JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap pesan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada kader Partai Demokrat.
AHY mengungkap Ketua Majelis Partai Demokrat itu sering mengingatkan soal loyalitas ke negara harus lebih tinggi daripada loyalitas ke partai.
"Pak SBY sering mengingatkan kita, loyalty to my party ends when loyalty to my country begins (loyalitas ke partai berakhir saat loyalitas ke negara dimulai)," ujar AHY dalam perayaan Imlek 2026 yang digelar Partai Demokrat di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (13/2/2026).
Menurut AHY, SBY selalu menekankan bahwa loyalitas ke negara harus di atas segalanya.
Baca juga: AHY Ungkap Annisa Pohan Sedang Hamil 7 Bulan: Kalau Lahir Jadi Shio Kuda Api
Hal ini juga menjadi salah satu janji dan sumpah para kader Partai Demokrat.
"Jadi, country over party. Bangsa dan negara di atas segalanya. Itu janji dan sumpah kami semua yang pernah mengemban tugas sebagai prajurit dan tentu DNA ini mengalir kuat di tubuh Partai Demokrat," tegasnya.
Di sisi lain, AHY juga menegaskan nilai-nilai religi atau agama yang ada di Indonesia harus dimuliakan secara setara.
"Dan perhelatan hari ini menjadi sebuah testament, sebuah bukti bahwa Indonesia beragam, tapi kita benar-benar sangat menghormati dan toleran satu sama lain, baik dalam merayakan hari-hari keagamaan maupun hari-hari yang spesial seperti Imlek kali ini," ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan Partai Demokrat adalah rumah besar untuk semua suku, agama, ras, etnis, serta budaya.
Baca juga: AHY: SBY Jadi Seniman untuk Ekspresikan Cintanya ke Indonesia
Partai Demokrat disebutnya tidak pernah membeda-bedakan dari mana seseorang berasal.
"Tentu kita mencintai akar budaya kita masing-masing, kita devoted untuk agama kita masing-masing, tapi di atas segalanya kita ingin menghadirkan rumah yang nyaman, rumah yang membawa kedamaian tapi juga membawa progres, kemajuan untuk semua," lanjutnya.
Bagi AHY, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar jargon belaka.
Namun, itu merupakan kesepakatan kolektif bersama.
Oleh karena itu, ia menekankan persatuan di tengah derasnya arus digital dan media sosial.
"Bahkan kita sering sekali terjebak dalam sebuah tsunami informasi, disinformasi terjadi, misinformasi terjadi, sering kita tidak mengetahui mana yang benar mana yang salah, mana yang aktual mana yang merupakan fake news ataupun hoaks," ucap AHY.
"Tapi mari kita terus ingatkan diri kita dan generasi penerus kita Unity in Diversity should not be taken for granted," lanjut dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




