Bea Cukai Fasilitasi Konser Dream Theater 40th Anniversary Tour 2026 Lewat ATA Carnet

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Performa yang solid, teknikal, dan magis Dream Theater sukses memukau para penikmat musik progresif rock yang hadir di Beach International Stadium (BCIS) Ancol, Jakarta, pada Sabtu (7/2).

Dalam konser bertajuk “An Evening With Dream Theater: 40th Anniversary Tour 2026” itu, band legendaris asal Amerika tersebut merayakan empat dekade perjalanan musik, sekaligus menyambut kembalinya drummer Mike Portnoy ke dalam band yang membuat konser malam itu kian mengesankan.

BACA JUGA: Manfaatkan Fasilitas dari Bea Cukai, Perusahaan Ini Ekspor Komponen Kelistrikan ke Jepang

Namun, gemerlap panggung dan harmonisasi musik Dream Theater yang nyaris tanpa cela tidak berdiri sendiri.

Di baliknya, terdapat rangkaian proses logistik yang kompleks dan terencana, memastikan seluruh peralatan konser tiba tepat waktu dan siap digunakan.

BACA JUGA: Bea Cukai Gagalkan Peredaran Narkoba 25 Kg yang Dikirim Pakai Alphard

Kelancaran infrastruktur teknis inilah yang menjadi fondasi tak terlihat dari sebuah pertunjukan kelas dunia.

Dalam mendukung kelancara kegiatan tersebut, Bea Cukai memberikan fasilitas kepabeanan bernama ATA Carnet.

BACA JUGA: Sinergi Bea Cukai & Polri Bongkar Lab Sabu di Sunter, 13 Kg Narkotika Gagal Beredar

Fasilitas itu tentang bagaimana logistik ratusan peralatan konser dapat melintas batas negara secara efisien.

Mekanisme administratif yang bekerja senyap tetapi krusial, yakni sistem impor sementara yang memungkinkan peralatan konser masuk dan keluar Indonesia tanpa dikenakan bea masuk dan pajak impor.

Mekanisme itulah yang dikenal sebagai ATA Carnet, sebuah instrumen kepabeanan internasional yang kerap menjadi tulang punggung mobilitas barang untuk kegiatan berskala global.

"ATA Carnet merupakan dokumen yang memungkinkan impor dan ekspor barang secara sementara tanpa dikenakan bea masuk dan pajak dalam rangka kegiatan tertentu. Skema ini lazim dimanfaatkan untuk mendukung berbagai agenda internasional seperti pameran, produksi film, arsitektur, olahraga, seni pertunjukan, penelitian, hingga tur grup musik mancanegara. Dalam konteks konser, dokumen ini dapat digunakan untuk memasukkan instrumen musik, sistem tata suara, tata cahaya, hingga perlengkapan panggung lainnya yang bersifat sementara dan tidak untuk diperjualbelikan," jelas Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo.

Secara sederhana, ATA Carnet dapat dipahami sebagai “paspor barang”.

Dokumen tersebut memberikan jaminan bahwa barang yang masuk ke suatu negara hanya akan berada dalam jangka waktu terbatas dan akan dikeluarkan kembali setelah kegiatan selesai.

Dengan mekanisme ini, pelaku kegiatan tidak perlu membayar bea masuk dan pajak impor sebagaimana prosedur impor biasa, sepanjang seluruh ketentuan dipenuhi dan barang benar-benar diekspor kembali. Saat ini, fasilitas ATA Carnet telah diterima di 78 negara di seluruh dunia.

Di Indonesia, ATA Carnet merupakan salah satu metode pemasukan atau impor barang sementara yang diatur dalam kerangka ketentuan kepabeanan.

Kehadirannya menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan sistem yang adaptif terhadap kebutuhan mobilitas global, sekaligus tetap menjaga aspek pengawasan dan kepastian hukum.

Budi mengatakan pemanfaatan ATA Carnet merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan event-event internasional di Tanah Air.

“ATA Carnet adalah bentuk fasilitasi pemerintah untuk mendukung kegiatan internasional, termasuk konser musik, agar proses pemasukan dan pengeluaran barang dapat berlangsung lebih cepat dan efisien tanpa mengurangi aspek pengawasan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, konser internasional seperti tur peringatan 40 tahun Dream Theater umumnya melibatkan peralatan teknis bernilai tinggi dan berjumlah besar yang harus berpindah dari satu negara ke negara lain dalam waktu relatif singkat mengikuti jadwal tur.

Tanpa mekanisme impor sementara yang terstandar secara internasional, proses logistik dapat menjadi lebih kompleks dan memakan waktu.

Melalui ATA Carnet, proses kepabeanan menjadi lebih ringkas karena tidak memerlukan pembayaran bea masuk dan pajak impor untuk barang yang sifatnya sementara.

Dokumen yang diakui secara global ini juga mempermudah verifikasi karena daftar barang sudah tercantum secara terperinci.

“Fasilitas ATA Carnet mempermudah pemasukan dan pengeluaran peralatan konser, sehingga proses kepabeanan menjadi lebih efisien. Hal ini tentu sangat membantu kelancaran jadwal tur internasional yang umumnya padat dan terikat waktu,” imbuh Budi.

Meski demikian, mekanisme ini tetap berada dalam koridor pengawasan kepabeanan. Bea Cukai memastikan bahwa barang yang masuk sesuai dengan dokumen, tidak dialihkan peruntukannya, serta benar-benar dikeluarkan kembali setelah kegiatan berakhir.

Dengan demikian, keseimbangan antara fasilitasi dan pengawasan tetap terjaga. Konser “An Evening With Dream Theater: 40th Anniversary Tour 2026” di Jakarta menjadi salah satu contoh pemanfaatan ATA Carnet dalam mendukung kelancaran logistik event internasional.

Lebih luas lagi, kelancaran penyelenggaraan konser internasional juga berdampak positif pada pergerakan ekonomi di sekitarnya.

“Kelancaran event internasional, termasuk konser, pada akhirnya mendukung sektor kreatif dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan wisata. Fasilitas seperti ATA Carnet adalah bagian dari upaya menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kegiatan tersebut,” terang Budi.

Sebagaimana sepenggal lirik lagu “Pull Me Under” dari Dream Theater, “Watch the sparrow falling, gives new meaning to it all,” setiap detail kecil dalam sebuah perhelatan internasional sejatinya memberi makna pada keseluruhan pertunjukan.

Di balik gemuruh panggung dan sorak penonton, terdapat sistem yang memastikan semuanya berjalan selaras.

ATA Carnet hadir sebagai instrumen yang menjembatani kebutuhan mobilitas global dengan kepastian aturan nasional, mendukung Indonesia sebagai tuan rumah berbagai event internasional, sekaligus menjaga tertib administrasi dan pengawasan barang yang keluar masuk wilayah pabean. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perkuat Sinergi, Bea Cukai Lakukan Asistensi & Monitoring AEO di Tanjung Perak dan Bekasi


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, JPNN.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Cek Jadwal Salat dan Imsakiyah Ramadan 2026 se-Indonesia
• 4 jam laludetik.com
thumb
Teror Kuyank: Saranjana the Prequel Makin Ngeri, 1 Juta Penonton di Depan Mata
• 22 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kapolda Sumsel Silaturahmi ke Ulama NU-Muhammadiyah, Kolaborasi Jaga Kamtibmas
• 10 menit laludetik.com
thumb
Menhan beri semangat kepada keluarga prajurit yang gugur karena longsor
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Kanselir Jerman Dukung Larangan Medsos untuk Anak-Anak
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.