Masyarakat yang Menukar Kesehatan Orang Lain dengan Uang

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ini dunia seperti apa sebenarnya?  Ini adalah dunia yang menukar nyawa, kesehatan, dan keselamatan orang lain demi uang.

Ada orang yang menanam sayur hanya demi tampilan yang indah dan harga jual tinggi. Akibatnya, sayur disemprot pestisida berlebihan—hingga dirinya sendiri pun tak berani memakan sayuran itu.

Ada orang yang beternak ayam hanya agar ayam cepat besar dan telur cepat banyak. Mereka memberi ayam antibiotik dan hormon pertumbuhan, sampai akhirnya mereka sendiri tidak berani makan daging ayam.

Ada orang yang beternak babi demi menghindari kerugian akibat babi sakit atau mati. Akibatnya, terlalu banyak babi sakit dan bangkai babi masuk ke pasar, sehingga mereka sendiri tidak berani makan daging babi.

Ada penjual minuman yang hanya mengejar kepraktisan dan penghematan biaya, lalu menggunakan berbagai bahan kimia sintetis untuk meracik minuman—hingga akhirnya mereka sendiri tak berani meminumnya.

Ada pedagang makanan yang demi menekan biaya, minyak goreng dipakai berhari-hari tanpa diganti, peralatan makan dicuci asal-asalan, sayuran tidak dicuci bersih—hanya direndam sebentar lalu langsung dimasak. Akibatnya, mereka hanya berani makan masakan sendiri, dan tidak percaya pada kebersihan makanan di luar.

Ada perusahaan konstruksi yang membangun jembatan dan gedung hanya demi meraup keuntungan besar. Dalam prosesnya mereka mengurangi bahan dan kualitas. Toh setelah bangunan selesai, mereka tidak akan melewati jembatan itu atau tinggal di gedung itu. Mau jembatan runtuh atau gedung roboh di kemudian hari—yang penting bukan mereka yang tertimpa.

Namun yang lucu, orang yang menanam sayur tetap makan daging babi, makan ayam, minum minuman kemasan, dan makan di luar.

Orang yang beternak ayam tetap makan sayur, makan daging babi, dan minum minuman kemasan.

Orang yang membangun jembatan dan gedung tetap menggunakan fasilitas umum yang dibangun oleh orang lain.

Demi menekan biaya, mereka memproduksi barang yang membahayakan kesehatan orang lain.  Ironisnya, mereka sendiri juga mengonsumsi dan menggunakan produk berbahaya yang dibuat oleh orang lain.

Wahai para pedagang dan pengusaha tak bermoral, coba pikirkan baik-baik. Demi menghemat biaya dan mengejar keuntungan, kalian menggunakan bahan berbahaya untuk membuat makanan dan produk, menganggap nyawa dan kesehatan orang lain seperti rumput liar. Kalian tak peduli bahwa uang yang kalian peroleh itu ditukar dengan nyawa dan kesehatan orang lain.

Yang lebih ironis lagi, kesehatan kalian sendiri pun akhirnya ikut “ditukar” oleh orang lain demi uang.

Niat baik itu seperti bola—ketika dilempar, dia akan memantul kembali.  Begitu pula niat jahat.

Bagaimana kita memperlakukan orang lain, itulah cara dunia akan memperlakukan kita. Jika demi keuntungan kita mengabaikan nyawa, kesehatan, dan keselamatan orang lain, maka orang lain pun akan memperlakukan kita dengan cara yang sama.

Karena pada akhirnya, ini adalah masyarakat yang saling bergantung. Setiap orang memegang satu mata rantai dalam sistem ini. Jika semua orang hanya bertindak demi kepentingan pribadi, suatu hari nanti, sisi gelap masyarakat yang tak terlihat itu akan berbalik menghantam kita sendiri.

Jangan biarkan sedikit keserakahan mencelakakan orang lain sekaligus mencelakakan diri sendiri. Membiarkan orang lain hidup dalam lingkungan yang sehat dan aman, artinya juga membiarkan diri kita sendiri hidup dalam lingkungan yang sehat dan aman.

Jika kamu menyaring minyak dengan kain, orang lain bisa saja mencuci lobster dengan bubuk beracun. Jika kamu curang sedikit, orang lain bisa lebih kejam.

Pernah ada produsen es yang menggunakan es batu bekas membekukan mayat untuk es serut, bengkel curang yang memasang ban berkualitas buruk, dan banyak praktik serupa lainnya.

Bermain licik dan memakai “akal-akalan” memang bisa membuat orang cepat untung dalam waktu singkat. Namun ketika skandal terbongkar, seluruh industri bisa terkena pukulan besar.

Kasus susu bubuk beracun (melamin), es batu “bekas mayat”, daging sapi sintetis, lobster beracun di Tiongkok, hingga industri makanan cepat saji belakangan ini— bukankah semuanya mengalami kerusakan reputasi dan penurunan konsumsi akibat zat berbahaya?

Ini bukan masyarakat yang saling adu racun dan adu kejam. Jika kita mau sedikit lebih peduli pada nyawa, kesehatan, dan keselamatan orang lain, masyarakat ini akan menjadi jauh lebih baik. Menjaga kesehatan orang lain, pada hakikatnya adalah menjaga kesehatan diri sendiri. (jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPR Tekankan Pembayaran THR Harus Terstruktur dan Tepat Waktu
• 18 menit lalutvrinews.com
thumb
230 Nama Bayi Perempuan Pembawa Rezeki dari Al-Qur’an, Penuh Berkah!
• 13 jam lalutheasianparent.com
thumb
Polres Bogor Pasang CCTV di 36 Masjid Untuk Tingkatkan Keamanan Selama Ramadan
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
5 Fakta Menarik Bulan Suci Ramadan yang Perlu Diketahui
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Profil Prihati Pujowaskito, Purnawirawan TNI yang jadi Direktur Utama BPJS Kesehatan
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.