Belakangan ini, pemberitaan tentang lebih dari 600 warga di sebuah desa di Provinsi Shandong yang melakukan sujud massal saat perayaan Tahun Baru Imlek mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial.
EtIndonesia. Setiap hari pertama Tahun Baru Imlek, banyak daerah pedesaan di Shandong masih mempertahankan tradisi memberi penghormatan dan ucapan selamat kepada para orang tua dan sesepuh.
Di Desa Dalei, Yanggu, Liaocheng, bahkan terdapat tradisi sujud massal untuk memberi salam tahun baru. Konon, tradisi ini telah berlangsung lebih dari 600 tahun di wilayah tersebut.
Pada hari pertama Tahun Baru Imlek, lebih dari 600 anggota marga Lei berkumpul di aula leluhur keluarga untuk melaksanakan upacara sujud massal yang berlangsung dengan khidmat dan megah.
Dari video yang beredar di internet terlihat para pria generasi muda, dipimpin oleh anggota keluarga dengan senioritas tertinggi, berbaris sesuai urutan kedekatan hubungan darah dan usia. Dengan ekspresi serius dan penuh hormat, mereka mendatangi satu per satu rumah para tetua untuk menyampaikan salam tahun baru.
Setiap kali tiba di sebuah rumah, mereka berseru, “Kami datang memberi ucapan selamat tahun baru kepada para sesepuh!” Setelah itu, seluruh rombongan berlutut serentak dan melakukan ritual penghormatan “satu kali membungkuk dan tiga kali bersujud.” Para tetua membalas dengan senyum hangat, menyerahkan amplop merah serta permen, lalu berbincang sejenak dengan generasi muda, menyampaikan doa dan harapan baik, serta mempererat kehangatan keluarga.
Setelah selesai memberi salam di satu rumah, rombongan melanjutkan ke rumah berikutnya. Setelah seluruh anggota marga menyelesaikan ritual di keluarga inti, mereka kembali berkumpul untuk melakukan “salam seluruh marga,” yakni menyampaikan ucapan tahun baru kepada para tetua dari marga lain yang tinggal di desa yang sama.
Pada sore hari pertama Tahun Baru Imlek, giliran para perempuan generasi muda yang melakukan kunjungan. Mereka juga berangkat secara berkelompok dan mengikuti tradisi yang sama. Selain memberi salam, mereka berbincang akrab dengan para tetua, menambah suasana hangat dan penuh kekeluargaan di hari raya.
Seorang warga Desa Dalei mengungkapkan bahwa tradisi salam massal keluarga Lei ini telah berlangsung lebih dari enam abad. Tahun ini, sekitar 600 orang ikut serta, dan semuanya berpartisipasi secara sukarela.
Shandong sejak lama dikenal sebagai “Tanah Kelahiran Konfusius dan Mencius” sekaligus pusat lahirnya budaya Konfusianisme. Tradisi memberi salam pada hari pertama Tahun Baru Imlek telah lama diwariskan di berbagai daerah Shandong, khususnya di pedesaan. Pada pagi buta hari pertama Imlek, seluruh generasi muda dalam keluarga biasanya sudah bangun lebih awal untuk mengunjungi rumah para tetua yang bermarga sama. Para sesepuh pun telah menyiapkan permen dan camilan untuk menyambut mereka.
Tata cara ritual memberi salam pun berbeda-beda di setiap daerah. Di sebagian wilayah, generasi muda masih melakukan sujud kepada orang tua dan para tetua dalam keluarga besar, sementara para tetua memberikan angpao kepada anak-anak dan remaja yang belum dewasa. Di wilayah lain, tradisi bersujud sudah tidak dilakukan lagi dan hanya tersisa kebiasaan saling berkunjung untuk mengucapkan selamat tahun baru.
Selain itu, di Shandong, pria dan wanita biasanya tidak melakukan kunjungan bersama. Kaum pria melaksanakan ritual pada pagi hari, sedangkan kaum wanita secara tradisional lebih suka berkunjung sambil mengobrol. Setelah memberi salam, mereka biasanya masuk ke dalam rumah, duduk sejenak, dan berbincang santai tentang kehidupan sehari-hari. (jhon)
Sumber : NTDTV.com





