Pesawat Pelita Air Service PAS 7101 rute Long Bawan-Tarakan, diduga jatuh usai terbang 5 kilometer setelah lepas landas dari Long Bawan di Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/2) pukul 12.20 WITA.
Pj Corporate Secretary Pelita Air Patria Rhamadonna mengungkapkan pesawat yang jatuh itu merupakan armada charter Pelita Air yang melayani penerbangan kargo tanpa penumpang.
"Penerbangan tersebut merupakan layanan kargo pengangkut bahan bakar yang diawaki oleh satu orang pilot, tanpa awak kabin maupun penumpang," kata Patria kepada kumparan.
Saat ini pihaknya masih melakukan investigasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari tahu insiden jatuhnya pesawat tersebut.
"Informasi resmi dan perkembangan terbaru akan kami sampaikan secara berkala melalui kanal resmi Pelita Air," ucapnya.
Informasi awal dari AirNav Indonesia, pesawat itu jatuh saat cuaca cukup cerah dengan jarak pandang sejauh 9 kilometer.
KronologiBerdasarkan data AirNav Indonesia, berikut catatan atas pesawat tersebut:
Pukul 12.10 WITA: Pesawat lepas landas dari Long Bawan. Seharusnya pesawat ini melapor saat melewati Malinau pada 12.24 WITA dan tiba di Tarakan pada 13.15 WITA.
Pukul 12.20 WITA: Menara Pengawas (Tower) di Malinau mendapat info bahwa pesawat lain (PK BVN) menangkap "sinyal darurat (Emergency Locator Transmitter—ELT)". Sinyal ini biasanya memancar otomatis jika pesawat mengalami benturan keras.
Pukul 12.27 WITA: Pesawat lain lagi (PK MEE) mengonfirmasi juga mendengar sinyal darurat tersebut.
Pukul 12.30 WITA: Malinau mengonfirmasi titik koordinat sinyal darurat tersebut berada di N 03 53 53 E 115 52 43.
Pukul 12.50 WITA: Info dari Long Bawan menyatakan tim bandara bergerak ke lokasi sekitar 5 km dari ujung landasan (di balik gunung). Ada saksi mata (personel di Apron) yang "melihat pesawat menukik ke bawah".
Pukul 13.15 WITA: Hingga waktu estimasi kedatangan (ETA), pesawat belum menghubungi Tarakan.





