HARIAN FAJAR, BANDUNG – Persib Bandung resmi tersingkir dari AFC Champions League Two (ACL Two) 2025/2026 meski menang 1-0 atas Ratchaburi FC pada leg kedua babak 16 besar. Kemenangan tersebut tidak cukup menutup defisit tiga gol dari leg pertama yang berakhir 0-3, sehingga agregat menjadi 1-3 untuk keunggulan lawan.
Evaluasi Kegagalan dan Dampaknya
Kegagalan ini menyoroti problem klasik Persib, yaitu minimnya ketajaman di lini depan saat menghadapi laga-laga krusial di level Asia. Gol tunggal Andrew Jung pada menit ke-39 tidak mampu membalikkan keadaan, terlebih setelah kartu merah yang diterima Uilliam Barros jelang turun minum membuat Persib harus bermain dengan 10 orang.
Persib sebenarnya tampil agresif sejak awal pertandingan, dengan gol cepat Berguinho yang dianulir karena offside dan beberapa peluang dari Thom Haye serta Layvin Kurzawa. Namun, efektivitas penyelesaian akhir menjadi pembeda utama di kompetisi Asia, di mana kekalahan telak 0-3 di leg pertama di Thailand menjadi penentu kegagalan mereka.
Solusi Lini Depan: Lirik Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny
Nama dua pemain keturunan Indonesia, Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny, kembali mencuat sebagai opsi masa depan untuk mengatasi masalah lini depan Persib. Keduanya sebelumnya pernah dikaitkan dengan klub pada bursa transfer sebelumnya.
Ragnar dikenal fleksibel karena bisa bermain sebagai winger maupun second striker, sementara Romeny merupakan penyerang agresif dan mobile. Selain itu, keduanya memiliki pengalaman bermain di Eropa yang memberikan mereka kemampuan beradaptasi dengan intensitas dan tempo tinggi yang dibutuhkan di kompetisi Asia.
Persib membutuhkan sosok yang tidak hanya aktif bergerak, tetapi juga klinis di depan gawang agar bisa menjadi pembeda di laga besar, jelasnya.
Catatan Penting untuk Musim Depan
Tersingkirnya Persib dari ACL Two memberi tiga catatan penting yang harus diperbaiki: efektivitas tandang yang menjadi penentu setelah kekalahan 0-3 di leg pertama, disiplin pemain yang terganggu oleh kartu merah di momen krusial, dan kedalaman skuad yang masih perlu ditingkatkan terutama dalam hal rotasi dan kualitas pelapis.
Manajemen Persib harus mulai menyusun rencana jangka panjang jika ingin tidak hanya mendominasi kompetisi domestik, tetapi juga menjadi kompetitif di level Asia. Penambahan striker haus gol menjadi prioritas utama untuk mengatasi kelemahan yang ada.
Menuju Level Asia yang Lebih Tinggi
Kegagalan ini bisa menjadi titik balik bagi Persib untuk naik level. Fokus kini kembali ke kompetisi domestik, namun pergerakan di bursa transfer mendatang akan sangat menentukan apakah Ragnar Oratmangoen atau Ole Romeny benar-benar menjadi solusi yang dibutuhkan.
Yang jelas, jika Persib ingin berbicara banyak di Asia, mereka harus menemukan predator baru yang bukan sekadar pencetak gol, tetapi juga pembeda di laga besar.




