bisa Jalan Tanpa Supres!

Lebih dari itu, Wayan Sudirta mengajak semua pihak untuk berhenti terpaku pada masa lalu dan mulai fokus pada penguatan sistem peradilan pidana secara menyeluruh.

Ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil saat ini untuk masa depan.

"Mari sama-sama membuat Indonesia maju ke depan bukan ke belakang. Kekuasaan tidak abadi, artinya apa yang menjadi langkah kita saat ini dan ke depan yang akan menentukan nasib kita atau bangsa ini ke depan," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Semarak Imlek di Berbagai Daerah di Indonesia
• 23 jam laludetik.com
thumb
YouTube Eror Pagi Ini, Tak Bisa Streaming Video
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Naluri berdagang yang menyelamatkan Pesmi dari stres pascabencana
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Andai Tak Bersama Prabowo, Gibran Lebih Baik Jadi Cawapres Anies
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Ledakan toko kembang api tewaskan 12 orang di China tengah
• 18 menit laluantaranews.com
Berhasil disimpan.