WASHINGTON DC, DISWAY.ID-- Di hadapan pengusaha, Presiden Prabowo Subianto memamerkan hasil efisiensi anggaran pemerintah Indonesia yang mencapai US$18 miliar atau sekitar Rp 304 triliun sejak beberapa bulan pertama pemerintahannya.
"Dalam beberapa bulan pertama memimpin administrasi ini, saya telah menghemat anggaran negara sekitar US$ 18 miliar secara tunai. Penghematan ini berasal dari inefisiensi dan proyek-proyek yang tidak produktif," kata Prabowo dalam acara Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu, 18 Februari 2026 waktu setempat.
Menurutnya, langkah penghematan dan efisiensi anggaran ini serupa dengan yang dilakukan AS melalui lembaga bentukan Presiden Donald Trump, DOGE (Department of Government Efficiency), yang sempat dipimpin oleh orang terkaya di dunia Elon Musk.
BACA JUGA:Prabowo di Washington Klaim Program MBG Beri Return hingga 35 Kali Lipat, Investasi Terbaik untuk Anak
"Mungkin ini mirip dengan apa yang sedang diupayakan di Amerika Serikat melalui DOGE. Namun, harus saya katakan bahwa saya memulainya lebih dulu beberapa bulan sebelumnya, dan saya merasa berhasil. Saya merasa diberdayakan," ucapnya.
Ia menyebut salah satu pos yang anggarannya dipangkas adalah belanja seremonial di berbagai institusi pemerintah.
Prabowo menyoroti kebiasaan perayaan hari ulang tahun kementerian, pemerintah provinsi, hingga kabupaten yang menurutnya menghabiskan anggaran tidak sedikit.
“Bisa Anda bayangkan berapa ratus upacara yang kita adakan setiap minggu dan setiap bulan di seluruh Indonesia? Jadi, saya batalkan saja itu semua. Saya katakan ulang tahun cukup dirayakan di dalam kantor, mungkin dengan makan siang kecil atau makanan bungkus saja, untuk menjaga rasionalitas," ujar dia.
Selain itu, pemerintah juga memangkas anggaran perjalanan dinas luar negeri yang nilainya disebut mencapai miliaran dolar.
Prabowo menilai kegiatan studi banding ke luar negeri sering kali tidak relevan dengan kebutuhan riil di dalam negeri.
BACA JUGA:Harga Cabai di Jakarta Melambung Awal Ramadan, Pramono Ungkap Penyebabnya
“Semua orang ingin studi banding ke luar negeri. Padahal masalah Indonesia sudah sangat jelas,” katanya.
Ia bahkan menemukan kasus studi banding soal pengentasan kemiskinan di Australia. Padahal negara itu adalah salah satu dari sepuluh negara terkaya di dunia.
"Dan lucunya, saat mereka mengirim tim ke sana, saya dengar dari teman-teman saya di Australia, saat itu sedang musim Paskah. Orang Australia sedang libur, jadi tidak ada orang yang bisa diajak diskusi! Hal-hal seperti ini terjadi, dan saya bertekad untuk bersikap rasional," tandas Prabowo.




