Pantau - Setelah mendapatkan bantuan suplai air irigasi, sebagian petani kopi di Kabupaten Aceh Tengah mulai kembali beraktivitas di kebun mereka, Rabu, 18 Februari 2026 pukul 17.06 WIB.
Salah satu petani yang kembali berkebun adalah Karyadi, pemilik kebun kopi di Kampung Kalasegi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah.
Ia kembali beraktivitas normal dengan memetik biji kopi yang sudah siap panen di kebunnya setelah sebelumnya terdampak bencana banjir Sumatera.
"Sehari-hari sudah berkebun. Alhamdulillah dapat bantuan saluran air ini kan," ungkapnya.
Karyadi merupakan penyintas bencana Sumatera yang berprofesi sebagai petani kopi dan sempat tinggal di posko pengungsian selama kurang lebih tiga bulan pascabencana.
Menjelang Ramadhan, ia memutuskan kembali ke rumahnya meskipun bangunan tersebut sempat tertimbun lumpur setinggi lebih dari satu meter.
"Ada satu meter lebih ini lumpur, habis itu dikeruk dengan ekskavator, karena memperoleh bantuan kemarin," ia mengungkapkan.
Lumpur yang menimbun rumahnya kemudian dikeruk menggunakan ekskavator setelah adanya bantuan yang diterima.
Aktivitas Kebun Mulai NormalKebun kopi milik Karyadi tidak terdampak banjir maupun longsor meskipun saluran irigasi sempat terputus akibat bencana.
Akses jalan menuju kebun masih dapat dilalui sehingga aktivitas panen dapat kembali dilakukan setelah suplai air irigasi pulih.
Ia menyebut bantuan irigasi menjadi faktor utama yang membuat para petani mulai kembali ke kebun mereka.
Data Kerusakan Banjir Aceh TengahBerdasarkan data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, sebanyak 14 kecamatan dan 295 kampung di Kabupaten Aceh Tengah terdampak bencana.
Akibat banjir Sumatera, lahan kopi yang rusak tercatat mencapai 12.638 hektare.
Selain lahan kopi, terdapat 4.100 hektare lahan cabai, 2.787 hektare sawah, serta 38 hektare area perikanan yang ikut terdampak banjir.
Pada sektor infrastruktur, sebanyak 306 ruas jalan, 179 titik jembatan, dan 130 jaringan irigasi mengalami kerusakan.
Saat ini di Kecamatan Bintang masih terdapat sejumlah warga yang tinggal di dua posko pengungsian karena rumah mereka tersapu banjir.




