Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyinggung apa yang disebut sebagai “sisi negatif politisi” saat menutup sambutan dalam Gala Iftar Business Summit di U.S. Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
Dalam penutupan pidatonya, Prabowo berkelakar bahwa seorang politisi cenderung berbicara lebih lama dari yang seharusnya ketika diberi podium. Dia menyebut kebiasaan tersebut sebagai salah satu sisi negatif dari pemimpin politik.
“Saya rasa saya akan mengakhiri sambutan saya di sini, karena jika tidak, saya cenderung berbicara lebih lama dari yang seharusnya. Saya rasa itulah sisi negatif dari politisi dan pemimpin politik,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Prabowo kemudian berseloroh bahwa kebiasaan tersebut bukan sepenuhnya kesalahannya, melainkan karena panitia telah memberinya podium.
Dia juga menceritakan nasihat seorang pemimpin politik Amerika yang pernah mengatakan kepadanya untuk tidak pernah berhenti berkampanye, bahkan setelah terpilih.
“Karena seorang pemimpin politik Amerika pernah mengajari saya, dia berkata, ‘Prabowo, jangan pernah berhenti berkampanye.’ Jadi meskipun baru saja terpilih dan dia mengatakan ini beberapa minggu setelah saya terpilih dia berpesan, jangan pernah berhenti berkampanye. Jadi inilah saya,” imbuhnya.
Menurut Prabowo, pesan tersebut disampaikan beberapa minggu setelah dia memenangkan pemilihan. Dia pun menanggapi nasihat itu dengan humor, menyebut kemungkinan memperoleh tiga atau empat tambahan pendukung dari pertemuan tersebut.
“Siapa tahu saya akan mendapatkan tiga atau empat tambahan pendukung dari pertemuan ini,” katanya sambil berseloroh.
Di balik nada santai, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sangat menghargai hubungan bilateral dengan Amerika Serikat serta keterlibatan aktif negara tersebut di kawasan Asia Tenggara.
Dia menyatakan bahwa selama bertahun-tahun, masyarakat Asia Tenggara memandang Amerika Serikat sebagai mitra kuat dan pemimpin dunia bebas.
Pidato bernuansa humor tersebut menutup rangkaian sambutan Presiden Ke-8 RI itu dalam forum bisnis yang mempertemukan pemimpin pemerintahan dan pelaku usaha dari kedua negara, dengan fokus pada penguatan kerja sama ekonomi dan diplomasi.
“Selama bertahun-tahun, suka atau tidak, orang-orang di Asia Tenggara selalu menganggap Amerika Serikat sebagai teman yang kuat dan, katakanlah, pemimpin dari dunia bebas,” pungkas Prabowo.




