KEPUTUSAN Elon Musk melalui SpaceX untuk menutup akses pasukan Rusia terhadap layanan internet satelit Starlink mulai mengubah peta pertempuran di Ukraina. Sejak kebijakan "daftar putih" (white list) diberlakukan pada 1 Februari lalu, kekuatan ofensif Moskow dilaporkan merosot tajam akibat lumpuhnya koordinasi di garis depan.
Seorang operator drone Ukraina dengan panggilan "Giovanni" mengungkapkan pasukan Rusia kehilangan kemampuan untuk mengendalikan medan perang secara real-time. "Saya pikir mereka kehilangan 50% kapasitas penyerangan. Angka menunjukkan serangan dan jumlah drone musuh berkurang drastis," ujarnya.
Skema "Blacklist" dan Jebakan SiberSebelumnya, pasukan Rusia diketahui memanfaatkan terminal Starlink ilegal untuk meningkatkan akurasi serangan drone hingga jarak 250 kilometer dari garis depan. Namun, kini SpaceX hanya mengaktifkan terminal yang disetujui oleh Kementerian Pertahanan Ukraina. Pengguna sipil pun diwajibkan melakukan registrasi ulang dengan identitas resmi.
Baca juga : Sistem Starlink Rusia Lumpuh, Komando Militer Moskow di Garis Depan Dilaporkan Kacau
Kondisi ini dimanfaatkan aktivis siber Ukraina dari grup InformNapalm. Mereka meluncurkan operasi phishing yang berhasil menipu tentara Rusia agar mengungkap detail terminal mereka dengan iming-iming bantuan registrasi. Tercatat, 2.425 terminal berhasil diidentifikasi keberadaannya, yang kemudian menjadi sasaran empuk artileri Ukraina.
Mikhailo Makaruk, juru bicara InformNapalm, menyebut operasi ini juga merusak mental musuh. "Mereka tidak lagi saling percaya," katanya, merujuk pada ketakutan tentara Rusia akan pengkhianatan di internal mereka sendiri.
Moskow Terpaksa Kembali ke Teknologi LawasKehilangan koneksi internet satelit yang cepat dan tahan gangguan membuat militer Rusia kelimpungan. Intelijen militer Ukraina (HUR) menyebutkan bahwa upaya Rusia menggunakan sistem domestik seperti "Gazprom Space Systems" gagal total karena kualitas yang buruk.
Baca juga : Saingi Starlink, Blue Origin Milik Jeff Bezos Bakal Luncurkan 5.400 Satelit TeraWave
"Rusia kini secara mendesak beralih ke komunikasi kabel," ujar seorang tentara Ukraina.
Penggunaan radio konvensional sebagai alternatif justru memudahkan pihak Ukraina menyadap dan memahami pergerakan musuh. "Jika kita bisa mengalahkan transmisi komando musuh meski hanya 5 atau 10 detik, itu adalah pengubah permainan total di garis depan," tambah prajurit lainnya.
Peluang Serangan BalikAnalis militer menilai Ukraina memiliki waktu sekitar dua bulan untuk mengeksploitasi "kebutaan" komunikasi Rusia sebelum Moskow berhasil beradaptasi. Saat ini, pasukan Ukraina fokus membersihkan "zona abu-abu" dan menghalau kelompok penyerbu musuh agar tidak bisa memperkuat posisi.
Mantan perwira intelijen Ukraina, Ivan Stupak, menilai situasi ini bisa meningkatkan posisi tawar Kiev dalam negosiasi damai. "Pasukan lapis baja Rusia di lapangan sebagian buta dan sebagian tuli. Mungkin mereka akan begitu frustrasi sehingga serangan balik kecil pun bisa berdampak besar," ungkapnya.
Meski Rusia mengeklaim di televisi nasional bahwa hilangnya Starlink tidak memengaruhi operasi mereka, bukti di lapangan menunjukkan sebaliknya, rantai komando dan logistik mereka tengah berada dalam kekacauan hebat. (BBC/Z-2)





