Tarawih Pertama di 2026, Nasaruddin Umar Ceramah soal Eko-Teologi di Istiqlal

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta sekaligus Menteri Agama Nasaruddin Umar akan menyampaikan ceramah bertema eko-teologi saat tarawih perdana di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Rabu (18/2) malam.

Nasaruddin mengatakan, tema yang diangkat adalah “Ramadan Hijau, Ramadan Bersama” yang selaras dengan gagasan eko-teologi yang tengah dikembangkan Kementerian Agama.

“Temanya kan ‘Ramadan Hijau’. Ya kenapa ini? Karena ini kita akan paralelkan dengan tema kita di Kementerian Agama bahwa salah satu hal yang kita gagas sekarang ini adalah eko-teologi,” ujarnya dalam konferensi pers jelang tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Rabu (18/2) sore.

Ia menjelaskan, eko-teologi menekankan pentingnya menghadirkan wajah agama yang ramah, lembut, dan bersahabat dengan alam. Menurutnya, selama ini pendekatan teologi kerap terlalu formal dan maskulin.

“Jadi eko-teologi itu ini ada maknanya sangat fundamental ya. Karena kita sadar bahwa Tuhan itu kan lebih menonjol sebagai feminine God, lebih menonjol sebagai nurture. Nurture itu apa? Lembut, mendidik, mengasuh, membina ya. Nah bukan sebagai Tuhan Maha Pendendam, Maha Keras, Maha Jantan,” kata Nasaruddin.

“Nabinya pun juga lebih menonjol sebagai jamaliah, feminine prophet ya kan. Kitab sucinya pun juga menonjol sebagai kitab-kitab feminin, kitab penuh kelembutan. Tapi yang jadi masalah kok hambanya, umatnya ini menjadi hamba yang super maskulin ya kan?” tambah dia.

Nasaruddin menilai, agama sejatinya berfungsi melembutkan hati, jiwa, dan pikiran manusia. Karena itu, ia mendorong apa yang disebutnya sebagai “demaskulinisasi teologi”.

“Tujuan agama sesungguhnya itu melembutkan, mencerahkan. Tetapi masyarakat kita identik dengan teologi formalitas, formal logic, teologi yang lebih menekankan aspek maskulin, teologi yang struggle, menaklukkan, heroik,” ujar dia.

“Jadi ada semacam program demaskulinisasi teologi. Teologi kita selama ini terlalu maskulin, maka kita perlu melembutkan. Dan nabi itu memang menekankan dirinya sebagai seorang ‘Kana khuluquhul quran’, akhlaknya nabi itu adalah Al-Quran sangat lembut. Nah jadi itu yang dimaksud dengan Green Theology, Teologi Hijau ya kan,” imbuh Nasaruddin.

Menurutnya, kesadaran ekologis penting ditekankan dalam kehidupan beragama karena manusia tidak bisa menjalankan peran sebagai hamba maupun khalifah tanpa lingkungan yang sehat.

“Nah inilah kita akan kembalikan fungsi agama sesungguhnya adalah mengajak masyarakat untuk mencintai alam semesta. Tidak mungkin bisa menjadi hamba tanpa alam yang sehat. Tidak mungkin bisa menjadi khalifah yang baik tanpa alam yang sehat juga. Nah alam ini punya hak, manusia juga punya hak. Jadi kalau kita tidak menghargai haknya alam semesta, alam akan marah,” pungkas Nasaruddin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Abella Debut Lewat Single Tick Tock, Hadirkan Energi Baru Musik Anak Indonesia
• 11 jam laluintipseleb.com
thumb
Komisi III DPR Gelar RDP dengan Tiga Konfederasi Buruh, Ini yang Dibahas!
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Istana Bantah Ada Kades yang Tolak Koperasi Merah Putih karena Pakai Dana Desa
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo: Kami Berharap AS Lebih Kuat di Ekonomi Kami, Jadi Mitra Strategis
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Bansos PKH BPNT 2026 Tahap 1 Cair, Ini Cara Cek Penerima dan Jadwalnya
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.