Lembaran Februari 2026 tampaknya dibuka bukan dengan kabar gembira, melainkan dengan tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia baru saja merilis data hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan sepanjang tahun sebelumnya. Angkanya membuat kita sama-sama menahan napas, tepatnya sebanyak 363.326 pelajar terindikasi mengalami gejala depresi, dan 338.316 lainnya bergulat dengan gangguan kecemasan (anxiety). Data barusan bukan sekadar angka statistik. Ini adalah ratusan ribu anak-anak kita yang berangkat ke sekolah dengan jiwa yang ternyata tak sehat, tersembunyi di balik seragam rapi dan senyum palsu di media sosial.
Di tengah badai data ini, istilah "Generasi Strawberry" menjadi sebuah metafora untuk anak muda yang kreatif tapi rapuh, indah tapi mudah penyok. Seiring istilah tersebut, narasi-narasi di 2026 juga turut menuntut kita agar lebih kritis. Apakah adil menuduh mereka “lembek” dan “manja” ketika realitas yang mereka hadapi jauh lebih brutal daripada dekade sebelumnya? Di Jawa Barat saja, awal tahun ini justru disesaki oleh kabar lima kasus bunuh diri yang melibatkan pelajar, dari siswa SD hingga mahasiswa. Ini adalah sinyal SOS bahwa ada sesuatu yang fundamental telah sangat rusak dalam ekosistem tumbuh kembang mereka.
Brutalitas Sistem, Jebakan AI, dan Jalan Pulang Menuju Tazkiyatun NafsMari kita bedah bersama-sama tanah tempat stroberi ini tumbuh. Hal pertama yang harus kita pahami adalah bahwa mereka sejatinya tidak tumbuh di lahan subur, melainkan di tanah gersang penuh ketidakpastian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 menunjukkan bahwa dari 7,35 juta pengangguran, penyumbang terbesarnya justru lulusan SMK dan Sarjana (S1). Bayangkan beban mental seorang pelajar SMA di tahun 2026. Mereka dituntut berprestasi di sekolah, mengerjakan proyek kurikulum yang memakan biaya jutaan rupiah, yang sering kali memicu rasa insecure bagi yang tak mampu, namun di ujung jalan, gerbong menuju kereta pengangguran sudah siap menunggu.
Miris sekali, sistem pendidikan kita, yang niatnya memerdekakan bangsa pelajarnya lewat kurikulum baru, pada fakta di lapangan sering kali justru menjadi yang paling membelenggu. Tuntutan “Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila” (P5) yang berbiaya mahal sering kali berubah menjadi ajang kompetisi status sosial, bukan lagi sebagai medan adu kompetensi. Pada kenyataannya, pelajar mungkin tidak stres karena materi pelajaran, tetapi depresi karena takut tidak bisa ikut patungan proyek teman sekelompoknya.
Di sisi lain, kerapuhan ini diperparah oleh gaya hidup digital yang kian toksik. Laporan Digital 2026 mencatat ada 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, dengan rata-rata orang menghabiskan hampir 22 jam per minggu di sana. Di ruang gema inilah mental mereka digerus habis-habisan.
Lebih mengerikan lagi, Psikiater FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, pada akhir 2025 menyoroti tren self-diagnosis via AI. Remaja Gen Z dan Alpha kini lebih percaya pada chatbot daripada orang tua atau dokter. Mereka curhat ke AI, lalu mesin itu memvalidasi kesedihan mereka sebagai depresi mayor atau bahkan bipolar. Label diagnosis mesin ini kemudian mereka pamerkan di media sosial sebagai identitas. Mereka meyakini diri mereka sakit, dan keyakinan itulah yang melumpuhkan daya juang mereka.
Ketika obat penenang dan konseling sekuler tak lagi mempan, Psikologi Islam menawarkan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai antitesis kerapuhan. Ini bukan sekadar ceramah agama, melainkan teknologi perbaikan mental yang radikal.
Pertama, takhalli, atau pembersihan. Sejujurnya, jiwa pelajar 2026 mustahil tidak keruh oleh sampah digital, di antaranya pameran kemewahan (flexing), standar kecantikan palsu, dan validasi popularitas. Psikologi Islam menuntut detoksifikasi, yakni membuang ketergantungan pada validasi makhluk. Kedua, tahalli, atau pengisian. Mengisi jiwa dengan sabar dan syukur. Dalam Islam, tekanan hidup dimaknai sebagai riyadhah, atau latihan jiwa, bukan dikategorikan sebagai musibah. Seperti otot yang harus dirobek beban agar membesar, begitu pula jiwa yang harus ditempa ujian agar kuat.
Puncaknya adalah muraqabah, atau merasa diawasi oleh Allah. Inilah kunci penyembuhan insecurity. Generasi Strawberry rapuh karena hidup untuk “Me”, yakni diri di mata netizen. Psikologi Islam menggeser porosnya ke “I”, yaitu diri di hadapan Allah. Ketika seorang pelajar sadar bahwa satu-satunya viewer dan liker yang penilaiannya penting hanyalah Allah, komentar jahat netizen atau kegagalan akademik tidak akan membuatnya hancur lebur.
Menyongsong Generasi DurianJika kita bersatu menjewantahkan ini di tahun 2026, kita bisa menemukan udara segar perubahan. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan sistem yang lambat berubah, atau memaki anak muda yang semakin rapuh. Solusinya harus integratif. Sekolah dan orang tua harus berhenti menanam benih kecemasan dengan tuntutan materi yang tidak realistis.
Namun, pertahanan terakhir ada pada diri pelajar itu sendiri. Melalui pendekatan Psikologi Islam, kita ingin mengubah Generasi Strawberry menjadi “Generasi Durian”. Generasi yang mungkin tampak berduri, keras, dan tangguh dari luar, alias siap menghadapi kejamnya persaingan global dan sadisnya komentar dunia maya, namun di dalamnya tersimpan daging buah yang manis, bernilai tinggi, dan matang secara spiritual.
Sudah saatnya kita berhenti mencari penyembuhan di layar gawai atau di ruang obrolan AI. Kesembuhan itu ada di “langit”. Mari ajak anak-anak kita meletakkan ponsel sejenak, lalu mulai bersujud sebangga-bangganya. Karena sujud adalah satu-satunya posisi di mana hati kita berada lebih tinggi dari kepala, mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tak ada gunanya tanpa kekuatan jiwa yang kokoh.




